Peternak Manfaatkan Limbah Pertanian untuk Penggemukan Sapi

KAMIS, 16 MARET 2017

LAMPUNG — Wilayah pedesaan yang masih memiliki lahan luas untuk pertanian menjadi peluang bagi peternak skala kecil menengah dengan ketersediaan pakan dari limbah pertanian. Salah satu petani sekaligus pemilik ternak sapi di Desa Tamansari Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan, Supardjo (40) mengungkapkan, pakan untuk ternak sapi yang berjumlah empat ekor miliknya sebagian berasal dari pakan olahan janggel jagung, jagung giling, tetes tebu serta rumput segar dan bekatul. 

Jerami yang dimanfaatkan untuk pakan ternak

Meski demikian saat masa panen, ia menggunakan pakan ternak dari jerami yang melimpah. Selain masih bisa diperoleh secara gratis, potensi pakan dari limbah tersebut bisa memberinya keuntungan dari usaha penggemukan sapi selama beberapa tahun.

Supardjo kerap mencari jerami padi dengan menggunakan mobil bersama beberapa pekerja. Selama ini, jerami yang tak dimanfaatkan oleh petani, hanya dibiarkan bergitu saja bahkan sebagian dibakar.

“Saya selalu menyiapkan stok hampir lima ton jerami untuk persediaan saat musim kemarau saat pakan segar sulit diperoleh,”ungkap Supardjo kepada Cendana News, Kamis (16/3/2017).

Selain jerami, limbah pertanian yang masih dipergunakan oleh beberapa peternak diantaranya limbah pengolahan jagung. Tongkol yang sudah dipisahkan dari biji jagung tersebut dipergunakan untuk campuran pakan ternak sapi dikenal dengan “jenjet”.

Kebutuhan akan jenjet bisa diperoleh dari pengusaha pengolahan jenjet yang ada di Desa Sripendowo Kecamatan Ketapang dengan membeli sekitar 1 ton per bulan dengan harga sekitar Rp100 ribu per kuintal atau sekitar Rp1 juta per ton.

Jenjet jagung diakuinya memiliki kandungan protein kasar sekitar 3 persen dan total nutrisi tercerna oleh ternak sekitar 48 persen. Namun kandungan nutrisi tersebut masih bisa ditingkatkan dengan melalui proses fermentasi menggunakan campuran urea dan molasses untuk kebutuhan pakan.

Tambahan pakan dari sumber lain juga diakui Supardjo diberikan untuk menambah bobot pada ternak sapi miliknya karena ransum yang diberikan bertujuan untuk meningkatkan berat daging ternak sapi miliknya. Selain melakukan upaya peternakan secara mandiri, Supardjo juga kerap melakukan pelatihan untuk peningkatan hasil peternakan dan pemanfaatan pakan ternak bersama para peternak lain dan saling bertukar pikiran.

Ciptakan Lapangan Pekerjaan Kurangi Pengangguran di Pedesaan

Keberadaan limbah pertanian memberi lapangan kerja tersendiri bagi para pencari jerami. Salah satunya Sudio (35). Ia mengaku proses mencari jerami tersebut dilakukan berdasarkan pesanan dari para peternak dengan sistem timbang. Saat ini untuk sekitar 100 kilogram jerami dibeli oleh para peternak dengan harga bervariasi dari mulai 5 hingga 10 ribu rupiah.

Bagi karyawan pengusaha peternakan skala kecil di wilayah pedesaan, aktifitas mencari jerami menjadi penghasilan tambahan. Sistem kerja harian dengan upah sekitar 70 hingga 100 ribu per hari termasuk uang makan bisa menjadi tambahan dari gaji bulanan sekitar Rp1 juta dari mengurus sapi milik pengusaha ternak sapi.

“Kami sehari hari memang bekerja untuk mengurus sapi tapi saat kebutuhan akan pakan dari jerami sedang diperlukan maka pekerja ikut mencari jerami di lahan sawah yang sedang panen,”terang Sudio.

Peternak lain di Desa Sumbersari Kecamatan Sragi, Siswanto (45) mengungkapkan kebutuhan akan pakan ternak sapi miliknya yang berjumlah puluhan ekor dan merupakan jenis sapi pedaging selalu bisa diperoleh dari limbah pertanian, baik tebon jagung serta jerami.

Meski demikian untuk meningkatkan kualitas daging sapi dan bobot, makanan tambahan juga masih diperlukan sebagai penguat, diantaranya bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, katul, tepung darah, tepung ikan, tepung daging serta makanan tambahan lain.

Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Lihat juga...