Pembalakan Liar Kawasan Hutan Pengaruhi Hasil Panen Madu
MATARAM – Kerusakan kawasan hutan akibat aksi perambahan dan pembalakan liar di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya Pulau Sumbawa, tidak saja mengakibatkan terjadinya bencana alam, tapi juga berpengaruh besar terhadap penghasilan pembudidaya madu.
“Selama 2016 sampai 2017, produksi air madu menurun dibandingkan tahun 2015 ke bawah. Selain karena faktor cuaca yang terus hujan, juga akibat kerusakan kawasan hutan,” kata Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Hutan Batu Lanteh Sumbawa, Zulmansyah di Mataram, Sabtu (22/7/2017).
Karena itulah diperlukan perhatian serius serta langkah konkrit dari pemerintah termasuk semua kalangan masyarakat untuk memastikan kelestarian kawasan hutan terutama hutan yang menjadi tempat budidaya madu di Pulau Sumbawa bisa tetap terjaga.
Hal itu bisa dilakukan baik melalui pendekatan hukum maupun melakukan edukasi, membangun kesadaran bersama masyarakat, karena kalau langkah tersebut tidak dilakukan, bukan tidak mungkin Pulau Sumbawa yang dikenal sebagai daerah penghasil madu hanya akan menjadi kenangan.
“Menurunnya hasil panen madu di Sumbawa juga karena masih jalan sendiri dalam memasarkan hasil panen sehingga tidak kuat dalam pemasaran,” katanya.
Karena itulah, Zulmansyah meminta kepada masyarakat peternak lebah atau pembudidaya madu di Pulau Sumbawa untuk berkoalisi. Masyarakat jangan sendiri dalam hal pemasaran, meski memang diakuinya butuh proses untuk bisa mengorganisir masyarakat secara baik.
KPH yang memiliki kewenangan struktur sampai bawah juga telah menandatangani MoU dengan dua buyer untuk madu dan lebah yang dihasilkan peternak lebah Pulau Sumbawa dengan menyepakati harga yang kompetitif.
“Untuk diketahui, selama kurun waktu 2007 sampai 2015, produksi madu yang dihasilkan peternak lebah Pulau Sumbawa mencapai 31,9 ton yang telah dikirim ke buyer,” terangnya.