SABTU, 21 JANUARI 2017
SOLO — Jelang tahun baru Imlek, warga Keluarahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Kota Solo, Jawa Tengah menggelar lomba dayung. Dengan memanfaatkan kali (sungai) Pepe, yang ada di sekitar pemukiman warga, lomba tersebut sekaligus digunakan untuk sosialisasi mencintai lingkungan.
![]() |
| Lomba dayung |
Koordinator lomba dayung, Fransiskus Leehak mengatakan, setidaknya terdapat 12 peserta lomba dayung, yang mewakili 11 kelurahan yang ada di Kecamatan Jebres. Sedangkan 1 peserta berasal dari perwakilan dari kecamatan.
Meski untuk memeriahkan tahun baru Cina, peserta dalam lomba ini justru sebagian besar merupakan warga asli Solo, bukan keturunan Tionghua. Meski demikian, nuansa Tiongkok sangat terasa dengan adanya berbagai lampion yang membentang di sepanjang sungai.
![]() |
| Koordinator lomba dayung, Fransiskus Leehak saat memberi penjelasan |
Menurut Leehak, selain untuk menyemarakkan imlek, lomba dayung itu untuk lebih merekatkan persatuan dan kesatuan antar warga. Sebab, selama ini Kelurahan Sudiroprajan menjadi lokasi di Solo yang sudah puluhan tahun dikenal pluralisme sangat tinggi.
“Di kampung ini, kita antara keturunan Jawa maupun Cina semuanya berdampingan hidup bermasyarakat. Antar kepercayaan juga saling hormat menghormati,”sebutnya di sela kegiatan lomba, Sabtu (21/1/2017).
Selain itu, lomba diadakan untuk lebih meningkatkan kepedulian terhadap sungai.
“Yakni dengan tidak membuang sampah di sungai,”sebutnya.

Satu hal yang menjadi cita-cita warga Sudiroprajan selain kerukunan tetap terjaga, masyarakat bisa lebih mencintai lingkungan agar tetap menjaga. Diharapkan, sungai tidak lagi kotor banyak sampah dan dapat dijadikan wisata bahari.
“Cita-cita kami adalah, bagaimana sungai tengah kota Solo ini bisa jernih dan dapat dijadikan wisata air yang menarik,” pungkasnya.
Jurnalis : Harun Alrosid / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Harun Alrosid
