YOGYAKARTA—Yogyakarta dikenal sebagai salah satu kota seniman yang melahirkan banyak musisi. Banyak penyanyi maupun grup musik dengan berbagai aliran mulai tradisional, hingga modern lahir di kota ini. Salah satu grup musik di Yogyakarta yang kini banyak bermunculan adalah grup musik hip-hop dengan mengangkat bahasa lokal yakni Bahasa Jawa.
![]() |
| Salah satu personil NDX AKA Familia Yunanda Frisna Damara. |
Berdiri sejak 11 September 2011, NDX AKA Familia saat ini telah memiliki ribuan penggemar fanatik di berbagai daerah mulai dari DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur hingga Jakarta bahkan Sumatera. Mereka biasa disebut dengan sebutan Familia. Hampir setiap konser NDX AKA selalu dihadiri ribuan Familia yang mayoritas merupakan anak muda dan remaja.
Lagu-lagu NDX AKA Familia yang mengkolaborasikan musik hip-hop dan dangdut dengan lirik Bahasa Jawa sangat populer di telinga masyarakat khususnya anak-anak muda. Lirik-liriknya yang banyak menceritakan atau mengangkat kisah cinta dan pertemanan anak muda sehari-hari begitu merasuk dihati setiap penggemarnya.
Sejumlah lagu NDX AKA Familia yang dapat didownload gratis di web mereka atau di Youtube, bahkan telah ditonton puluhan juta orang hingga saat ini. Seperti misalnya lagu “Kimcil Kepolen”, “Bojoku Ditikung” dan “Tewas Tertimbun Masa Lalu”. Tak hanya itu, lagu-lagu mereka bahkan kerap dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi dangdut di setiap konser-konser dangdut.
Mungkin tak banyak yang mengira jika personil NDK AKA Familia sebenarnya adalah pemuda desa biasa. Salah satunya adalah Yunanda Frisna Damara. Pemuda kelahiran 7 November 1995 ini sehari-hari tinggal dusun Jati, Sriharjo, Imogiri, Bantul, sekitar 13 kilometer dari pusat kota Yogyakarta.
Ia mengaku memilih musik hip-hop dangdut dengan Bahasa Jawa karena sesuai dengan pribadinya sebagai anak muda pinggiran kota. Melalui lagu-itulah ia juga mengaku lebih bisa menyampaikan apa yang banyak dirasakan anak-anak muda seusianya.
“Awalnya cuma iseng buat lagu, lalu direkam sendiri. Idenya kebanyakan dari pengalaman pribadi atau curhatan teman-teman. Liriknya lebih pada curhatan hati kaum anak muda pinggiran kota, ” katanya.
Meski suka menyanyi sejak kecil, namun Yunanda mengaku tak bisa bermain alat musik. Ia membuat iringan setiap lirik lagunya dengan memanfaatkan aplikasi musik. Semua ia lakukan sendiri tanpa ada yang mengajari. Mulai dari menciptakan lagu, mengolah hingga merekamnya.
“Karena lagu yang ssya buat banyak yang suka akhirnya saya mencoba buat lagi. Saat ini total sudah ada 35 lagu. Semua masih berupa single yang kita unggah di web dan bisa didownload gratis. Tahun 2017 ini kita baru berencana membuat album pertama,” katanya.
Jika pada awal manggung mereka hanya dibayar Rp75 ribu, kini sekali mangggung mereka bisa mendapat bayaran hingga Rp30 juta. Mereka bahkan tak jarang kerap manggung bersama artis dangdut maupun artis lagu pop yang lebih dulu terkenal di Indonesia.
“Kita sudah pernah tampil di 35 kota di Indonesia. Paling berkesan itu waktu di Jember. Itu yang hadir sampai 20.000 orang lebih. Sampai panggungnya rusak karena rusuh. Itu kita hanya sempat main 3 lagu saja,” kata Yunanda yang mengaku ingin mengikuti jejak senior mereka Yogja Hip-hop Foundation untuk mempopulerkan bahasa Jawa ke seluruh dunia itu.
Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Jatmika H Kusmargana
Baca:
https://www.cendananews.com/2017/02/politik-menyenangkan-ala-hip-hop-colony.html