Martabak Telur Mini, Jajanan Kesukaan Anak SD

LAMPUNG – Martabak telur (martel) merupakan makanan yang terbuat dari bahan telur dan tepung terigu yang diolah sehingga menjadi makanan lezat.

Anton, salah seorang penjual mengungkapkan, sesuai namanya martabak telur dibuat dari bahan tepung dan telur yang disediakan dalam adonan khusus yang akan digoreng dalam loyang khusus saat anak-anak SD membeli. Jajanan yang dikenal dengan nama martel mini tersebut oleh sebagian anak-anak lebih disukai disantap dalam kondisi hangat setelah martel mini selesai digoreng, ditaburi mie, sosis atau keju dalam penyajiannya.

“Martabak telur mini yang saya jual memiliki tiga varian rasa berupa mie, sosis dan keju tergantung permintaan dan kesukaan anak-anak ditambah dengan saos tomat dan kecap manis yang saya sajikan dalam pincuk atau wadah kertas nasi atau plastik lengkap dengan tusuk karena martel mini ukurannya memang kecil,” terang Anton, salah satu pedagang martel mini saat ditemui Cendana News dengan sepeda kayuhnya, Sabtu (22/7/2017).

Variasi rasa yang berbeda-beda pada menu martel mini tersebut diakui Anton untuk mencegah kebosanan pada anak-anak yang menyukai jajanan saat di sekolah dan Anton menyebut varian rasa tersebut diubahnya setiap dua hari sekali. Dalam sehari ia menyebut berjualan ke sebanyak tiga sekolah dan berkeliling ke kampung-kampung menyiapkan satu teko adonan yang sudah siap diolah sementara sebagian adonan dan bahan baku dibuatnya secara dadakan.

Bahan baku yang dibawa berupa telur, terigu, penyedap rasa serta air disediakan saat bahan dalam kondisi sudah dibentuk menjadi adonan habis. Sebab ia menyebut pada kondisi ramai dan ada tontonan dirinya kerap kehabisan bahan baku. Meski berjualan martel mini dalam sehari dirinya mampu menjual maksimal 100 loyang atau dengan hasil Rp200 ribu, bahkan terkadang lebih.

Berjualan martel mini diakui Anton sudah dijalankannya sejak empat tahun terakhir bersama dua kakaknya yang juga berjualan martel dan gulali mini. Alat pembuat martel mini yang menggunakan loyang diakuinya cukup praktis karena mudah dibawa menggunakan kendaraan sepeda dan bahan bakar gas elpiji ukuran 3 kilogram diletakkan dalam sebuah kotak khusus di belakang sepeda kayuhnya.

Berbeda dengan Anton, salah satu penjual jajanan anak-anak yang berkeliling dari sekolah ke sekolah dan ke beberapa desa dengan berjualan aneka jenis sosis, nuget dan bakso goreng untuk anak-anak bernama Salman (34), memiliki kreasi untuk menarik minat anak-anak membeli sosis goreng yang dijualnya. Salman yang berjualan menggunakan sepeda motor roda dua mengungkapkan membawa wajan untuk menggoreng dengan bahan bakar elpiji ukuran 3 kilogram.

“Sebagian anak-anak suka menyantap sosis, nuget dan bakso yang saya jual dengan tusuk dari bambu untuk memudahkan anak menyantap lengkap dengan sosis dan kecap,” terang Salman.

Khusus untuk sosis dikreasikan dengan mie yang oleh anak-anak disebut sosis gulung mie yang dililitkan pada sosis lalu digoreng dan diberi olesan saos dan kecap manis. Sosis yang sudah ditusuk dengan bambu tersebut akan digoreng saat anak-anak memesan makanan dengan bahan baku daging dan ikan untuk nuget yang dijualnya.

Salman yang berjualan bersama pedagang jajanan sekolah lain di antaranya bakso ikan serta jajanan lainnya mengaku selain berjualan di sekolah dirinya juga berkeliling ke desa-desa hingga sore hari. Sebanyak 150 buah sosis gulung mie, nuget dan bakso goreng berhasil dijualnya dalam sehari saat dirinya berkeliling dengan harga Rp1.000 per buah.

“Sosis banyak disukai anak-anak karena rasanya yang gurih dan harganya cukup murah sebagai jajanan anak-anak” terang Salman.

Salman menyebut, seperti pedagang lainnya ia menyebut khusus untuk jajanan dengan menyasar anak-anak usia TK dan SD harga yang ditawarkan untuk berbagai jenis jajanan berkisar Rp1000 hingga Rp2.000 per buah atau porsi. Harga yang murah tersebut diakuinya menyesuaikan uang saku pemberian para orang tua di wilayah pedesaan.

Salman penjual sosis gulung mie, nuget dan bakso goreng untuk anak-anak sekolah. [Foto: Henk Widi]
Lihat juga...