SABTU, 11 MARET 2017
SEMARANG — Banyaknya aset perekonomian yang dikuasai asing, menjadi keprihatinan bagi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Tengah. Karena itu, Gerakan 212 dianggap menjadi momen tepat untuk membangkitkan perekonomian umat Islam.
![]() |
| Dewan Pengawas KSR 212, Anggito Abimanyu |
Menurut Sekretaris Korwil ICMI Jawa Tengah, DR. Suharnomo, umat Islam sebenarnya mempunyai potensi perekonomian yang besar, baik itu sebagai produsen dan konsumen. Tetapi, sayangnya sistem perekonomian masih didominasi oleh asing, sehingga umat Islam hanya sebatas sebagai penonton saja. Pendapatan 4 juta orang kaya di Indonesia, sama dengan pendapatan 100 juta rakyat Indonesia lainnya, menjadi bukti, bahwa perekonomian umat Islam masih harus mencari solusi untuk bisa meningkatkan kesejahteraan. “ICMI harus berbenah untuk menyongsong kebangkitan umat, momentum 212 akan menjadi inspirasi perekonomian Islam,” kata Suharnomo, saat ditemui di Auditorium FPIK Universitas Diponegoro (Undip), Minggu (11/3/2017).
Lebih lanjut, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undip tersebut, mengatakan, ICMI sebagai gerakan intelektual cendekiawan muslim memang mempunyai tanggungjawab sebagai mentor untuk membina potensi keumatan, agar bisa bersaing dengan perekonomian global. “Sebagai tempat berkumpulnya cendekiawan, tidak akan berdiskusi saja, tapi turun langsung untuk mengawal,” tambah Suharnomo.
Sementara itu, Pengawas Koperasi Syariah (KSR) 212, Anggito Abimanyu, menegaskan, saat ini populasi umat Islam di Indonesia mencapai 80 persen. Tetapi, penguasaan ekonominya hanya sekitar 20 persen, sehingga ketimpangannya sangat besar. Dominasi asing tidak hanya merambah usaha besar saja, tetapi sudah sampai pada perekonomian mikro. Banyak warung waralaba asing yang modalnya dimiliki oleh investor asing dan persebarannya sudah sampai ke desa, totalnya mencapai 27.439 unit.
![]() |
| Sekretaris Korwil ICMI Jawa Tengah dan Dekan FEB Undip, Suharnomo |
Karena itu, Anggito berpendapat, sudah saatnya Umat Islam membangun peradaban sendiri dalam membantu umat Islam lainnya. Caranya, adalah dengan membangun perekonomian berjamaah seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Saat pertama kali datang ke Madinah, yang pertama kali dilakukan adalah membangun masjid untuk penguatan akidah, setelah itu menyatukan Anshor dan Muhajirin sebagai pengikat ukhuwah. “Ketika akidah dan ukhuwah terselesaikan, langkah selanjutnya kuasai pasar sebagai pusat perekonomian,” terang mantan Dosen UGM tersebut.
Saat ini, di Indonesia sudah banyak masjid dan gerakan solidaritas umat Islam sudah terangkai kembali, karena itu yang harus dikuasai selanjutnya adalah pangsa pasar. Gerakan KSR 212 sudah memulainya dengan meluncurkan Kopmart 212, agar umat bisa berbelanja di sana. Selain itu, rencana lainnya juga akan mengakuisisi satu tower di daerah Margonda untuk dijadikan pusat bisnis. Sebagai modal menjalankan usahanya, KSR 212 juga berencana akan memindahkan uangnya yang ada di bank konvesional ke koperasi yang dibuat sendiri.
Jurnalis: Khusnul Imanuddin/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Khusnul Imanuddin
