MALANG — Selama ini lulusan dari politeknik memiliki potensi yang sangat baik karena mereka memang dididik untuk menguasai ilmu terapan yang bisa langsung diterapkan di lapangan. Akan tetapi saat ini yang perlu disiapkan dari para lulusan politeknik selain mental adalah mengenai pola hidup dan pola makan sehat karena hal tersebut menjadi kelemahan terbesar mereka.
Roikhan.
“Sebanyak 58% lulusan yang ingin masuk ke PT. Indonesia Power dites kesehatan. Karena banyak dari mereka tidak mengetahui pola hidup sehat,” jelas Direktur Sumber Daya Manusia PT. Indonesia Power, Roikhan, Selasa (14/3/2017).
Jadi kalau yang tes 100 orang, hanya 42 orang yang bisa lolos, sedangkan 58 orang sisa di dalam tubuhnya sudah bermasalah. Bahkan ada yang ketika akan tes kesehatan, pada malam harinya justru mereka minum obat kuat dengan harapan ketika di tes hasilnya bisa bagus, padahal justru makin hancur.
Kemudian selain pola makan yang tidak sehat, mereka juga jarang sekali yang melakukan olahraga. Saat ini kebanyakan justru mereka melakukan olahraga jari dengan gadget mereka masing-masing.
“Kami sangat berharap mulai saat ini mahasiswa Politeknik khususnya Polinema agar bisa menerapkan pola hidup sehat,” pintanya.
Sementara itu hal senada juga disampaikan Ir. Tundung Subali Patma. MT, selaku Direktur Polinema. Menurut Tundung, pola makan yang tidak sehat berpotensi mengakibatkan timbulnya banyak penyakit yang bisa menyebabkan lulusan politeknik gugur dalam tes kesehatan.
“Salah satu makanan tidak sehat yaitu mie instan yang berpotensi untuk meningkatkan kolesterol dan asam urat tinggi,” ungkapnya.
Oleh karena itu, mahasiswa Polinema harus bersiap karena mereka sudah diberi kesempatan untuk bisa diterima kerja di PT. Indonesia Power. Jangan sampai hanya karena pola makan yang tidak sehat, mahasiswa Polinema justru gugur dalam tes kesehatan untuk masuk ke PT. Indonesia Power.
Lebih lanjut, Roikhan kembali mengatakan, bahwa kekurangan dari tenaga kerja asli Indonesia yakni kurangnya kemampuan sinergi dan berbagi ilmu.
Tundung Subali Patma.
“Orang kita menganggap bahwa ilmu sebagai power, oleh karena itu mereka menyimpan untuk diri mereka sendiri tanpa mau membagikannya ke orang lain,” pungkasnya.
Jurnalis: Agus Nurchaliq / Editor: Satmoko / Foto: Agus Nurchaliq