KAMIS, 5 JANUARI 2017
YOGYAKARTA — Namanya Sunardi. Ia adalah salah satu pembuat blangkon atau tutup kepala busana adat Jawa yang ada di Yogyakarta. Bapak 3 orang anak yang tinggal di Kampung Patangpuluhan, Wirobrajan, Yogyakarta, ini sudah 25 tahun lebih menjadi pembuat blangkon tradisional. Pelanggannya berasal dari berbagai kalangan, seperti dalang kondang Ki Seno Nugroho, seniman campursari terkenal Cak Dikin, hingga sederet MC ternama, termasuk juga sebagian keluarga keraton maupun abdi dalem. Namun, kehidupan Sunardi sebagai pembuat blangkon tradisional tampak sangat sederhana.
![]() |
| Sunardi tengah membuat blangkon dibantu istrinya. |
Ditemui Cendana News di rumahnya, Kamis (5/1/2017), Sunardi tampak sedang membuat blangkon pesanan pelanggan dengan dibantu istrinya. Sunardi mengaku sudah mulai membuat blangkon sejak umur 17 tahun.
“Awalnya dulu saya ikut orang. Lalu saya mulai memberanikan diri untuk membuat usaha sendiri. Saya belajar membuat blangkon hanya dari pengalaman serta masukan dan kritikan dari pelanggan para seniman, hingga akhirnya saya bisa seperti sekarang,” ujarnya.
Sunardi mengaku memfokuskan diri membuat blangkon khusus ageman atau pesanan individu. Bukan blangkon kodian yang diproduksi secara massal dan dipasarkan di toko-toko atau pasar tradisional. Tak heran, kualitas dan harga blangkon buatan Sunardi pun di atas rata-rata blangkon pasaran.
Dijelaskan Sunardi, blangkon memiliki berbagai macam jenis, baik dari gaya, bentuk, corak, motif, hingga fungsinya. Sunardi sendiri lebih banyak membuat blangkon gaya Yogyakarta yang memiliki ciri khas memiliki mondolan atau tonjolan di bagian belakangnya.
“Blangkon Yogya itu sendiri juga banyak macamnya. Ada gaya mataraman, kagok, juga pidhian. Semua memiliki ciri berbeda. Apalagi untuk warna dan coraknya, ada ratusan,” jelasnya.
Dibantu istri dan anaknya, Sunardi mengaku hanya mampu membuat sebanyak 2-3 blangkon setiap harinya. Diawali dari proses mewiru kain dan membuat congkeng atau bagian dalam. Lalu dilanjutkan dengan membuat tanjungan untuk kemudian menjahit dan mencetaknya. Semua dilakukan secara manual dengan tangan. Dengan produksi yang sangat terbatas itu, tak heran untuk memesan blangkon di tempat Sunardi, butuh waktu setidaknya hingga mencapai tiga bulan. Pelanggan yang memesan blangkon pada tanggal 5 Januari ini, baru bisa mengambil pesanannya pada 5 April mendatang. Hal itu disebabkan karena banyaknya jumlah antrian pemesan blangkon Sunardi.
“Sampai saat ini ada sekitar 70 antrian pesanan dari berbagai daerah. Biasanya itu para langganan teman-teman seniman. Baik dalang, wiyogo, mc, dan sebagainya,” katanya.
Kualitas sebuah blangkon sendiri, dikatakan Sunardi, dapat dinilai dari bentuk, motif, kehalusan jahitan dan bahan, serta yang tak kalah penting adalah nyaman atau tidaknya blangkon itu saat dikenakan.
“Blangkon itu selera. Cocok cocokan. Kalau sudah merasa cocok dan nyaman dipakai pasti akan langganan, walaupun harus antri sekian bulan,” katanya.
Untuk membuat sebuah blangkon bisa sesuai ukuran kepala pemesan, Sunardi harus mengukur setidaknya 3 ukuran. Ia lalu akan menerapkannya di cetakan kepala yang terbuat dari kayu mahoni. Ia sendiri mengaku memiliki sedikitnya 15 jenis ukuran kayu cetakan kepala di rumahnya.
“Untuk harganya bervariasi. Mulai dari Rp 130 ribu hingga Rp 600 ribu bahkan ada yang sampai jutaan. Tergantung bahannya. Kalau bahan kain batiknya berkualitas tentu akan semakin mahal,” ujarnya.
Di kampung Sunardi sendiri, yakni kawasan Patangpuluhan dan Bugisan, Wirobrajan, Yogyakarta, sedikitnya terdapat 10 orang perajin atau pembuat blangkon. Para pembuat blangkon ini sudah ada sejak sekitar tahun 1990-an.
“Awalnya dulu hanya satu orang, yakni Mbah Noto Diharjo. Namun, berkembang seperti sekarang. Karena banyak pembuat blangkon yang awalnya ikut orang sebagai karyawan, akhirnya buka usaha sendiri. Termasuk juga saya ini,” katanya.
Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana