Musim Liburan, Penumpang KRL Naik Sepuluh Persen

DEPOK – Direktur Operasional PT. KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) mengatakan, bahwa terdapat peningkatan volume penumpang KRL sebanyak sepuluh persen pada hari lebaran pertama tahun 2017 dibandingkan pada tahun lalu.
Pada hari lebaran pertama tahun 2017 PT. KCJ melayani sebanyak 590.000 jiwa pengguna jasa angkutan KRL. Sedangkan pada 2016, PT. KCJ melayani 535.000 jiwa pengguna jasa angkutan KRL. Jumlah penumpang pada musim lebaran tahun 2017 diprediksi akan meningkat hingga akhir pekan ini. Dalam angkutan lebaran tahun ini, PT. KCJ melayani 75 stasiun dan menyediakan sebanyak 186 unit  Vending Machine dan 39 Point Of Sales yang melengkapi fungsi transaksi loket di stasiun pemberangkatan.
Dalam musim lebaran kali ini, PT. KCJ tetap mengoperasikan sebanyak 918 perjalanan KRL per hari. Subakir, Direktur Operasional PT. KCJ mengatakan, bahwa tidak diperlukan penambahan jumlah pemberangkatan KRL karena menurutnya jumlah penumpang saat liburan tidak lebih banyak daripada jumlah penumpang di hari kerja seperti biasa.  “Kepadatan di stasiun karena penumpang musiman yang masih menggunakan Tiket Harian Berjaminan (THB),” ujar Subakir ketika dihubungi oleh Cendana News pada Rabu (28/6).
Hal itu menyebabkan peningkatan aktivitas penumpang di stasiun pemberangkatan karena penumpang harus mengantri untuk membeli tiket, atau mengisi tarif dan pengembalian jaminan. Lebih lanjut lagi Subakir mengimbau, pengguna jasa angkutan KRL agar melakukan transaksi menggunakan Kartu Multi Trip (KMT). “Kalau ingin menggunakan THB lebih baik pakai THB PP (pulang-pergi)” ujar Subakir.
PT. KCJ mengimbau pengguna jasa angkutan KRL untuk dapat memahami ketentuan dan tata tertib menggunakan KRL. Beberapa peraturan itu di antaranya dilarang membawa benda berbau menyengat, barang mudah terbakar, senjata api, senjata tajam, membuang sampah sembarangan, duduk di lantai KRL atau menggunakan kursi jongkok, dilarang berjualan, dan dilarang mengamen.
Selain itu juga sangat tidak dianjurkan untuk bersandar di pintu-pintu karena hal tersebut dapat membahayakan keselamatan pengguna jasa angkutan KRL. Bagi pengguna jasa yang akan naik juga diimbau agar mendahulukan pengguna jasa yang akan turun terlebih dahulu.
Dari hasil pantauan Cendana News, banyak penumpang musiman yang membuang sampah di lantai KRL. Padahal hal itu merupakan satu larangan bagi penumpang dalam menggunakan jasa angkutan KRL. Sekalipun ada petugas On Train Cleaning (OTC) diperlukan kesadaran pengguna jasa angkutan KRL untuk menjaga kebersihan KRL. Haidar Usman, seorang pengguna KRL mengatakan, perlu satu upaya dengan menambah rambu-rambu yang melarang untuk buang sampah di KRL
“Karena mereka musiman kan Mas, jadi mereka nggak tahu banyak apa yang kami ketahui,” kata pengguna jasa angkutan KRL Bogor-Sudirman seraya mengatakan bahwa di zaman KRL Pakuan Ekspress disediakan tempat sampah di ujung-ujung kereta. “Atau di stasiun juga perlu diberikan pemahaman-pemahaman dari announcer yang bertugas,” pungkas Haidar.
Sementara  itu, Agus Fitriono menilai bahwa masih kurang ada kesadaran dari pengguna jasa angkutan KRL mengenai kebersihan di rangkaian KRL. Agus menyesalkan karena sangat sulit untuk ditertibkan.
“Pernah diingatkan malah menjawab. Untuk apa petugas kebersihan, kan mereka dibayar untuk membersihkan sampah. Gitu,” pungkas Agus.
Lihat juga...