Belajar Pewayangan Melaui Program Dolan Museum
SEMARANG — Wayang merupakan warisan budaya Indonesia yang harus terus dilestarikan. Wayang memiliki ciri-ciri khusus dan juga bisa diklasifikasikan. Karena itu belajar mengenai dunia pewayangan adalah hal yang harus dilakukan oleh para generasi muda sebagai langkah untuk melestarikan budaya Indonesia.
Menurut budayawan Semarang, Drs. Aryo Sunaryo, M.Pd., mengatakan wayang memiliki ciri khusus di setiap zaman. Wayang purwa atau wayang kulit merupakan wayang tertua yang syudah berabad-abad yang lalu.
Desain dan ornamen yang ada pada wayang seringkali mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zaman. Contohnya wayang kulit arjuna, sejak dulu hingga sekarang penggambaran tokoh arjuna diubah hanya ornamen yang melekat pada wayang tersebut sering dimodifikasi sesuai zamannya.
“Pengklasifikasian wayang bisa dilihat dari 3 sudut pandang yaitu dari segi cerita, segi pentas, dan segi visual/bentuk. Cerita bisa dibedakan misalnya wayang kulit kebanyak bercerita tentang epos ramayana dan mahabarata, sedang wayang warta banyak bercerita tentang kisah-kisah Yesus.
Dari segi visual/ bentuk, wayang kulit bentuknya seperti tokoh-tokoh kerajaan yang kebanyakan bersifat abstrak. Sedangkan wayang warta lebih bersifat realistik karena tercampur dengan seni barat yang arahnya ke realistik,” kata Aryo, Sabtu (8/7/2017).
Sementara itu, penggiat budaya Semarang dan pengelola Omah Wayang, Krystiadi, S.Sn., mengatakan bahwa sebagai sarana syiar agama, wayang memiliki klasifikasinya sendiri. Dalam syiar agama Islam ada wayang sadat, syiar agama Kristen ada wayang warta, syiar agama Katolik ada wayang wahyu, dan syiar agama Buddha ada wayang Buddha.
Hal ini membuat khasanah dari dunia pewayangan semakin banyak dan semakin menarik sebab ternyata dunia pewayangan memiliki hubungan yang erat dengan agama.
Krystiadi sendiri yang mengaku paham mengenai wayang warta, dan tema diskusi kali ini adalah wayang warta, maka dia lebih banyak menjelaskan tentang sejarah dari wayang warta. Dia menjelaskan, gagasan untuk membuat wayang Kristen sebenarnya sudah ada sejak awal tahun 70-an, tetapi gagasan tersebut belum terealisasi sampai pertengahan tahun 70-an.
Pementasan wayang dengan cerita Alkitab di Kabupaten Klaten pada awalnya dilakukan oleh Sukimin di GKJ Ketandan. Pementasan wayang tersebut bertujuan untuk memeriahkan perayaan Natal tahun 1973. Permintaan pada waktu itu disanggupi Sukimin dengan mementaskan pertunjukan wayang dengan lakon Kelahiran Yesus. Pada waktu itu pementasan masih menggunakan wayang purwa.”
Sementara itu, budayawan karawitan semarang, R.Ng. Suwito, menjelaskan mengenai musik karawitan yaitu musik yang digunakan untuk mengiringi pemetasan wayang. Menurutnya adanya banyak klasifikasi karawitan yang didasarkan pada pementasan yang dilakukan. Seperti, Karawitan Sekar (vokal), Karawitan Gending (instrumen), dan Karawitan Sekar Gending (campuran).
Acara Rembuk Omah Wayang ini diadakan sebagai salah satu bentuk Program Dolan Museum dan sekaligus rangakaian kegiatan HUT Museum Ranggawarsita Semarang. Acara ini dilaksanakan pada hari sabtu (8/7/2017) di pelataran Museum Ranggawarsita dan dihadiri sekitar 100 peserta.
Menurut Ibu Suhatati, salah satu pengelola Museum Ranggawarsita, acara Dolan Museum ini merupakan acara rutin Museum Ranggawasita dan acara ini adalah kali yang ketiga. Dirinya berharap dengan adanya program ini masyarakat ikut andil dalam pelestarian budaya khususnya pewayangan, dan juga semakin antusias untuk datang ke museum.