Perbankan Papua Tertinggi Kedua di Indonesia Timur

RABU, 22 FEBRUARI 2017

JAYAPURA — Perbankan Papua tertinggi kedua di Kawasan Indonesia Timur. Hal ini merupakan dampak dari pertumbuhan wilayah Papua sebesar 6,59 persen, diikuti total aset perbankan nasional mampu tumbuh sebesar 9,93 persen. Hal itu diungkapkan Kepala OJK Papua dan Papua Barat, Misran Pasaribu, Rabu (22/02/2017).

Kepala OJK Papua dan Papua Barat, Misran Pasaribu (paling kanan) memberikan cinderamata ke Gubernur Papua, Lukas Enembe.

Menurutnya sepanjang tahun 2016 perbankan di wilayah Papua alami pertumbuhan usaha yang positif, meskipun masih di bawah pertumbuhan aset industri perbankan nasional. Di tahun tersebut, terdapat 20 bank umum konvensional dan syariah di Provinsi Papua dan Papua Barat dengan total jaringan kantor mencapai 614  kantor, tersebar di Papua sebanyak 403 dan di Papua Barat sebanyak 211 jaringan kantor.

“Ada 2 BPR baru berdiri di Papua dan Papua Barat serta terdapat 1 BPR yang pindah dari Provinsi Jawa Barat ke Provinsi Papua Barat. Dengan demikian, jumlah BPR dan BPRS di wilayah Papua dan Papua Barat tercatat meningkat dari 8 menjadi 11,” kata Misran Pasaribu dalam pertemuan tahunan OJK pada salah satu hotel di Kota Jayapura.

Dijelaskannya, industri pasar modal di akhir tahun 2016 tercatat 2.335 investor dari wilayah Papua dan 436 investor dari wilayah Papua Barat, meningkat masing-masing mencapai 72,45 persen dan 59,12 persen.

“Juga terdapat 8 Galeri Investasi yang tersebar di berbagai perguruan tinggi di Papua dan Papua Barat,” demikian dijelaskan Misran.

Untuk sektor Industri Keuangan Non Bank, kata Nisran, di wilayah Papua Barat tercatat terdapat 6 kantor pegadaian, 18 kantor asuransi, 13 kantor perusahaan pembiayaan, dan 2 kantor perusahaan penjaminan.

“Untuk wilayah Papua ada 13 kantor pegadaian, 38 kantor asuransi, 15 kantor perusahaan pembiayaan, 2 kantor perusahaan penjaminan dan 1 kantor dana pensiun,” katanya.

Ditambahkannya, dilihat dari sisi tingkat pemahaman atau literasi dan penggunaan inklusi  produk jasa keuangan, indeks literasi keuangan di Papua meningkat dari 17,05 persen pada tahun 2013 menjadi 22,18 persen di tahun 2016, sementara Papua Barat sebesar 19,27 persen.

Menurutnya, angka tersebut masih berada jauh di bawah indeks literasi nasional sebesar 29,66 persen, sementara indeks inklusi keuangan di Papua dan Papua Barat pada tahun 2016 masing-masing 61,45 persen dan 58,55 persen. “Masih jauh dari angka inklusi nasional sebesar 67,82 persen,” ujarnya.

Otoritas Jasa Keuangan mendorong industri jasa keuangan untuk menjaga stabilitas sektor jasa keuangan dan membangun optimisme untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua dan Papua Barat.

Perekonomian Indonesia pada tahun ini diperkirakan masih akan diwarnai beberapa tantangan, sehingga sektor jasa keuangan diharapkan mampu menjadi pilar penopang dan roda penggerak bangunan ekonomi nasional untuk tetap tumbuh lebih baik, termasuk sektor jasa keuangan yang berada di Wilayah Papua dan Papua Barat.

Dalam kesempatan tersebut OJK memberikan penghargaan kepada beberapa Lembaga Jasa Keuangan antara lain:
1.      Bank BRI sebagai Bank penyalur KUR dan jaring terbaik di Provinsi Papua dan Papua Barat tahun 2016 serta bank penyelenggara program Laku Pandai terbaik tahun 2016 di mana terdapat 2162 agen Laku Pandai yang tersebar di Papua dan Papua Barat.
2.      Bank Penyelenggara program Simpanan Pelajar (SimPel) terbaik di Provinsi Papua dan Papua Barat tahun 2016 diberikan kepada Bank BNI dimana sekitar 80 ribu pelajar telah membuka rekening SimPel di Bank BNI.
3.      Penghargaan BPR dengan kinerja terbaik di Provinsi Papua dan Papua Barat diberikan kepada PT BPR Irian Sentosa;
4.      Produk terinklusif pada kegiatan pekan inklusi keuangan Tahun 2016 diberikan kepada PT Pegadaian (Persero) dengan produk Tabungan Emas.

Jurnalis: Indrayadi T Hatta / Editor: Satmoko / Foto: Indrayadi T Hatta

Lihat juga...