Seluruh Al-Qur’an Diinjak-Injak oleh Pemuda Rakyat PKI di Kanigoro 1965

RABU 18 JANUARI 2017
KEDIRI—Perempuan berusia 71 tahun bernama Badriah itu selalu terngiang kebiadaban pemuda rakyat Partai Komunis Indonesia (PKI) kepada Pelajar Islam Indonesia (PII) di Kanigoro, pada 13 januari 1965. Sebagai ketua  cabang Pemuda Islam Indonesia (PPI) Cut Nyak Dhien, Badriah dikirim untuk mengikuti mental training di Desa Kanigoro, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri.
Bradriah.
Selain menjadi peserta mental training, Badriah juga merangkap sebagai ketua asrama putri. Sebelum terjadi peristiwa penyerbuan PKI, selepas shalat Subuh berjamaah, Badriah mengikuti kuliah subuh yang disampaikan oleh Anis Abioso. Setelah selesai kuliah Subuh, Badriah meminjam Al-Qur’an dari temannya untuk ia baca di teras asrama. Saat sedang membaca Al-Qur’an itulah, Badriah mendengar ada suara senjata api dan teriakan-teriakan yang menghina : Tangkap Santri Teklek dan tangkap Antek-Antek Masyumi.
Tak berapa lama, gerombolan PKI berdatangan dengan membawa berbagai jenis senjata. Badriah yang sedang khusyuk mengaji, Al-Qu’ran yang ia baca langsung diambil secara paksa, lalu dimasukkan kedalam karung. Setelah dimasukkan ke dalam karung, kemudian diinjak-injak oleh massa PKI. Semua peserta perempuan pun digiring ke luar asrama.
Badriah melihat sendiri, para PKI merampas dan memasukkan semua barang yang ada ke dalam karung. “PKI juga sempat melakukan pelecehan dengan meraba-raba bagia tubuh dari salah satu peserta perempuan dari Kertosono,” katanya.
Sebagai ketua asrama, Badriah di minta untuk membariskan para peserta perempuan, sambil menunggu komando dari ketua massa PKI. Ternyata, hanya peserta laki-laki saja yang digiring ke kantor polisi. Para perempuannya disuruh kembali ke kamar asrama masing-masing, lalu dikunci dari luar. 
Kegiatan mental training pun berhenti. Semua perbekalan dan uang sudah dirampas PKI. Badriah sempat berpikir, saat peristiwa itu berlangsung, hari itu adalah hari terakhir dalam hidupnya. Karena ia melihat banyak senjata yang dibawa oleh PKI. Tanpa melepas alas kaki, seluruh Al-Qur’an diinjak-injak.
Setelah peristiwa kekejian PKI tersebut, Badriah mengaku mengalami trauma yang berkepanjangan. Bertahun-tahun, baru ia bisa pulih dari trauma. “Mungkin karena saya wanita, rasa trauma itu masih terus ada. Bahkan, saya selalu menangis kalau mengingat peristiwa tersebut,” kenangnya.
Ketika mendengar ada orang yang masih simpati atau akan minta maaf kepada PKI, Badriah mengecam. “Mereka harus tahu kekejaman PKI saat aksi sepihak di Jengkol dan Kanigoro,” sergah Badriah.
Bagi Badriah, PKI adalah bahaya laten, karena bisa muncul dalam bentuk apapun. Kepada seluruh anak-nak muda, Badriah berpesan, agar ideologi komounis jangan sampai muncul lagi di negara Indonesia.
Jurnalis: Agus Nurchaliq/Editor: Irvan Sjafari/Agus Nurchaliq
Lihat juga...