Kesederhanaan Sejak 1972, Mie Kopyok Pak Dhuwur Makin Digandrungi

RABU, 22 FEBRUARI 2017

SEMARANG — Perut lapar tetapi malas makan yang berat, sajian mie bisa menjadi salah satu alternatif, disamping kuahnya menghangatkan badan, rasanya pun dijamin bisa membuat lidah bergoyang. Di Semarang sendiri banyak sekali restoran yang menyajikan mie sebagai menu utama lengkap dengan suasana eksklusif, tetapi semua itu tetap tidak bisa menyaingi kesederhanaan dalam kenikmatan Mie Kopyok Pak Dhuwur.

Penjual sedang membuat mie kopyok.

Pak Dhuwur bernama asli Harso Dinomo. Mengaku mulai berjualan mie kopyok sejak tahun 1972. Saat itu dengan menggunakan tandu yang dipikul, dirinya berjalan kaki mengitari Kota Semarang. Buruh dan karyawan adalah pelanggan Harso. Karena saat itu situasi sedang susah, maka dirinya memasak mie dengan varian bahan yang sederhana agar buruh dan karyawan bisa membelinya.

Ternyata responnya sangat bagus, banyak dari mereka yang senang dengan mie kopyok sehingga dagangannya cepat habis. Untuk memudahkan pelanggan menikmati mienya, akhirnya Pak Harso memutuskan untuk menyewa sepetak tanah di Jalan Tanjung.

“Nama Pak Dhuwur dipilih karena waktu itu Jalan Tanjung terletak di lokasi yang tinggi (dhuwur berarti tinggi dalam bahasa Jawa),” terang Arif, putra pertama Pak Harso.

Sejak saat itulah, warung mereka lebih dikenal di masyarakat dengan nama warung Mie Kopyok Pak Dhuwur. Dalam menjalankan bisnisnya, satu komitmen Pak Dhuwur adalah menjaga kesederhanaan. Saat banyak bisnis mie lain di Semarang menawarkan menunya lengkap dengan berbagai macam variasi dan bumbu yang melimpak ruah, Pak Dhuwur tetap menjual mienya dengan bumbu yang sama sejak awal berdiri. Bahan yang digunakan pun amat sederhana, irisan lontong dengan mie basah yang dikocok berulangkali ditambah tahu, kecambah serta daun seledri disiram kuah rempah yang bening. Agar lebih nikmat ditambahkan pula kerupuk gendar.

Untuk menjaga cita rasa, Pak Dhuwur sengaja membuat mie sendiri walaupun memakan waktu yang lama, begitu juga dengan kerupuk gendar yang didatangkan dari satu pemasok saja agar rasanya tidak berubah. Mencari untung bukan hal yang utama bagi dirinya karena hal yang paling penting adalah menjaga kualitas dengan para pelanggannya. Karena kegigihan itu pulalah, saat ini Mie Kopyok Pak Dhuwur bisa membuka cabang di Kyai Saleh dan Banyumanik, bahkan tak lama lagi keluarganya juga akan berekspansi ke Jakarta.

“Dibuat sederhana agar sesuai dengan kantong masyarakat,” terang Arif.

Bagi pengunjung yang mempunyai kolesterol tinggi tidak perlu khawatir, sebab bahan yang digunakan untuk membuat meracik mie seratus persen berasal dari nabati. Karena bahan-bahannya yang sederhana inilah Warung Kopyok Pak Dhuwur tidak pernah kehabisan pelanggan, bahkan kebanyakan dari mereka datang menggunakan mobil.

Suasana warung yang selalu ramai oleh para pelanggan.

“Mungkin mereka bosan setelah menjajal mie yang macam-macam, pengennya balik ke cita rasa mie yang sederhana,” imbuh Arif saat ditemui CDN (22/02/2017). Mie Kopyok Pak Dhuwur buka setiap hari dari jam 08.00-16.00. Setiap hari dirinya sanggup menjual 140 mangkok dengan harga Rp 8000 per porsi.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin / Editor: Satmoko / Foto: Khusnul Imanuddin

Lihat juga...