SABTU, 15 APRIL 2017
SLAWI — Pesantren Bisnis Indonesia (PBI) merupakan sebuah komunitas yang menginginkan masyarakat Indonesia khususnya warga Muslim untuk bisa tumbuh menjadi seorang pengusaha. Pebisnis yang diinginkan bukan hanya mendapatkan uang yang halal, tetapi juga akhirat. Prinsipnya karakter bisnis bertakwa.
![]() |
| Suasana pelatihan dasar. |
Basic training yang ke -9 ini diadakan pada 14-16 April 2017 bertempat di Gedung YAUMI, Kabupaten Tegal yang diikuti oleh sekitar 150 peserta dari eks Karesidenan Pekalongan, bahkan ada juga dari luar daerah seperti dari Bekasi. Basic training atau pelatihan dasar ini dilakukan setiap dua bulan sekali.
“Bulan depan tanggal 16-18 Mei 2017 akan diadakan di Jogja dan 26-28 Mei di Semarang,” kata Taher Wibowo Pengurus Besar Departemen Diklat Pesantren Bisnis pada Cendana News Sabtu 15-4-2017.
Aktivitas dalam kegiatan ini diadakan dari jam 03.00 hingga pkl 22.00 WIB dengan berbagai macam materi, dari mulai pendidikan kemandirian usaha tanpa modal Bank (tanpa riba), metode pengembangan bisnis dengan coach-coach bisnisnya kebanyakan dari alumni yang sudah menjadi pengusaha sukses.
“Pelatihan dasar ini sendiri mempunyai dititikberatkan bahwa bisnis bukan saja mengejar materi sebanyak-banyaknya, tapi tugas manusia sebagai seorang Khalifah, yang bertanggungjawab dengan keluarga dan masyarakat luas,” tuturTaher.
Dia menambahkan bahwa Pesantren Bisnis Indonesia (PBI) terbentuk baru Agustus 2016. Ini merupakan gerakan membangun mindset pengusaha Muslim. Seorang muslim itu harus kaya, dan setelah kaya maka amal sholeh sebanyak-banyaknya tidak hanya 2,5% saja tapi lebih dari itu.
Setelah peserta lulus dari Basic training ini maka akan diikutkan BCB basic caracter building yang direncanakan tanggal 19-22 Mei. Dan sejauh ini PBI sudah terbentuk di -+ 13 DPW Pesantren Bisnis se Indonesia. Banyak Program yang sudah dilakukan antara lain, sedekah Jum’at, donasi untuk teman-teman yang kena musibah dan program sosial lainnya.
Ada juga training Task Force, dan Strong Leadership yang menjadi agenda terakhir pola pelatihan. Pada jenjang Task Force ditekankan pada pemberian materi penunjang bisnis dan pendampingan bisnis seperti bisnis coach.
Sedangkan pada jenjang Strong Leadership adalah bagaimana memperbesar skala bisnis, yang tadinya kecil menjadi besar dengan tidak menggunakan dana pinjaman perbankan atau riba lainnya.
Sementara itu, Nur Khamid (34) peserta pelatihan asal Brebes mengatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat, banyak ilmu-ilmu yang didapatkan. Seperti pembuatan goal setting yaitu membuat suatu perencanaan dengan mengacu jangan waktu yang harus dilaksanakan.
Setelah itu membangun kebersamaan dalam keluarga. Bisnis akan berkembang pesat jika suami dan istri bersatu mengambangkan bisnis, dan juga persamaan doa antara suami dan istri.
“Yang paling penting di pesantren ini adalah ditekankan nilai ketakwaan, tidak saja menjadi pengusaha yang sukses, tapi menjadikan pengusaha muslim sukses dengan prinsip-prinsip ketaqwaan,” ungkapnya Nur Khamid.
Sedangkan Muhsori (32) selaku alumni pelatihan dasar asal Semarang ini mengaku selalu aktif hadir dimana kegiatan PBI ada, untuk membantu panitia. Dirinya menambahkan alasannya aktif karena setiap kali hadir akan mendapatkan ilmu baru, Karena banyak coaching-coaching bisnis dari pengusaha yang sudah sukses lainnya.
“Bagi teman-teman yang saat bergabung masih mempunyai beban hutang juga mendapat pendampingan sampai bisnisnya berkembang sehingga hutangnya menjadi lunas,” papar Mushori.
![]() |
| Taher Wibowo. |
Jurnalis: Adi Purwanto/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Adi Purwanto
Source: CendanaNews

