Pempek Makanan Tradisional Berbahan Ikan Pilihan Menu Penggugah Selera Saat Bulan Ramadan

SABTU, 17 JUNI 2017
LAMPUNG—Saat bulan Ramadan berbagai jenis kuliner menarik berbahan ikan untuk berbuka puasa menjadi salah satu menu yang diburu oleh masyarakat baik dalam bentuk ikan pepes maupun sudah diolah menjadi bahan makanan lain. Salah satu menu yang paling dicari saat bulan Ramadan di antaranya jenis pempek ikan. 

Berbagai pilihan jenis mpek mpek yang telah dibuat di antaranya mpek mpek isi telor,risoles,kapal selem,model.

Surinah salah satu warga di Dusun Muara Piluk Desa Bakauheni merupakan salah satu pembuat makanan olahan berbahan ikan yang dibuat menjadi berbagai jenis makanan diantaranya pempek berbagai varian seperti pempek kerupuk, pempek lenjer kecil, pempek model,pempek kapal selam, kroket atau risoles isi sayur, tekwan serta rujak tahu.

Wanita kelahiran kota Palembang 46 tahun lalu tersebut mengaku sudah mengenal pempek sejak dirinya tinggal di Palembang Sumatera Selatan dengan menu sehari hari berupa hasil olahan ikan yang dibeli dari sungai Musi berupa ikan belida serta ikan jenis lain.

Semenjak dirinya hijrah ke Lampung dan menikah dengan Zainal salah satu pengurus kendaraan bus yang tergabung dalam serikat pekerja transportasi Indonesia,ia membantu sang suami dengan membuka warung pempek.

Sebagai salah satu penjual pempek asli Palembang, soal kualitas Surinah menyebut tidak pernah menggunakan bahan bahan yang sembarangan bahkan membuat pempek secara serampangan. Ia menyebut sebagai putera daerah Palembang tanggungjawab memperkenalkan makanan tradisional pempek harus dimulai dari warga Palembang asli salah satunya dalam hal pembuatan makanan berbahan ikan tersebut.

Tinggal di dekat lokasi pelelangan ikan Muara Piluk diakuinya memudahkannya mencari bahan untuk pembuatan pempek ikan berupa ikan tenggiri maupun ikan parang serta ikan jolot. Meski demikian dengan susahnya jenis ikan tertentu sebagai bahan dasar membuat pempek Surinah sengaja membuat pempek dari ikan Jolot.

“Ikan Jolot atau dikenal dengan ikan gabus laut memiliki daging yang banyak dengan duri duri yang mudah dipisahkan dan selalu ada di tempat pelelangan ikan beda dengan ikan jenis lain yang kadang sulit mencarinya, kompisisi ikan yang saya sertakan rasanya boleh dicoba di setiap jenis pempek buatan saya,” terang Sarinah saat ditemui Cendana News di Jalan Lintas Pantai Timur Lampung tengah mempersiapkan diri untuk berjualan menu berbuka puasa di warung sederhana miliknya, Sabtu (17/6/2017).

Meski Cendana News tak sempat melihatnya membuat adonan untuk membuat pempek ikan dengan berbagai varian, Surinah menyebut dengan bahan tepung tapioka serta terkadang tepung sagu sebanyak 5 kilogram per hari ia mencampurnya dengan sekitar 2,5 kilogram ikan Jolot.

Ikan Jolot atau gabus laut yang diakuinya berharga cukup murah sekitar Rp15ribu perkilogram hingga Rp20.000 per kilogram tersebut terlebih dahulu dikukus untuk memudahkannya membersihkan duri dan sisik.

Meski demikian saat ada pemesan menginginkan pempek dengan bahan ikan tenggiri atau jenis ikan lain dirinya menyebut akan dilayani dengan syarat siap menyediakan ikan tersebut atau membeli ikan tenggiri sendiri di pasar untuk mempertahankan kualitas.

Jenis ikan jolot dipilihnya selain untuk efesiensi penggunaan modal menentukan harga jual yang terjangkau oleh masyarakat terutama saat bulan Ramadan. Setelah ikan jolot dibersihkan adonan siap dicampurkan dengan tepung tapioka dan dibentuk menjadi berbagai berbagai varian pempek yang akan dijual.

Selama Ramadan permintaan akan risol atau kroket isi sayur dengan kulit adonan tepung bercampur ikan sangat diminati ditambah dengan kuah cuka yang menggugah selera.

Pembuatan adonan untuk bahan pempek yang ditekuninya sejak sepuluh tahun silam menurut Surinah mulai dibuatnya sejak siang hari selama Ramadan sementara saat hari biasa dilakukan sejak subuh. Pada hari normal.

Surinah mengaku hanya membuat sebanyak 2-3 kilogram bahan sementara pada bulan Ramadan bahan 5 kilogram tepung dicampur 2,5 kilogram hingga 3 kilogram ikan jolot selalu habis terjual. Pada saat hari biasa paling minim mampu mendapatkan uang sekitar Rp300.000 dari berjualan pempek.

Sementara sepanjang bulan Ramadan mampu mengantongi uang sekitar Rp500.000 dari hasil membuat pempek ikan. Tambahan pesanan dari keluarga keluarga yang ingin mengadakan acara buka bersama ia pun masih bisa mendapat omzet sekitar Rp600.000 perhari.

“Pesanan pempek ikan masih akan banyak menjelang lebaran karena banyak ibu rumah tangga yang tak sempat membuat kue pempek dan meminta saya membuatnya, ongkosnya tergantung kesepakatan karena ada yang membawa semua bahan mulai ikan hingga tepung dan ada yang terima jadi,”terang Surinah.

Pempek buatannya banyak diminati konsumen dengan mempertahankan kualitas rasa cuka atau dikenal dengan cuko. Cuko yang kental dibuatnya dari bumbu bumbu khusus termasuk gula aren. Surinah bahkan menyebut tak akan berjualan pempek jika dirinya tidak mendapatkan gula aren karena cita rasa cuko menjadi kunci konsumennya menyantap pempek ikan buatannya.

Pada hari biasa dimana pempek digunakan sebagai sarapan ia bahkan menyebut sebagian warga mampir ke warungnya untuk menyantap pempek jenis kapal selam atau model. Saus cair yang kental tersebut menjadi penyemangat menyantap rasa khas ikan jolot yang terasa di lidah sehingga kualitas cuko buatan Surinah tak bisa dibuat sembarangan.

Bahan pembuat cuko merupakan campuran antara asam jawa, bawang putih, cabai rawit, gula aren serta ditambah dengan cuka putih dengan ciri khas rasa yang asam. Sebagian pelanggan menyantap kuah cuko dengan memisahkan cuko dengan mangkuk kecil dan menyantap pempek di tangan kanan sembari menyeruput cuko dan juga terkadang mencelupkan pempek yang disantap dengan kuah di mangkuk tersebut.

Jenis pempek yang dibuat diantaranya pempek kapal selam serta berbagai jenis pempek lain. Pempek yang dibuat tersebut diantaranya mula dari pempek lenjer kecil dengan harga Rp2.000,serta berbagai jenis pempek lain, mulai dari pempek isi telor, pempek kapal selam hingga model dengan harga Rp12.000.

“Harga jualnya bervariasi dan bagi pelanggan yang merasakan rata rata dari mulai Rp 2ribu hingga Rp12 ribu sebagian karena rasa ikannya pas jadi konsumen pas dengan rasanya,”ungkap Surinah.

Selama Ramadan selain berjualan di warung sederhana miliknya, dibantu sang anak ia menyebut juga menjual berbagai jenis pempek di depan Menara Siger Bakauheni. Selain menu pempek berbahan ikan sang anak juga berjualan pepes ikan dan otak otak ikan yang dibantu oleh teman teman sekolah sebagai tambahan untuk uang lebaran.

Sementara itu sang anak yang bekerja di Tangerang mengaku kerap menjual pempek resep ibunya dan terkadang dibuat langsung oleh sang ibu dengan berjualan secara online melalui fasilitas jejaring Facebook.

Selain berbagai jenis pempek ikan ia menyebut selama Ramadan jenis risoles cukup diminati untuk lauk berbuka puasa, selain itu menu rujak tahu juga dibuatnya dengan kuah cuka serta pempek isi telor dan ikan.

Ahmad salah satu pekerja yang menjalankan ibadah Ramadan mengaku kerap membeli pempek model serta rujak tahu sementara sang isteri menyukai menyantap tekwan berbahan ikan jolot tersebut. Saat lebaran ia juga menyebut kerap memesan pempek berbagai jenis kepada Surinah termasuk otak otak berbahan dasar ikan.

Khusus untuk model serta tekwan ia menyebut dengan kuah segar dari udang kerap digunakan untuk menu berbuka puasa yang menyegarkan.

“Seperti kuah tekwan pempek model dibuat dengan campuran mie putih, kuah rasa udang dan ikan, taburan irisan bengkuang yang bisa disantap dengan pempek jenis lain,” terang Ahmad.

Surinah pembuat berbagai makanan berbahan ikan jolot menjadi mpek mpek dan tekwan.

 Jurnalis: Henk Widi/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi

Source: CendanaNews

Lihat juga...