Di Tengah Himpitan, GSAC Tetap Eksis Lestarikan Gambang Semarang

SELASA, 14 MARET 2017

SEMARANG — Kesenian Gambang Semarang yang terancam punah seringkali membuat Tri Subekso galau. Baginya kesenian ciptaan Lee Hoo Soen tersebut sangat unik karena bisa memadukan empat macam jenis pertunjukan yaitu tari, vokal, musik dan lawak. Apalagi generasi muda saat ini seakan-akan mengalami amnesia bahwa kesenian tersebut sempat mengharumkan nama Semarang di tahun 1980-1990-an.

Penari GSAC menari tarian Gambang Semarang.

Beranjak atas kegelisahan tersebut,  maka Bekso bersama Putut Bayu, Fitrianto DS, Frida, Kus Sri Handoyo dan Sandra Setya, sering berdiskusi tentang perkembangan kebudayaan tersebut hingga sampai pada satu titik, bahwa perlu dibentuk sebuah komunitas yang bisa melestarikan Gambang Semarang.

Akhirnya, pada 21 November 2012 di Kampung Subali, Kelurahan Krapyak, Gambang Semarang Art Company (GSAC) resmi dibentuk oleh enam serangkai tersebut.

“Sudah sejak lama saya punya gagasan ini, tapi saya perlu waktu dan rekan-rekan setim yang memiliki kesamaan pandangan untuk mewujudkan pendiriannya,” ujar Bekso mengawali pembicaraan dengan Cendana News (14/3/2017).

Menurut Bekso, kehadiran GSAC merupakan ujung jawaban pencariannya selama ini, karena komunitas tersebut lahir dari kegelisahan alumni dan rekan-rekan anggota UKM Kesenian Jawa Universitas Diponegoro (Undip) terhadap kelanjutan eksistensi kesenian Gambang Semarang.

Dirinya masih ingat betul, bahwa ia hanya mengenal Gambang Semarang dari seminar, artikel, penelitian atau rutinitas festival. Jika lebih beruntung, saat ke Stasiun Tawang akan terdengar lantunan lagu “Ampat Penari” karya Oey Yok Siang. Padahal, menurut Bekso, masih banyak lagi yang harus dieksplor dari kesenian tersebut.

Saat pertama kali pentas pada 12 Desember 2012 di Gedung Kesenian Sobokarti Semarang, para personil GSAC sempat gundah, apakah mereka sanggup untuk mengemban beban melestarikan Gambang Semarang. Tetapi karena dukungan penuh dari Budayawan Semarang seperti Tjahjono Rahardjo dan Jongkie Tie, membuat GSAC tetap semangat untuk memainkan musik tersebut.

Bagi Bekso, spirit Gambang Semarang juga menular ke dalam karekteristik anggota GSAC karena terdiri dari suku, ras dan agama yang plural. Semangat plural ini harus menjadi “ruh” komunitas karena sebagaimana semangat pendirian awalnya, kesenian Gambang Semarang merupakan wujud nyata perpaduan suku Tionghoa dan Jawa yang mewujudkannya dalam bentuk seni pertunjukan.

“Yang menarik dari GSAC adalah semangat hibridanya, meneruskan penggunaan jenis alat musik yang digunakan, yakni perpaduan alat musik Cina  dan Jawa,” tambah laki-laki lulusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Undip tersebut.

 Direktur GSAC, Tri Subekso.

Baginya, salah satu cara untuk melestarikan Gambang Semarang tidak cukup dengan mengadakan seminar karena akan membahas teori saja. Cara melanjutkannya adalah dengan membentuk komunitas yang benar-benar fokus performance sehingga masyarakat bisa menilai sendiri bagaimana keindahan dari kesenian yang melahirkan Egolan Lele Nyah Sam tersebut.

Senada dengan Tri Subekso, pemain bonang GSAC, Bahtiar Setiawan, menyiratkan bahwa generasi muda pada dasarnya punya rasa ingin tahu yang tinggi terhadap Gambang Semarang. Tetapi sayangnya karena komunitas musik Gambang Semarang masih sedikit akhirnya pemuda lebih tertarik untuk masuk ke komunitas musik modern yang dirasa lebih banyak jumlahnya.

Oleh karena itu, pemuda yang masuk GSAC karena penasaran dengan kesenian khas Semarang tersebut merasa bahwa komunitas musik tradisional adalah nyawa bagi kelanjutan hidup Gambang Semarang.

Lebih lanjut, komunitas yang terdiri dari Direktur Tri Subekso, Wakil Bahtiar Setiawan, Manajer Program Mateus Yoga Pamungkas, Divisi Musik Sigit Purnomo, Divisi Tari Betik Etikasari, Divisi Litbang Khatibul Umam dan Divisi Pertunjukan Robby Setiawan, mempunyai segudang kegiatan antara lain pertunjukan komunitas dengan Oase, Komunitas Lopen Semarang, Jazz Ngisoringin, Orart-Oret dan Hysteria.

Selain itu karena kreativitasnya melestarikan Gambang Semarang pada 2015 mereka diundang budayawan kenamaan Yogyakarta Djadug Ferianto untuk tampil di Pekan Budaya Tionghoa. Kegiatan terbaru yang GSAC lakukan adalah memberikan pelatihan Gambang Semarang kepada mahasiswa dan dosen Universitas Negeri Jakarta pada 6-7 Maret

“Untuk lebih menarik minat anak muda terkadang kami juga menghybrid Gambang Semarang dengan musik Keroncong, Jazz dan Pop biar kekinian,” tambah Bahtiar.

Baik Bekso dan Bahtiar berharap ke depan komunitas GSAC tetap eksis melestarikan budaya, karena itu mereka berharap semua pihak untuk terjun langsung membimbing komunitas karena di tangan merekalah Gambang Semarang sebagai salah satu ikon kota Semarang masih bisa bernafas.

Wakil Direktur sekaligus pemain saron, Bahtiar Setiawan.

Menurut Bekso, hari ini GSAC hanya memiliki pinjaman beberapa alat musik yang biasa dipakai dalam pertunjukan, yakni Demung, Saron, dan Peking. Karena itu dirinya punya keinginan untuk membeli seperangkat alat musik Gambang Semarang yang komplit agar tidak kesusahan jika pentas. Selain itu, dirinya juga mempunyai ekspektasi agar bisa tetap eksis mengisi pertunjukan di kampung-kampung untuk mempopulerkan lagi Gambang Semarang.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin / Editor: Satmoko / Foto: Khusnul Imanuddin

Lihat juga...