RABU, 5 APRIL 2017
JAKARTA — Segenap masyarakat Indonesia harus memahami kondisi geopolitik saat ini dan memiliki semangat nasionalisme guna menghadapi tantangan bangsa hari ini. Ada sejenis ancaman yang tidak menggunakan kekuatan senjata yang mengancam kedaulatan bangsa.
![]() |
| Mantan Menteri Koordinator Perekonomian, Prof. Dorodjatun Kuntjoro Jakti, dalam acara Peluncuran Buku Nilai Keindonesiaan di Aula Terapung, Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. |
Pernyataan itu disampaikan oleh Prof. Dorodjatun Kuntjoro Jakti dalam acara peluncuran buku Nilai Keindonesiaan yang digelar di Aula Terapung, Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Rabu (5/4/2017).
Mantan Menteri Koordinator Perekonomian pada Kabinet Gotong Royong itu menyatakan, jika hari ini Indonesia menghadapi penjajahan model baru. Tidak lagi penjajahan dengan kekuatan bersenjata, tapi penjajahan melalui sosial media, teknologi canggih yang membuat masyarakat asyik dan justru melupakan nilai-nilai kesatuan dan persatuan bangsa.
“Hari ini masyarakat lebih terlihat menikmati fasilitas-fasilitas canggih seperti tablet atau gadget yang mumpuni. Sudah sangat jarang sekali saya lihat masyarakat yang berhimpun atau jaga ronda bersama warga lain di suatu lingkungan,” ujarnya di depan puluhan hadirin yang memadati ruangan acara itu.
Ia juga mengatakan, hari ini masih banyak masyarakat Indonesia yang belum bisa dikatakan sejahtera, tapi permainan-permainan di alat canggih itu mampu membuat pemakai atau pemainnya membelanjakan uangnya dalam bentuk tabungan atau pulsa untuk terus menikmati permainan itu.
“Dengan mudahnya orang yang saya lihat tengah bermain permainan melalui handphone canggih mereka itu membelanjakan pulsanya atau rekeningnya, untuk ditukarkan kode atau sejenis itu agar mereka lebih mudah memainkan permainan tersebut dan lebih menang daripada yang lain,” tambahnya.
Menurut Dorodjatun, itu justu membuang-buang kekayaan bangsa kita yang ternyata dikirimkan ke negara pemilik atau pencipta permainan itu.
“Kita tidak tahu siapa pembuat permainan itu dan dari negara mana dia berasal. Tapi, itu sudah cukup menyita perhatian kita, memecah semangat berkumpul atau berhimpun masyarakat kita, dan kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan setelah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan itu,” tegasnya.
Jurnalis: Bayu A. Mandreana / Editor: Satmoko / Foto: Bayu A. Mandreana