![]() |
| Menko PMK Puan Maharani. |
Tren
- Perayaan Maulid Nabi dan Social Engineering
- Ketika Budi Arie Mencuri Angle Politik Jokowi dan Prabowo Menuju 2029
- Maulid Nabi dan Antibodi Peradaban
- Indonesia Berhasil Dekolonialisasi
- Belasan Triliun Danais, Mengapa Rakyat Sulit Mengakses?
- Road Maps Integrasi Indonesia-Dunia Islam
- Dari Government Program Menjadi Public Project
- Negara-Negara Muslim Pasca Pakta Mekah
- Karang Taruna: Liga Olahraga dan Seni Budaya
- Bukan Dinastinya, Melainkan Monopolinya
KAMIS 26 JANUARI 2017
JAKARTA—Batik Indonesia adalah salah satu ikon budaya hasil kearifan Bangsa Indonesia. Batik juga telah terinskripsi pada daftar representatif sebagai budaya takbenda warisan manusia pada 4th Session of the Intergovernmental Committee on Safeguarding Intangible Cultural Heritage UNESCO di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 30 September 2009. Saat ini penggunaan batik semakin beragam, tidak hanya untuk keperluan sandang, tapi juga untuk kebutuhan yang lebih luas. Misalnya, interior hotel dan gedung.
Untuk itu Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani mengajak berbagai pihak, yakni jajaran pemerintah, pelaku usaha, seniman, masyarakat dan perguruan tinggi untuk melestarikan dan mengembangkan batik.
“Marilah kita dengan bangga membeli dan memakai produk hasil industri kreatif bangsa kita. Dengan demikian kita turut melestarikan budaya, memperkuat jati diri bangsa, turut menyejahterakan bangsa dan negara Indonesia,” tutur Puan saat membuka acara Cipta dan Alun Budaya bertajuk “Perempuan dan Canting” di Stovia Heritage, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Jakarta, Rabu malam (25/01).
Melalui pemahaman makna simbolik yang terdapat pada batik, terang Puan, dapat menjadi media dalam menanamkan nilai-nilai pembangunan manusia Indonesia yang berintegritas, beretos kerja dan bersemangat gotong-royong. Kecintaan dan kebanggaan terhadap batik Indonesia yang telah menyebar di seluruh wilayah Indonesia tentu menjadi salah satu media pemersatu bangsa Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika.
“Saat ini sudah banyak anak muda yang senang memakai batik tetapi dengan gayanya sendiri. Untuk itu, perlu ada terobosan baru agar batik dapat diterima oleh masyarakat luas”, harapnya.
Puan mengapresiasi penyelenggaraan “Cipta dan Alun Budaya” ini sebagai cermin komitmen dan konsistensi bersama dalam mengangkat dan mengembangkan produk warisan budaya batik masa kini dan akan datang.
“Melalui kegiatan seperti ini, warisan budaya batik bukan sekadar didudukkan sebagai warisan budaya yang digelar secara seremonial, tetapi untuk digali dan dikembangkan menjadi kekuatan jati diri bangsa yang mampu menjadi inspirasi bagi kemandirian ekonomi, memperkuat daya saing dan meningkatkan peradaban bangsa,” tegasnya.
Jurnalis: Shomad Aksara/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Shomad Aksara
Lihat juga...