SELASA, 14 MARET 2017
PONOROGO — Mengirim doa untuk kerabat yang sudah meninggal sudah menjadi salah satu adat istiadat di Ponorogo. Namun, acara kirim doa ini berbeda dari biasanya. Pasalnya terdapat beberapa loyang yang berisi nasi memiliki nama tersendiri. Mulai dari yang pertama ada sekul suci ulam sari yang berisi nasi uduk dengan lodeh ayam di tengahnya.
![]() |
| Sekul suci ulam sari. |
Khusus sekul suci ulam sari ini, harus ada dua loyang. Hal ini dimaksudkan untuk mengirim doa kepada baginda Rasulullah SAW. Sekul sendiri berarti nasi, suci berarti suci, ulam bermakna lauk dan sari bermakna isi. Jadi, maksud dari sekul suci ulam sari, yaitu loyang yang berisi nasi dan lauk yang suci untuk Nabi Muhammad SAW.
Sesepuh Desa Kunti, Kecamatan Bungkal, Ponorogo, Partimah (85) menjelaskan, ada pula loyang muli luhur. Berisi nasi uduk satu piring lengkap dengan lauk pauknya, juga ada jenang abang atau bubur merah yang terbuat dari beras dan gula merah.
“Ada pula kue apem, biasanya dimaksudkan untuk kirim doa,” jelasnya kepada Cendana News saat ditemui di rumahnya, Selasa (14/3/2017).
Dilanjutkan loyang ketiga, ada sembilan kepal nasi uduk dan lodeh tempe ini dimaksudkan untuk kirim doa bagi kerabat yang sudah meninggal dunia. Terakhir loyang keempat, ada lima kepal dan tujuh kepal nasi uduk beserta lodeh tempe.
“Sembilan itu untuk setiap hajatan orang yang meninggal, kalau lima untuk hari pasaran Jawa seperti Pon, Wage dan seterusnya, kalau tujuh itu tujuh hari Senin-Minggu,” cakapnya.
Adat istiadat ini tetap dijaga oleh masyarakat, menurut Partimah, kirim doa seperti ini untuk meringankan beban siksa kubur yang dialami oleh kerabat yang sudah meninggal. Acara kirim doa ini digelar mulai dari tiga hari, empat hari, lima hari, enam hari, tujuh hari, 40 hari, 100 hari dan setiap 1000 hari setelah kerabat tersebut pada hari pertama meninggal.
“Meski banyak nasi yang harus dipersiapkan nantinya juga tidak akan mubadzir, ini untuk undangan yang datang,” tukasnya.
Usai acara kirim doa, nantinya nasi-nasi tersebut dibagikan kepada para undangan yang hadir dengan dibungkus daun pisang secara adil. Pembagian lauk dan nasi harus sesuai dengan jumlah undangan.
![]() |
| 12 nasi uduk perwakilan hari. |
“Ini juga dimaksudkan untuk membagi berkah kepada setiap undangan yang sudah ikut mengirim doa,” pungkasnya.
Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor: Satmoko / Foto: Charolin Pebrianti
