Menengok Lebih Dekat Ketekunan Pembuat Bagan Mini di Kalianda

SABTU, 4 FEBRUARI 2017

LAMPUNG — Wilayah Kalianda Bawah Kecamatan Kalianda Lampung Selatan merupakan kawasan pesisir yang dominan masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan tradisional. Mereka menggunakan perahu ketinting, perahu bagan mini, bagan congkel, bagan apung hingga kapal kapal berukuran besar dengan kapasitas hingga 30 GT. 

Proses pembuatan haluan atau linggih pada bagian bagan mini yang baru dibentuk

Berhadapan dengan perairan Teluk Lampung yang menyambung dengan Selat Sunda membuat beberapa dermaga pendaratan ikan berada di kawasan tersebut diantaranya dermaga Way Muli Kecamatan Rajabasa, Dermaga Canti di Kecamatan Rajabasa, Dermaga Bom Kalianda serta beberapa dermaga kecil yang dikelola oleh masyarakat.

Sebagian masyarakat yang menggantungkan hidup dengan berprofesi sebagai nelayan tangkap di perairan Kalianda. Memiliki peralatan tangkap, termasuk perahu atau kapal kecil merupakan hal wajib. Bagi para nelayan dengan modal cukup, membeli perahu merupakan pilihan, sementara bagi pemilik modal minim dengan memiliki keahlian membuat perahu merupakan sebuah pilihan terakhir mengingat harga perahu yang terbilang tidak murah dari kisaran Rp50juta hingga ratusan juta.

Mulyadi (37) merupakan satu dari ratusan nelayan di kampung nelayan tersebut yang berniat mengganti perahu atau kapal penangkap ikan miliknya. Ia mengaku telah memiliki satu kapal namun berniat memiliki satu unit kapal baru dengan cara membuat sendiri.

Mulyadi melakukan pengepresan untuk pelekukan dengan alat pres dibantu dengan pemanasan api

Saat ditemui Cendana News, Mulyadi tengah melakukan pembuatan awal perahu, yakni kerangka, penyiapan bahan bahan berupa kayu gelondongan yang telah dikeruk serta beberapa helai papan sebagai dinding. Proses pengerjaan pembuatan bagan mini tersebut dikerjakan bersama dua kerabatnya yakni Reza (34) dan Tendi (35) yang memiliki tugas masing masing untuk membangun perahu kecil yang akan dibuatnya menjadi bagan mini.

“Sebagian nelayan di Kalianda Bawah dominan memiliki kapal ketinting sementara sebagian memiliki perahu yang dikenal dengan bagan mini untuk menangkap ikan di perairan Kalianda hingga ke Merak Belantung,”terang Mulyadi saat ditemui Cendana News tengah melakukan proses pemahatan pada bagian haluan perahu yang belum terbentuk sempurna tersebut, Sabtu siang (4/2/2017).

Bahan utama jenis pohon Kayu Tabu (Binong) langsung didatangkan dari kawasan lereng Gunung Rajabasa. Pemilihan kayu tabu diakuinya sesuai dengan keadaan kayu tabu yang memiliki sifat ringan, mudah dibentuk dan terpenting memiliki tingkat keawetan tinggi berada di dalam air dan tidak mudah dimakan oleh bubuk kayu laut atau dikenal dengan kapang.

Kayu sengaja dipilih dengan ukuran tertentu dan usia sekitar 25 tahun dan memiliki panjang sekitar 850 centimeter yang dipergunakan sebagai bahan utama (body) perahu kecil tersebut. Satu gelondong kayu Tabu berukuran sekitar 850 centimeter tersebut dibelinya dengan harga perbatang sekitar Rp1,5juta.

“Kapang atau bubuk laut sangat cepat menyerang kayu, karenanya dipilih jenis kayu yang tidak disuka, seperti kayu damar, kayu binong, kayu nibung yang menjadi bahan utama pembuatan perahu nelayan di pesisir pantai,”terang Mulyadi sembari melakukan proses pemahatan kayu pada bagian haluan.

Butuh Modal Cukup Besar dalam Pembuatan Bagan Mini

Cuaca panas sebuah tenda darurat terpaksa dibuat untuk peneduh

Proses pembuatan perahu meski akhirnya disebut bagan mini bukan berarti membutuhkan uang yang mini atau sedikit. Mulyadi bahkan menyebut proses pembuatan dari mulai pembelian bahan kayu, produksi, hingga penambahan beberapa sarana lain sebelum bisa digunakan untuk proses pencarian ikan di laut setidaknya membutuhkan biaya berkisar Rp30juta hingga Rp50juta.

Sejak awal proses pengerukan bagian batang kayu menjadi perahu berbentuk, ia mengaku membutuhkan waktus sekitar 45-50 hari tergantung banyaknya tenaga kerja yang membantunya. Selain dua orang, terkadang beberapa rekan sesama nelayan ikut membantu dengan cara bergotong royong terutama pada bagian tertentu saat proses penyelesaian (finishing) dengan pengecatan dan pembuatan tenda peneduh.

Bagan mini dengan panjang 850 centimeter, lebar awal 50 centimeter pada saat awal dan saat penambahan dinding mencapai lebar 100 centimeter dengan ketebalan 4-5 centimeter tersebut dibuat di lahan terbuka tepi laut yang panas saat terik matahari. Kondisi terik matahari tersebut diakuinya justru ikut membantu proses pengeringan kayu dan mempercepat proses pembuatan bagan mini. Ongkos produksi, pembelian bahan hingga upah pekerja diakui Mulyadi diharapkan akan terbayar setelah bagan mini beroperasi.

“Biayanya memang mahal, namun dengan proses pembuatan yang tekun dan rapi untuk sebuah bagan mini harapannya bisa digunakan untuk proses pencarian ikan karena bagan mini dikhususkan untuk proses pencarian ikan teri di perairan,”terang Mulyadi.

Setelah kapal selesai dibuat, penambahan sarana lampu juga masih diperlukan karena bagan mini digunakan untuk proses pencarian ikan teri jenis teri nasi, teri katak serta teri jengki menggunakan jaring. Setelah proses penyelesaian kelengkapan lain dalam bagan mini masih diperlukan diantaranya lampu lampu yang memiliki daya sekitar 45 watt hingga 85 watt menyesuaiakan kebutuhan. Khusus untuk bagan mini setidaknya dibutuhkan sekitar 8-10 lampu dengan daya 45 watt dan harga perlampu mencapai Rp200ribu. Sementara itu generator untuk sumber energi dibelinya dengan harga Rp5juta.

Bagan mini yang dominan digunakan untuk proses pencarian ikan teri bahkan ungkap Mulyadi jarang digunakan nelayan untuk mencari ikan jenis lain. Hasil yang cukup menjanjikan dengan rata rata satu basket ikan teri jenis teri nasi, teri jengki yang dihargai Rp150ribu hingga Rp200ribu dengan berat sekitar 25 kilogram atau lebih diharapkan bisa menutupi semua biaya pembuatan perahu bagan mini miliknya. Ia mengaku uang pembuatan bagan mini tersebut tidak seluruhnya dibayar lunas karena sebagian masih berhutang dengan sistem kepercayaan.

Sebagai nelayan tradisional kecil yang memiliki modal terbatas, Mulyadi mengaku tidak bisa membeli kapal berukuran besar dan dalam bentuk jadi. Meski demikian ia mengaku dengan kebersamaan, ketekunan serta kesabaran dan niat yang baik untuk mencari nafkah maka perahu atau bagan mini yang dibuatnya akan diselesaikan tepat pada waktunya. Setelah proses pembuatan selesai, ia sebagai pemilik dan warga sekitarnya akan melakukan ritual khusus semacam syukuran saat detik detik kapal tersebut dilarung ke laut dengan makan bersama serta doa doa. Baginya bagan mini, perahu layaknya kendaraan di darat yang perlu mendapat perawatan dan diperlakukan dengan baik karena menjadi sumber penghasilan baginya.

Puluhan bagan mini yang bersandar di dermaga Kalianda

Cuaca yang masih belum bersahabat untuk melaut sekaligus memberinya kesempatan menyelesaikan bagan mini buatannya sementara ratusan bagan mini di Kalianda Bawah yang merapat di dermaga pun masih belum beraktifitas menunggu kondisi cuaca membaik untuk mencari ikan. Ia berharap saat selesainya proses pembuatan bagan mini tersebut kondisi cuaca membaik dan ia bisa melaut mencari ikan teri di sekitar perairan Kalianda sebagai sumber mata pencaharian baginya dan mencari nafkah bagi isteri dan kedua puteranya.

Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Lihat juga...