Prof. Yulianto: Industri Pertanian dan Manufaktur, Menjanjikan

RABU, 14 JUNI 2017

JAKARTA — Fakultas Teknik (FT) Mesin Universitas Indonesia Angkatan 87, tahun ini merayakan reuninya yang ke-30. Mereka merupakan mahasiswa angkatan pertama atau angkatan awal yang merasakan kuliah di kampus baru Universitas Indonesia di Depok, Jawa Barat.

Prof. Ir. Yulianto S. Nugroho, M.Sc., Ph.D., Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia

Guru Besar FT UI, Prof. Ir. Yulianto S. Nugroho, M.Sc., Ph.D., yang merupakan lulusan FT UI Angkatan 1987, mengatakan, secara keseluruhan, pada waktu itu hampir 60 persen mahasiswanya kebanyakan masih berasal dari seputar wilayah Jabodetabek. Namun, sekarang lulusan FT Mesin UI, khususnya Angkatan 87, sudah menyebar ke mana-mana, begitu juga termasuk pilot projectnya.

Secara proporsi, FT Mesin UI Angkatan 87 bisa terhitung sangat bagus dan lengkap, masing-masing ada yang menjadi rektor, guru besar, pengusaha, banyak juga yang meraih gelar doktor. Selain itu, juga ada yang menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan ada yang bergerak dalam bidang swasta, pendidikan, pemberdayaan masyarakat dan transportasi, khususnya dalam pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) di Jakarta.

Dengan rentang usia 49-50 tahun, alumni FT Mesin UI Angkatan 87 masih sangat produktif. Mereka sudah menyebar ke mana-mana. Tak terasa, bahwa di 2017, mereka telah merayakan 30 tahun kebersamaan semenjak pertama kalinya kuliah di Kampus UI Depok.

“Untuk menjadi seorang insinyur yang profesional, setidaknya ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Di antaranya harus benar-benar menguasai bidang ilmunya, kemudian harus mencintai atau menyukai bidang ilmu tersebut. Sehingga, bisa konsisten sesuai bidangnya masing-masing. Dengan demikian, bisa menerapkan ilmunya, baik di dalam kampus maupun di luar kampus,” ujar Prof. Yulianto, saat berbincang dengan Cendana News di Jakarta, belum lama ini.

Prof. Yulianto juga menjelaskan, sebenarnya yang harus dibangun itu salah satunya adalah kemampuan beradaptasi untuk segera dalam waktu yang lebih pendek atau singkat mempunyai pengetahuan, pengalaman, skill untuk bisa berkarya atau menghasilkan sebuah karya. Menurutnya, zaman sekarang ini yang paling menonjol, sebenarnya adalah industri kreatif, sehingga anak-anak muda sekarang berdasarkan pengalaman senior-seniornya banyak yang membangun dan mengembangkan industri kreatif.

Menurut Prof. Yulianto, yang perlu dibangun itu justru kesempatan untuk memadukan antara kemampuan, keterampilan atau skill, teknologi, kreativitas, modal dan pasar, karena pasar industri kreatif di Indonesia besar sekali dan masih sangat menjanjikan.

Sementara itu, terkait kualitas dan daya saing, Prof. Yulianto mengatakan, jika mahasiswa, khususnya lulusan universitas atau perguruan tinggi di Indonesia pada umumnya, secara kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) tidak kalah dengan luar negeri. Misalnya, banyak lulusan FT UI Angkatan 87 sudah mencapai level manajer, sedangkan kalangan akademisi juga banyak yang menjadi doktor dan juga mempunyai jaringan internasional yang relatif baik.

Prof. Yulianto menggaris-bawahi, bahwa sebenarnya ada salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja, yaitu Industri Pertanian atau Perikanan dan Industri Manufaktur. Karena setiap 1 hektare sawah dapat menyerap belasan tenaga kerja, sehingga diharapkan para petani atau nelayan ke depan tidak perlu harus beralih mencari pekerjaan yang lain di luar bidangnya hanya karena alasan memenuhi kebutuhan ekonomi semata.

Prof. Yulianto pun mempertanyakan, mengapa para Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Aparatur Sipil Negara (ASN) yang pendapatannya dipastikan dijamin oleh negara tidak ada yang tertarik bekerja sambilan sebagai petani atau nelayan. Padahal, di sisi lain, sebenarnya negara juga dapat memberikan jaminan terkait penghasilan atau gaji tetap kepada para petani yang konsisten berkerja di sektor pertanian.

“Seandainya para petani atau nelayan itu penghasilan tiap bulannya dijamin oleh negara atau lembaga tertentu alias tidak lagi menggantungkan hidupnya dari hasil penjualan panennya, saya yakin bisa dipastikan akan banyak orang yang berbondong-bondong mau kembali bertani, begitu juga para nelayan” ujarnya.

Prof. Yulianto juga menyebut, Industri Manufaktur merupakan salah satu sektor industri yang paling banyak menyerap atau membutuhkan tenaga kerja. Ia mencontohkan, bahwa membuat sebuah produk gelas saja minimal membutuhkan banyak tahapan mulai desain, bahan dan juga material pendukung lainnya.

Prof. Yulianto menyimpulkan, bahwa sebenarnya prospek atau peluang Industri Pertanian, Perikanan, Manufaktur, Jasa dan juga Industri Kreatif sebenarnya masih bisa dikembangkan di Indonesia, asalkan dengan satu syarat, yaitu dikelola dengan baik dan profesional. (Eko Sulestyono/ Koko Triarko/ Foto: Eko Sulestyono)

Source: CendanaNews

Lihat juga...