KAMIS, 16 MARET 2017
BANJAR — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjar, Jawa Barat, memetakan kembali kawasan rawan bencana termasuk zona merah longsor dan pergerakan tanah.
| Asep Setiadi. |
Langkah itu dilakukan karena longsor dan retakan tanah terjadi di sejumlah wilayah di Kota Banjar, Jawa Barat yang sebelumnya tidak masuk peta wilayah bencana.
Kepala Seksi Kesiapsiagaan dan Penanggulangan Bencana, BPBD Kota Banjar, Asep Setiadi, S.Ip., menyampaikan dan menunjukan hal itu saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Kamis (16/3/2017).
Asep menuturkan, Kota Banjar merupakan market atau pasar bencana. Bencana alam seperti banjir, tanah longsor, pergeseran tanah, puting beliung, kebakaran, terjadi di Kota Banjar. Bahkan, BPBD Kota Banjar, sudah memetakan sejumlah kecamatan yang menjadi langganan banjir maupun tanah longsor.
BPBD membagi 4 kecamatan di Kota Banjar menjadi tiga zona, yaitu merah (potensi bencana tinggi), kuning (sedang), dan hijau. Asep menyebutkan sejumlah wilayah termasuk zona merah bencana tanah longsor dan rawan pergeseran tanah.
“Zona merah yang sudah dipetakan itu hampir ada di semua desa dan kelurahan di wilayah Kota Banjar,” tutur dia.
Asep menambahkan, terjadi retakan tanah di wilayah Kota Banjar, paling rawan terjadi terdapat di wilayah Kecamatan Pataruman, Kecamatan Banjar, serta Kecamatan Purwaharja. Pasalnya, di daerah tersebut wilayahnya terdapat banyak bukit dan dataran tinggi. Akibat daerah tersebut termasuk daerah rawan longsor.
Asep selalu menyampaikan pesan kepada sejumlah anggota BPBD untuk selalu bersama-sama memantau dan mendata lokasi tersebut.
“Ada anggota yang aktif memantau. Harapan saya masyarakat yang berada di lokasi rawan longsor dan retakan tanah agar selalu waspada. Pasalnya, bencana tidak bisa diprediksi dan diduga-duga, kapan bencana itu datang,” tegas Asep.
Jurnalis: Baehaki Efendi / Editor: Satmoko / Foto: Baehaki Efendi