Keraton Solo Gelar Kirab Malam Selikuran

JUMAT, 16 JUNI 2017

SOLO — Menyambut datangnya malam turunnya Alquran atau malam lailatul qadar, Keraton Kasunanan Surakarta, Jawa Tengah, menggelar kirab malam selikuran atau malam kedua puluh satu di bulan Ramadan.

Tradisi malam selikuran sendiri sudah dilakukan sejak berdirinya Keraton Solo,  yakni dengan kirab seribu nasi tumpeng  lengkap dengan prajurit yang membawa lampu ting, sebagai ciri khas Keraton Surakarta. “Kirab ini sebagai simbol untuk menyambut datangnya malam seribu bulan. Sebagai generasi Kerajaan Mataram Islam, kegiatan ini rutin digelar setiap tahun,” ujar KRT Siswantodipuro, di sela kirab, Kamis (15/6/2017), malam.

Menurut KRT Siswantodipuro, helatan malam selikuran diawali dengan kirab prajurit, abdi dalem, serta para sentana dalem (keluarga keraton) dengan berjalan dari keraton menuju pendapa taman Sriwedari Solo. Kirab berjalan sekitar 3 kilometer dari Keraton Kasunanan Surakarta.

Barisan terdepan kirab  adalah prajurit musik keraton sebagai dirigen serta cucuk lampah (pembuka jalan) barisan kirab. Disusul para sentana dalem dan kerabat keraton, serta abdi dalem yang memanggul nampan berisi seribuan nasi tumpeng. “Barisan ratusan lampu ting menjadi ciri khas malam menyambut lailatul qodar. Kirab juga berjalan menyisiri jalan Slamet Riyadi Solo,” ulasnya.

Setelah sampai di Pendapa Taman Sriwedari, peserta kirab berkumpul bersama ratusan warga untuk bersama sama memanjatkan doa, yang dipimpin oleh pemuka agama Keraton. Doa bersama untuk  memohon berkah dan ampunan kepada Allah SWT. “Setelah didoakan, tumpeng nasi beserta lauk pauk yang sebelumnya dikirab dibagikan kepada masyarakat untuk dimakan bersama atau dibawa pulang. Masyarakat sudah hafal, jika malam selikuran pasti juga banyak sudah menunggu,” imbuh Siswantodipuro.

KRT Siswantodipuro

Makna kirab malam selikuran sendiri adalah sebagai syiar agama Islam, untuk menyambut malam turunnya kitab suci umat Islam, yakni Alquran.  Turunnya kirab suci tersebut juga disimbolkan dengan lampu ting yang dibawa selama kirab. “Lampu ting merupakan simbol penerangan, yang artinya turunnya Alquran dapat menjad penerang kehidupan bagi seluruh alam,” pungkasnya. (Harun Alrosid/ Koko Triarko/ Foto: Harun Alrosid)
Source: CendanaNews

Lihat juga...