SABTU, 1 APRIL 2017
JAKARTA — Ketua Pokja Kampanye Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) DKI Jakarta, Dahlia Umar, menilai jelang Putaran II Pilkada DKI pada 19 April mendatang, selalu terjadi kampanye hitam yang menjadi konsumsi publik dan bisa mengarah pada perpecahan masyarakat.
![]() |
| Dahlia Umar |
Menurut Dahlia, jika ada kampanye hitam atau black campaign dari salah satu Pasangan Calon Gubernur Wakil Gubernur DKI, semestinya dibuka secara transparan ke publik. Itu keyakinan pihaknya sebagai penyelenggara pemilu. “Kalau memang konsekuensi dari perdebatan itu akhirnya bisa mengungkapkan soal kampanye hitam dari Paslon tertentu, dan itu adalah fakta, ya tidak boleh ditutup-tutupi,” ujar Dahlia, di Warung Daun, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (1/4/2017).
Dahlia berpendapat, publik tidak akan berkonflik kalau tidak di ‘Trigger’ dan diintervensi dari elite politik. Artinya, tidak akan ada keributan di akar rumput, kalau tidak diinisiasi oleh elit politik. “Perselisihan di akar rumput, yang salah bukan warga, tapi dari pejabat elit politik itu sendiri. Masyarakat kelas bawah tidak akan bergejolak kalau para elit politik tidak mentrigger. Nah, itu harus pertanggungjawabkan,” katanya.
Untuk itu, Dahlia meminta elit politik bisa mengkondisikan situasi ini, supaya pilkada putaran kedua nanti akan menjadi pilkada yang sehat, santun. Boleh berdebat, asalkan jangan sampai mengarah pada fitnah dan hasut. “Menurut saya, itu yang menjadi prioritas pejabat politik kita,” katanya.
KPUD berharap, elit politik, baik pasangan calon dan tim suksesnya, maupun aparat keamanan memikirkan hal itu, karena hal tersebut telah diatur dalam UU, sehingga hasilnya tidak akan muncul potensi kekerasan yang bisa memecah anak bangsa. “Setiap paslon itu diberikan kesempatan untuk kampanye, namun kampanye itu harus menyampaikan program visi misi calon, itu yang harus dikemukakan, bukan hal-hal lain yang menjadi kontra produktif terhadap kampenya itu,” tutupnya.
Jurnalis: Adista Pattisahusiwa/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Adista Pattisahusiwa