MINGGU, 12 MARET 2017
LAMPUNG — Saat Ibu ke pasar, salah-satu jajanan pasar yang kerap ditunggu oleh anak-anak adalah cenil tiga warna. Cenil merupakan makanan kecil tradisional yang terbuat dari tepung aci dengan ciri khas tekstur lembut dan kenyal, ditambah paduan gula merah dan parutan kelapa yang gurih saat disantap.
![]() |
| Cenil dan lupis manis |
Salah-satu penjual cenil yang masih tetap bertahan selama puluhan tahun di pasar tradisional Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidomulyo, Ratna (45), mengungkapkan kue cenil yang sudah dijualnya sejak puluhan tahun silam itu selalu diminati pelanggannya. Cenil tiga warna yang dibuat Ratna adalah merah, hijau pandan dan putih.
Ratna yang ditemui pada Minggu (12/3/2017), mengatakan, jika semula ia menjual cenil dengan menggunakan bungkus daun pisang yang dibuat segitiga atau dikenal dengan “pincuk”, yang direkatkan menggunakan lidi, dan lidi tersebut bisa digunakan sebagai tusuk saat memakan cenil.
Seiring perkembangan zaman, bungkus cenil diganti dengan plastik bening dan terkadang menggunakan kertas nasi untuk kepraktisan, meski untuk komposisi bahan tidak berubah dengan menggunakan tepung kanji dan juga parutan kelapa, dengan cairan gula merah atau saus gula dari aren yang manis. “Kalau dengan daun pisang, setelah ditaburi parutan kelapa maka selanjutnya disiram dengan larutan gula merah, baru bisa disantap menggunakan lidi atau sendok. Sementara, kalau gula merah dan parutan kelapa dipisah, cenil yang ditusuk lidi bisa dicocol dengan parutan kelapa dan gula merah,” terang Ratna.
![]() |
| Ratna, penjual cenil dan lupis manis |
Menurut Ratna, cara membuat cenil itu cukup mudah, dengan bahan dari tepung aci yang diberi tambahan garam penambah rasa gurih dan beberapa mili air daun pandan. Campuran bahan tersebut dimasak hingga mendidih dan mengental, lalu diangkat. Setelah itu, adonan dibagi tiga untuk pemberian warna hijau, merah dan putih, dan diuleni untuk membentuk bulatan kecil-kecil dengan tambahan air daun pandan.
Untuk bahan taburan parutan kelapa muda, dikukus dan diberi campuran dengan garam. Selanjutnya cenil yang sudah tiris diguling-gulingkan ke dalam campuran kelapa yang sudah dikukus. Namun, cara lain yang sering digunakan cenil dipisah dan taburan parutan kelapa dipisah dan saus gula merah, sehingga ditaburkan oleh pembeli saat akan menyantapnya.
Uniknya, menurut Ratna, kue cenil identik dipadukan dengan kue lupis yang merupakan kue berbentuk segitiga yang dibungkus dengan daun pisang. Jajanan pasar yang selalu bersahabat karib dengan cenil ini juga selalu dijual dalam jajanan pasar terbuat dari tepung beras ketan yang lezat.
Ratna mengungkapkan, kue lupis selalu dibeli pelanggannya menyatu dengan cenil, karena cara memakannya persis sama menggunakan saus gula aren yang menambah sensasi nikmat saat menyantapnya.
Khusus untuk kue lupis ketan, kata Ratna, dibuat menggunakan beras ketan pilihan yang dicuci dan direndam selama kurang lebih 5-6 jam, dan dicuci hingga benar-benar bersih. Setelah itu, daun pisang jenis kepok disiapkan untuk membungkus beras ketan membentuk segi tiga. Setelah dibungkus, beras ketan yang telah disiapkan dikukus hingga matang.
Bahan pelengkap kue lupis untuk menambah rasa nikmat, di antaranya kelapa parut yang tidak terlalu tua dan masih lunak, dan bahan lain yang sangat penting berupa saus gula merah yang dibuat dengan mendidihkan gula merah berisi selembar daun pandan. Saat dijual, Ratna menggunakan saus gula merah dalam bungkus plastik kecil-kecil, sehingga pembeli bisa mencampurnya saat di rumah menggunakan mangkuk kecil.
Kue tradisional cenil dan lupis tersebut menjadi jajanan wajib bagi Sumiati (30). Wanita yang sudah memiliki dua orang anak tersebut bahkan selalu minta dibelikan kue lupis dan cenil sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saat sang ibu ke pasar. Penjual yang masih tetap bertahan, Ratna, diakui Sumiati diingatnya telah berjualan semenjak puluhan tahun lalu dan kini masih tetap berjualan. “Sejak saya kecil, ibu selalu membeli donat, lupis, cenil dan kue-kue lain saat ke pasar, dan hingga kini pun saya masih menyukainya,” ungkap Sumiati.
Selain rasanya yang manis, pembuatan dengan cara tradisional dan menggunakan bahan-bahan alami sekaligus mengajarkan kepada anak-anaknya tentang jajanan pasar yang masih lestari hingga kini. Sumiati mengaku, meski kerap membelinya, terkadang anak-anak saat ini masih kurang mengenal kue cenil dan kue lupis yang merupakan kue tradisional dan menjadi jajanan pasar favorit.
Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi
