Inflasi di NTB Harus Ditangani Cara Struktural

MATARAM — Penanganan masalah inflasi terutama untuk komoditas tertentu yang berlangsung di tengah masyarakat selain dilakukan dengan upaya ad hoc seperti operasi pasar, pasar murah termasuk pemberantasan mafia pangan melalui Satgas pangan, juga harus lebih mengutamakan penangan struktural.

“Selain penangan melalui upaya ad hoc upaya struktural harus lebih dikedepankan dalam upaya penanganan masalah inflasi,” kata Kepala Bank Indonesia Perwakilan NTB, Priyono di Mataram, Senin (31/7/2017).

Sebab penanganan dengan cara ad hoc sifatnya sementara, sementara upaya struktural merupakan upaya berkelanjutan mengatasi masalah inflasi yang terjadi.

Priyono mencontohkan katakanlah untuk komoditas cabai, kenapa harganya naik di bulan tertentu saja, itu kan tidak bisa dijawab dengan upaya OP atau pasar murah, tapi harus dicari akar masalahnya apa, sehingga harga mahal.

“Apakah penanaman harus diatur, sehingga pasokan tetap ada, atau kalau ada pasokan lebih, bagaimana dengan pasokan yang ada bisa digunakan memenuhi kebutuhan di bulan yang kerap mengalami kelangkaan, itu kan harus dijawab dengan struktural,” terangnya.

Tapi, lanjut Priyono, tidak menutup kemungkinan setelah dijawab dengan struktural, masih ada penyesuaian di periode tertentu, yang kita lakukan dengan cara adhok dengan OP, pasar murah.

Terkait keberadaan Satgas pangan, Priyono menilai peran Satgas pangan tetap diperlukan untuk memastikan stok pangan tetap ada dan tidak sampai terjadi kelangkaan, khususnya jelang puasa ramadhan dan lebaran.

Lihat juga...