Harga Jagung Membaik, Buruh Petik dan Angkut Ikut Nikmati Keuntungan

SABTU, 18 FEBRUARI 2017

LAMPUNG — Sempat anjlok dalam kurun waktu setahun dengan harga Rp1.900 bahkan hingga Rp1.700 per kilogram membuat sebagian petani jagung di Kabupaten Lampung Selatan beralih ke tanaman sayuran. Harga tersebut akhirnya mulai membaik di penghujung tahun 2016 hingga awal tahun 2017 mencapai kisaran Rp3.400 per kilogram hingga Rp3.500 per kilogram.

Wati,buruh pemetik jagung di Kecamatan Ketapang

Imon (28), salah satu petani di Desa Sripendowo Kecamatan Ketapang, pemanenan jagung miliknya dilakukan setelah berumur sekitar 4 bulan dan kadar air berkisar 17-18 persen dengan bantuan tenaga kerja upahan. Kenaikan dua kali lipat dibandingkan musim sebelumnya berdampak pada meningkatnya pendapatan, namun dengan biaya operasional yang besar membuatnya belum bisa menikmati keuntungan secara maksimal.

“Kalau berdasarkan perhitungan kami para petani harga yang sudah mulai membaik ini akan menutup biaya operasional namun keuntungan yang kami peroleh belum cukup besar karena biaya yang kami keluarkan,”ungkap Imon di Desa Sripendowo Kecamatan Ketapang, Sabtu (18/2/2017).

Ia menyeburkan, dalam satu hektar memerlukan biaya operasional Rp6juta hingga Rp7juta sekali tanam. Sementara dalam sekali panen perhektar saat jagung yang dijualnya dengan harga saat ini mencapai 3.500 belum cukup menutupinya. Ditambah biaya pemetikan dengan sistem upahan sebanyak Rp5.000 per karung dan upah angkut Rp5.000 per karung atau Rp10.000 per karung hingga jagung sampai di rumahnya.

“Kita berharap harga jagung membaik namun karena harga jual jagung sebagian ditentukan oleh pabrik maka harga yang sudah ditetapkan pada masa panen tahun ini sudah cukup lumayan,”terang Imon.

Imon,petani jagung di Kecamatan Ketapang Lampung Selatan

Meski demikian, bagi para buruh upahan untuk proses pemetikan dan pengangkutan, masa panen raya jagung pada tahun ini diakui membawa berkah yang cukup lumayan.

Salah satu buruh pemetik jagung di Desa Sripendowo, Wati (34) mengaku sejak musim petik jagung sejak bulan Februari ini dirinya sudah bekerja pada beberapa pemilik lahan jagung dengan upah sekitar Rp5.000 perkarung, upah yang lebih baik dibandingkan masa panen sebelumnya dengan upah hanya Rp4.000 perkarung.

Dalam sehari sebagai buruh pemetik jagung yang bisa memetik sebanyak 15 hingga 20 karung, dirinya berhasil memperoleh upah sekitar Rp100.000 per hari dan bisa lebih banyak.

Masa panen juga menguntungkan bagi para ojek jagung yang membawa beberapa karung dari kebun ke lokasi pengepokan (pengumpulan) dengan upah Rp5.000 per karung.

Andi (35) salah satu pengojek jagung mengaku berhasil memperoleh upah sehari mencapai Rp300ribu dengan membawa berkarung-karung jagung. Sulitnya kendaraan roda empat masuk hingga ke lahan akibat kontur ladang berbukit membuat jasa ojek mendapat banyak keuntungan.

“Kalau dibanding mengojek manusia dalam sehari rata rata terbanyak hanya mendapat Rp50ribu tapi kalau mengojek jagung kami bisa mendapat uang ratusan ribu,”ungkap Andi.

Pengojek jagung membawa karung jagung ke lokasi pengumpulan

Sebelumnya dalam panen raya di Kecamatan Katibung, Menteri Pertanian (Mentan ) RI, Andi Arman Sulaiman, Kamis (16/2) berjanji akan meningkatkan kesejahteraan para petani dengan tidak akan melakukan impor dan menyerap dari petani lokal. Serapan yang banyak dari petani lokal tersebut diantaranya bekerjasama dengan sejumlah perusahaan pengolahan jagung dan pakan unggas dengan pola kemitraan dengan petani diantaranya PT Vasham di Kecamatan Katibung. Pola kemitraan antara petani dan beberapa perusahaan tersebut diharapkan bisa menjaga harga yang kini mencapai Rp3.400 hingga Rp3.500 per kilogram.

Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Lihat juga...