Silaturahmi dan Ziarah Warnai Hari Suci Galungan di Lampung Selatan

RABU, 5 APRIL 2017

LAMPUNG — Hari suci Galungan umat Hindu yang dimulai sejak pagi, pukul 07:00 WIB menjadi hari raya yang penuh makna bagi penganut yang berada di wilayah kecematan Ketapan, Lampung Selatan. Selain simbol kemenangan dharma melawan adharma yang telah dijalani sebelumnya dalam catur Brata Penyepian 1 Saka 1939, juga menjadi ajang meningkatkan silaturahmi.

Silaturahmi antar warga dan suasana desa selama Galungan

“Bagi kami Galungan menjadi hari raya yang penuh makna untuk mempererat persatuan antar keluarga dan tentunya bisa semakin meningkatkan keimanan kami sebagai umat Hindu dalam relasi dengan Tuhan Yang Maha Esa atau Sang Hyang Widi dan sesama,” terang Gusti Ngurah Aria, Warga Dusun Yogaloka Desa Sumur Kecamatan Ketapang saat ditemui Cendana News, Rabu (5/4/2017).

Setelah melakukan peribadatan di Pura Pusekh, ia mulai menunggu keluarga lainnya untuk berdoa bersama di keluarga yang paling dituakan. Sebagai keluarga yang dituakan dan memiliki pura sanggah yang besar, Gusti Ngurah Aria mengaku sebagian adik adiknya bersama isteri dan anak anaknya mulai berkumpul dan berdoa bersama.

“Tradisi saling mengunjungi dan saling maaf memaafkan bahkan masih menjadi kegiatan pokok saat Galungan. Sementara kegiatan atau aktifitas rutin warga masih dilakukan di rumah masing masing untuk saling menerima kunjungan atau tamu,” sebutnya.

Gusti Ngurah Aria, warga Dusun Yogaloka Desa Sumur Kecamatan Ketapang seusai sembahyang di pura sanggah

Salah satu adiknya, Gusti Ketut Perwira (32) mengungkapkan, sebagai anak bungsu dan orangtua sudah tiada, kakak tertua menjadi pengganti orangtua. Setelah keluarganya berdoa di Pura pusekh atau pura umum yang dipimpin oleh Pemangku Yesi, ia sejenak berdoa di rumahnya dan selanjutnya berkumpul di rumah sang kakak.

“Tradisi saling kunjung ke keluarga tertua masih kental dilakukan di Dusun Yogaloka dengan mayoritas warganya memeluk agama Hindu sementara bagi keluarga yang berada di wilayah lain akan melakukan tradisi pulang kampung atau mudik saat Galungan,” jelasnya.

Gusti Ketut Perwira menyebut dari sekitar lima anggota keluarga sebagian mengajak serta anggota keluarga termasuk anak anak. Meski seharusnya libur namun ia mengungkapkan karena sang anak yang duduk di SMP sedang menjalani Latihan Ujian Sekolah terpaksa tidak libur.

“Sebelumnya bisa berkumpul semua saling maaf memaafkan dan makan bersama tapi mungkin siang nanti baru bisa berkumpul semua karena sebagian ada yang belum pulang,” ungkap Gusti Ketut Perwira.

Suasana sembahyang di pura sanggah

Selain berkumpul bersama, saat Hari Suci Galungan Gusti Ketut Perwira mengaku kegiatan doa di Pura Dalem yang berada di dekat makam juga dilakukan. Sebagian anggota keluarga memanfaatkan perayaan Galungan untuk berziarah ke makam keluarga dan mengirim sesaji dan juga membersihkan makam sebagai simbol bakti dan penghormatan kepada leluhur.

Ia mengungkapkan ziarah dilakukan agar keluarga yang masih hidup bisa mengenang dan masih merasa menjadi bagian anggota keluarga yang sudah meninggal.

Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Lihat juga...