Jalan Sunyi Patmi: Lanjutkan Misi Suci Para Nabi Bela Kaum Tertindas

RABU, 29 MARET 2017

SEMARANG — Dukungan terhadap pelestarian lingkungan di kawasan Kendeng tidak hanya datang dari pakar hukum dan mahasiswa. Para pemuka agama di Semarang juga menyatakan sikapnya membela Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK).

Doa bersama untuk masyarakat Kendeng di depan kantor Gubernur Jateng.

Menurut Setyawan Budi, Persaudaraan Lintas Agama (Pelita), merasa terpanggil sebagai pendamping JMPPK karena mempunyai dasar teologis bahwa alam yang diciptakan oleh Tuhan harus dirawat. Selain itu Tuhan juga mengutus nabi untuk mendampingi mereka yang tersisih, tertindas dan terpinggirkan ketika berhadapan dengan penguasa.

Setyawan merujuk pada Al-Kitab Pasal 1 Ayat 28 yang berbunyi bahwa dasar perintah Allah yang pertama kepada manusia yaitu Adam dan Hawa beranak cuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang di bumi. Maksud dari ayat di Kitab Suci tersebut menyiratkan pesan bahwa manusia tidak boleh hanya mengeksploitasi bumi saja, tetapi harus merawat lingkungan untuk menjaga keutuhan supaya kelangsungan anak cucu kita terjamin dari hasil alam.

Karena itulah saat kasus Kendeng mencuat, ketika JMPPK melakukan Long March dari Rembang ke Semarang pada tanggal 5 Desember 2016-9 Desember 2016, setelah itu disusul aksi menginap selama satu bulan di depan Kantor Gubernur Jateng, Pelita memberikan dukungan moril berupa doa dan nasihat yang bisa menguatkan mereka, tujuannya agar para sedulur Kendeng tidak menyimpang ke arah yang salah.

“Beberapa kali kami juga mengadakan doa lintas agama agar perjuangan warga Kendeng tahu secara moril mereka didukung oleh para pemuka agama,” terang Setyawan saat ditemui Cendana News (29/3/2017).

Lebih lanjut dirinya menambahkan, bahwa para pemuka agama mempunyai peranan yang besar dalam memperjuangkan warga Kendeng agar hatinya tidak mengalami kekosongan. Dukungan ini juga sekaligus memberikan legitimasi bagi sedulur Kendeng bahwasanya apa yang mereka lakukan tidak menyalahi perintah Tuhan. Perjuangan revolusi sunyi ketika memperjuangkan haknya tanpa menggunakan kekerasan juga menjadi salah satu bagian dari ajaran agama yang selalu menyuarakan kebenaran tanpa kekerasan.

Setyawan juga menambahkan bahwa walaupun di Pelita terdapat keyakinan memeluk agama yang berbeda-beda tetapi mereka sudah mempunyai visi yang sama untuk tetap mengawal JMPPK tanpa menggunakan kekerasan juga. Karena itu mereka bisa meluruskan isu yang berkembang bahwa yang mereka lakukan merupakan gerakan murni untuk melestarikan lingkungan, bukan untuk gerakan makar.

“Walaupun berbeda agama, tetapi yang kami lakukan hanya meneruskan misi suci para nabi untuk memperjuangkan lingkungan,” tambahnya.

Pesan Gus Dur untuk Alissa Wahid sebagai Penguat Gus Durian Berjuang untuk Kendeng
Senada dengan Setyawan Budi, Yunantyo Adi Setyawan dari Gus Durian juga menganggap bahwa ghiroh perjuangan yang disampaikan oleh Alissa Wahid, putri mendiang presiden ke-4 Indonesia, Abdurahman Wahid menjadi pengobar semangat Gus Durian Semarang untuk konsisten membela perjuangan warga Kendeng melawan PT Semen Indonesia (SI). Karena itu dirinya selalu konsisten membela JMPPK.

Semula memang para aktivis Gus Durian dalam memperjuangkan Kendeng memakai elemen-elemen lain seperti PMII dan Komunitas Baca, tetapi pesan dari Alissa Wahid pada awal tahun 2017 untuk menghidupkan kembali Gus Durian Semarang membuat mereka membaur menjadi satu. Karena menurut Yunantyo, Alissa Wahid sudah jauh terlibat di Kendeng sejak lama.

Yunantyo Adi Setyawan

“Waktu Mbak Alissa di Semarang pada bulan Februari, beliau bertemu dengan Gunretno (Tokoh JMPPK) yang mengajak dirinya untuk meneruskan atensi Gus Dur, saat beliau masih sugeng (hidup),” kata Yunantyo.

Karena itulah Gus Durian Semarang aktif membantu perjuangan JMPPK saat memperjuangkan haknya di Semarang. Dirinya menyadari bahwa yang dilawan oleh petani Kendeng sangat berat karena berhadapan dengan penguasa dan modal. Yunantyo mengibaratkan bahwa pegunungan Karst adalah isi perut sementara Pulau Jawa adalah postur tubuh, jika isi perut diacak-acak maka bisa dipastikan tubuh akan ambruk.

Penolakan terhadap pembangunan pabrik PT SI oleh warga Kendeng juga selaras dengan perkataan Gus Nuril (KH. Nuril Arifin) bahwa warga yang menolak pembangunan adalah orang-orang yang bisa membaca isyarat Tuhan, sementara orang-orang yang berkelit di bawah sains untuk mendukung pembangunan dianggap tidak bisa membaca isyarat yang disampaikan oleh Tuhan. Karena itulah dibutuhkan solidaritas antar umat beragama untuk melawan kekuasaan yang dzalim.

Bagi Gus Durian, warga Kendeng adalah panglima tertinggi saat melawan rezim yang ingin menghancurkan lingkungan, sementara dirinya dan berbagai elemen lain bersifat mem-back up serta mensupport apa pun yang dibutuhkan panglima untuk tetap melawan.

Dirinya juga mendukung penuh perjuangan tanpa kekerasan yang dilakukan oleh JMPPK walaupun terkadang tidak sabar juga karena warga Kendeng selalu didzalimi dari segi hukum meskipun mereka sudah berada di jalur yang benar, bahkan terkadang mereka juga sering menerima kekerasan dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab hanya untuk memukul mundur mereka.

Menurut Setyawan, perlawanan sunyi JMPPK menjadi menarik karena tetap konsisten menggunakan cara tersebut selama puluhan tahun. Bagi mereka yang tidak mengerti filosofi perjuangan sunyi mungkin akan menganggap apa yang dilakukan JMPPK sebagai sesuatu yang mubazir, tetapi di situlah letak kecerdasan mereka bisa mementahkan segala opini yang dibuat para pendukung pembangunan pabrik dengan kelembutan.

“Jangan meremehkan warga Kendeng karena mereka konsisten terhadap hukum, anti kekerasan dan sabar karena sesungguhnya mereka orang yang pintar ketika diajak berdebat,” tukasnya.

Ganjar Pranowo Gubernur Lamis
Ketika disinggung tentang sikap Gubernur Jateng terhadap pendirian pabrik PT SI, Yunantyo menilai bahwa yang dilakukan oleh politisi asal Purworejo tersebut terkesan mencla-mencle, hal ini dikarenakan sikap Ganjar yang seringkali dinilai tidak konsisten. Dulu Ganjar pernah bilang kalau warga menang di jalur hukum tidak akan ada pendirian pabrik. Tetapi setelah ada putusan dari MK malah pemerintah provinsi mengeluarkan izin yang baru, Ganjar selalu mencari dalih-dalih pembenaran atas keputusannya.

Sikap Ganjar yang cenderung tidak konsisten dinilai Yunantyo karena Gubernur mempunyai beban berat agar pembangunan pabrik semen tetap berlanjut. Ada sesuatu yang disembunyikan sehingga Ganjar selalu melawan hukum untuk membela PT. SI, selain itu statemen Presiden RI, Joko Widodo, yang menyerahkan keputusan akhir pendirian pabrik semen kepada pemeritah provinsi juga dianggap keliru. Walaupun sebagian izin ada di tangan Gubernur Jateng, tetapi kendali tetap ada di Kementerian BUMN karena PT. SI adalah salah satu aset negara.

“Semula warga menganggap Jokowi berperan, tetapi setelah bilang diserahkan ke Ganjar kita seperti kehilangan bapak,” imbuhnya.

Setyawan Budi

Sementara itu, Setyawan Budi meminta Ganjar Pranowo melihat menggunakan hati nurani bahwa sebuah kebijakan bisa mengandung kontroversi ketika berdampak pada kerusakan alam sekitar. Karena itu sebaiknya apa yang telah menjadi kebijakan Gubernur bisa dipertimbangkan kembali, tidak hanya berpikir tentang investasi sehingga mengabaikan sisi-sisi kemanusiaan.

“Kita meminta pemerintah lebih memperhatikan suara rakyat tentang kelestarian lingkungan,” ujar mahasiswa Universitas 17 Agustus tersebut.

Patmi sebagai Martir Perjuangan
Meninggalnya Patmi dalam aksi Cor Kaki Jilid II di istana negara juga dianggap akan semakin menggelorakan semangat JMPPK untuk memperjuangkan haknya. Menurut teologi Kristen, Patmi adalah martir yang akan selalu dikenang karena dia berjuang atas nama keyakinan, anak cucu, saudara untuk memperjuangkan kelestarian alam.

Karena itu tidak heran setelah Patmi meninggal akan terjadi perlawanan yang semakin meluas. Aksi simpatik yang tadinya hanya berlangsung di beberapa kota akan menyebar sampai ke seluruh Nusantara. Saat ini hampir di setiap provinsi yang ada di Indonesia nama Patmi selalu bergaung dalam doa sebagai simbol perlawanan.

“Patmi akan menjadi semangat perlawanan yang menggelorakan perjuangan warga Kendeng sampai kapan pun,” beber Setyawan.

Bagi Yunantyo, Patmi adalah simbol perjuangan petani Indonesia yang menolak pembangunan pabrik semen untuk menjaga kelestarian, karena itu tidak mengherankan bahwa permasalahan Kendeng akhirnya menjadi magnet  bagi semua orang untuk melihat kembali bahwa perjuangan JMPPK belum selesai melawan ketidakadilan penguasa.

Lebih lanjut Yunantyo menambahkan, bahwa dengan adanya doa bersama lintas agama untuk mengenang Patmi membuktikan bahwa hari ini kelestarian lingkungan di Kendeng sudah menjadi masalah bersama-sama karena mengatasnamakan kemanusiaan.

“Setelah meninggalnya Patmi kita belum bisa menentukan arah selanjutnya, karena yang pasti masih menunggu instruksi JMPPK” ujarnya.

Baik Yunantyo maupun Setyawan berharap ke depan sedulur Kendeng tetap akan menyuarakan kebenaran tanpa menggunakan kekerasan karena bagaimanapun juga, upaya melestarikan lingkungan yang ada di kawasan Karst tidak ada kaitannya dengan politik.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin / Editor: Satmoko / Foto: Khusnul Imanuddin


Lihat juga...