RABU, 1 MARET 2017
JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat kembali merilis perkembangan terbaru terkait dengan Nilai Tukar Petani (NTP) sepanjang bulan Februari 2017 yaitu sebesar 100,33 persen atau mengalami penurunan sebesar 0,58 persen apabila dibandingkan dengan NTP pada bulan sebelumnya atau Januari 2017.
![]() |
| Perkembangan Nilai Tukar Petani. |
Menurut keterangan Suhariyanto, Kepala BPS Pusat, salah satu penyebab terjadinya penurunan NTP kerena Indeks Harga yang Diterima Petani (LT) mengalami kenaikan sebesar 0,24 persen. Angka tersebut lebih kecil dibandingkan dengan Indeks Harga yang Dibayar Petani (LB) yaitu sebesar 0,34 persen.
“Sepanjang bulan Februari 2017, NTP Provinsi Jawa Timur tercatat mengalami penurunan terbesar, yaitu sebesar 1,27 persen apabila dibandingkan dengan penurunan NTP di semua provinsi lainnya di Indonesia,” demikian dikatakan Suhariyanto, Kepala BPS Pusat, pada saat jumpa pers di kantornya, Rabu (1/3/2017).
“Begitu juga sebaliknya, sepanjang bulan Februari 2017, NTP Provinsi DKI Jakarta tercatat mengalami kenaikan tertinggi, yaitu sebesar 1,71 persen apabila dibandingkan dengan kenaikan NTP provinsi lainnya di Indonesia,” kata Suhariyanto kepada wartawan di Kantor BPS Pusat Jakarta.
BPS Pusat juga melaporkan bahwa sepanjang bulan Februari 2017 telah terjadi inflasi di wilayah pedesaan yaitu tercatat sebesar 0,38 persen. Salah satunya karena disebabkan adanya kenaikan seluruh indeks kelompok penyusun indeks konsumsi rumah tangga.
![]() |
| Perkembangan Nilai Tukar Petani. |
BPS Pusat melaporkan terkait perkembangan Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) secara nasional sepanjang bulan Januari 2017, yaitu tercatat sebesar 109,62 atau mengalami penurunan sebesar 0,56 persen dibandingkan dengan NTP pada bulan sebelumnya atau Januari 2016.
Jurnalis: Eko Sulestyono / Editor: Satmoko / Foto: Eko Sulestyono
