Disperindagkop DIY Minta Masyarakat Jangan Panik Garam Langka

YOGYAKARTA — Sejumlah konsumen dan pedagang di Yogyakarta mengeluhkan kelangkaan serta kenaikan harga komoditas garam yang melonjak tinggi di pasaran.

Sebagaimana terjadi di beberapa daerah lain di Indonesia, komoditas garam di Yogyakarta sulit ditemukan sejak satu bulan terakhir. Hal itu membuat harga garam melonjak drastis hingga mencapai hampir 3 kali lipat dari sebelumnya.

Berdasarkan pantauan di pasar tradisional Beringharjo Yogyakarta, harga garam jenis krasak tercatat melonjak dari semula Rp3000 per kilogram menjadi Rp8000 per kilogram.

Garam jenis bata beryodium juga mengalami kenaikan drastis dari semula Rp6.000 menjadi Rp10.000 per pak isi 1,5 kilogram. Sedangkan untuk garam jenis halus, mengalami kenaikan harga dari semula Rp1000 per 1/4 kilogram menjadi Rp1500 per 1/4 kilogram.

“Kelangkaan garam ini sudah terjadi sejak satu bulan terakhir. Sebelumnya tidak pernah sampai seperti ini. Puluhan tahun berdagang, baru kali ini saya susah mendapat pasokan garam,” ujar salah seorang pedagang pasar Beringharjo, Yanti Rono (55) asal Godean.

Yanti menuturkan jika biasanya ia mendapat pasokan garam 2-3 ton dari pedagang luar daerah setiap dua hari sekali Namun kini pasokan hanya datang setiap 2 minggu sekali.

Pasokan sendiri berasal dari luar DIY seperti Pati, Surabaya, hingga Rembang. Kelangkaan garam di pasaran itu bahkan membuat sejumlah pedagang adal Sleman, Bantul hingga Wates Kulonprogo, mencari garam ke pasar Beringharjo Yogyakarta.

“Katanya karena stok tidak ada. Banyak panen gagal karena cuaca tidak bagus. Sejauh ini belum ada reaksi apapun dari pemerintah,” katanya Selasa (25/07/2017).

Sementara itu, salah seorang konsumen Astri (39) mengaku menyayangkan kenaikan harga garam ini. Ia menyebut garam merupakan kebutuhan pokok yang tidak bisa digantikan dengan barang lain. Ia pun berharap agar harga garam bisa kembali normal seperti biasabya.

“Ya harapanya bisa normal seperti dulu lagi. Karena kalau garam kan tidak bisa diganti atau menanam sendiri. Jadi mau tidak mau tetap harus beli,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negri, Dinas Perdagangan Perindustrian dan Koperasi (Disperindagkop) DIY, Yuna Pancawati, membenarkan adanya kelangkaan garam khususnya jenis halus di DIY. Ia menyebut kelangkaan itu sudah terjadi sejak seminggu terakhir karena tidak adanya pasokan di pasaran.

“Untuk garam halus memang agak langka, namun untuk yang krasak atau kiloan masih banyak. Walaupun harganya sedikit naik,” katanya.

Pihak Disperindagkop DIY sendiri mengaku masih belum melakukan upaya stabilisasi karena masih melihat situasi di lapangan.

“Sejauh ini kita masih memantau. Belum ada rencana operasi pasar. Kita analisa dulu seminggu ke depan seperti apa. Namun kita minta masyarakat tidak perlu panik karena masih bisa memanfaatkan garam jenis bata atau krasak, walaupun harganya sedikit naik,” katanya.

 

Lihat juga...