Manis Gurih Dawet Telasih Khas Pasar Gede Solo

SABTU, 25 MARET 2017

SOLO — Sebagai salah satu kota kuliner di Indonesia, Kota Solo tak diragukan lagi keanekaragaman makanan dan minumannya. Mulai dari masakan bernuansa manis, pedas, dan gurih, semuanya ada di kota Spirit of Java tersebut. Berkunjung ke Solo, rasanya juga belum nikmat jika tidak mampir ke Pasar Harjanagoro atau sering disebut Pasar Gede, dan menikmati dawet telasih.

Butiran biji telasih, ciri khas dawet telasih Pasar Gede, Solo

Meski tergolong pasar tradisional, tapi jangan salah. Pengelolaan, penataan dan proses jual beli yang ada di dalam sudah modern. Nah, jika ingin menikmati makanan (jajanan) khas pasar ini, tidak perlu susah karena semua orang di Pasar Gede tahu jika dawet telasih adalah jawabannya. Ini karena di pasar  tradisional lain meski ada pedagang dawet, namun tidak menjual dawet telasih seperti di Pasar Gede.

Riwayat keberadaan dawet telasih di Pasar Gede cukup  panjang, karena sudah berjalan hingga tiga generasi. Dawet Telasih menjadi ciri khas tersendiri, karena jajanan ini mempunyai kedekatan tersendiri dengan sejarah berdirinya pasar yang  dibangun oleh Belanda pada 1930 itu. Pasar Gede mengalami kerusakan pada 1947, karena serangan Belanda dan diperbaiki kembali oleh Pemerintah pada 1949. “Saya generasi ketiga. Mulai dari Mbah, Ibu  dan sekarang saya lanjutkan,” ucap Rut Tulus Subekti, penjual dawet telasih, mengawali obrolan dengan Cendana News, Sabtu (25/3/2017).

Awal pertama Dawet Telasih Pasar Gede, hingga kini belum diketahui secara pasti. Namun dari berbagai pengakuan pedagang maupun generasi yang meneruskan, jajanan ini hadir melengkapi berbagai kebutuhan pokok lainnya sejak awal didirikannya pasar tradisional tersebut. “Saya saja sudah 17 tahun, ibu saya 30 tahun. Dan, Simbah saya lebih lama lagi,” terang perempuan 47 tahun tersebut.

Utik saat melayani pelanggannya

Menjadi generasi ketiga berjualan Dawet Telasih Bu Dermi, Pasar Gede, perempuan yang akrab dipanggil Utik itu mengaku belajar banyak untuk mempertahankan cita rasa dawet miliknya. Menjajakan kuliner  yang menyajikan bahan-bahan seperti santan, biji telasih, cendol, jenang ketan hitam, jenang sumsum putih, dan  tape ketan, diakuinya tidak mudah. Sebab, berbagai bahan-bahan itu tidak boleh ada kendala, termasuk rasa. “Makanya untuk santan, saya fresh terus. Untuk gula, saya pakai gula murni tanpa campuran apapun. Termasuk untuk  warna hijau cendol dari bahan alami juga, yakni perasan daun siji,” ungkap Utik.

Perempuan asli Solo itu berani memastikan, jika jajanan yang disediakannya benar-benar sehat. Sebab, bahan baku Dawet Telasih dibuat dengan cara aman dan sehat. “Jadi selain segar, pasti sehat karena memang bahannya alami juga. Ini yang membuat pelanggan banyak yang tertarik,” jelasnya sambil menerangkan menggunakan bahan alami, ada kelemahannya, karena warna tidak sebagus menggunakan pewarna buatan.

Dengan mempertahankan berbagai bahan alami dan cita rasa, Dawet Telasih Bu Dermi tak pernah sepi pembeli. Pelanggan tidak hanya masyarakat lokal yang  pergi belanja ke Pasar Gede untuk membeli berbagai kebutuhan pokok, tetapi wisatawan dari berbagai kota di Indonesia banyak yang ingin mencicipi kuliner bersantan yang satu ini. “Untuk turis asing juga banyak. Biasanya mereka bawa buku panduan, karena di internet sudah banyak yang mengulas dawet telasih,” tambahnya.

Bu Sipon

Berjualan di tengah pasar tradisional, imbuh Utik, ada sensasi tersendiri. Selain bercampur dengan bau khas pasar tradisional, tempat duduk yang disediakan juga terbatas. Warung Dawet Telasih Bu Dermi ini hanya menyediakan dua kursi memanjang, yang hanya cukup menampung tak lebih dari 8 orang. Sisanya, pelanggan harus mau menikmati Dawet Telasih sambil berdiri di tepian pedagang lain. “Kalau sedang ramai, makannya terpaksa berdiri di jalan. Biasanya kalau banyak yang makan di jalan ada pedagang  yang marah, karena menutupi dagangan atau jalan jadi sempit. Tapi, ya wajarlah namanya juga pasar,” ceritanya ,sambil terseyum.

Selain rasa  manis gurih yang kuat, banyak pelanggan yang tak mau melewatkan Dawet Telasih karena kesegarannya. Ini dikarenakan Dawet Telasih mampu menjadi pelepas dahaga setelah berkeliling pasar belanja berbagai kebutuhan sehari-hari. “Rasanya segar bisa menjadi pelepas lelah dari keliling pasar beli kebutuhan,” kata  Siti Numelia, salah satu penikmat Dawet Telasih.

Warga Kampung Manahan, Solo, itu mengaku tak pernah melewatkan Dawet Telasih  setiap belanja ke Pasar Gede. “Kalau tidak  beli, rasanya ada yang kurang. Karena memang khasnya Pasar Gede, ya Dawet Telasih,” tambah Siti, yang mengaku sudah menjadi pelanggan setia selam 8 tahun lebih.

Di Pasar Gede, setidaknya ada 5 penjual Dawet Telasih. Masing-masing penjual memiliki pelanggan dan ciri khas tersendiri.  Ada penjual yang memilih menggunakan tape ketan, seperti Dawet Telasih Bu Dermi, namun ada pula  yang tanpa tape ketan. Termasuk pemilihan rasa dawet  telasih juga memiliki pilihan rasa. “Kalau ingin manis, kita beri lebih banyak. Kalau pelanggan tidak suka manis, kita beri sedikit biar rasa gurihnya lebih kuat,” imbuh Sipon, pedagang Dawet Telasih lainnya di Pasar Gede.

Yang membedakan Dawet Telasih dengan dawet lainnya adalah selain  penggunaan biji telasih, warna kuah Dawet Telasih  lebih cenderung berwarna  putih, karena santan. “Berbeda kalau dawet lainnya, kuahnya biasanya warna coklat. Untuk santan, kelapanya kita benar-benar pilih yang bagus. Dan, santan kita peras menggunakan air matang, biar lebih sehat,” urai perempuan yang  mengaku baru berjualan Dawet Telasih selama 10 tahun terakhir itu.

Untuk bisa menikmati Dawet Telasih Pasar Gede, pelanggan tidak perlu merogoh kocek yang dalam. Cukup dengan uang Rp6-8.000, pelanggan sudah dapat menikmati sajian  khas dengan santan di pusat Kota Solo itu. Untuk sampai di Pasar Gede juga sangat mudah, seperti dari Bandaran Adi Soemarmo, Solo, naik Batik Solo Trans (BST) atau Busway dan turun di halte  Balaikota Solo, dan berjalan kaki sekitar 30 meter. Demikian  juga jika dari Stasiun Solo Balapan atau Purwosari serta Terminal Tirtonadi, bisa menggunakan BST dan Busway dan turun di Halte Pasar Gede dan berjalan kaki hanya 20 meter.

Jurnalis: Harun Alrosid/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Harun Alrosid

Lihat juga...