Konsep Industri Pariwisata, Bisa Jadi Solusi Pelestarian Rumah Tua di Banjarmasin

SABTU, 7 JANUARI 2017

BANJARMASIN — Pakar arsitektur Universitas Lambung Mangkurat, Ira Mentayani, mengatakan, bangunan rumah tua di Banjarmasin menyimpan potensi wisata yang semestinya segera dilestarikan. Menurutnya, aset rumah tua tidak dapat tergantikan sebagai artefak budaya dan warisan arsitektur.
Salah-satu Rumah Adat Banjar di Kelurahan Kuin Utara, hanya menyisakan secuil bagian dinding muka.
Ia menawarkan solusi agar pelestarian rumah tua difungsikan sebagai galeri budaya dan toko souvenir hasil kerajinan masyarakat. Pemerintah bertugas sebagai generator dan pemberi insentif untuk pemeliharaan. “Masyarakat dapat diberdayakan membantu mengelola dan mengembangkan fungsi rumah-rumah itu lewat industri pariwisata sebagai wadahnya,” ujar wanita yang juga salah-satu penulis buku berjudul Anatomi Rumah Bubungan Tinggi, itu kepada Cendana News, Sabtu (7/1/2017). 
Ira optimis, konsep tersebut berpotensi menopang perekonomian lokal berbasis pariwisata industri kreatif. Rumah tua harus memiliki fungsi dan manfaat pariwisata, agar tidak lenyap di tengah arus modernisasi. Pemerintah, kata Ira, sepatutnya mengelola dengan konsep adaptif re-use. “Disematkan fungsi baru pada bentuk aslinya,” jealsnya.

Baca Juga: Kota Tua di Kawasan Sungai Jingah Banjarmasin Memikat Turis Asing

Ira menginventarisir, ada sejumlah titik kota tua yang layak dipoles sebagai destinasi wisata di Kota Banjarmasin, seperti Kampung Arab (Antasan), Kuin, Alalak, Sungai Jingah, dan Kampung Seberang Masjid (Balai Laki). “Harus dilestarikan, karena kondisinya semakin memprihatinkan. Jangan sampai kita kehilangan sejarah fisik kota dan memori kolektif yang akan dicari-cari generasi penerus,” ujar Ira, sembari mencontohkan kondisi rumah adat Banjar di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, yang semakin rusak tanpa perawatan. 
Kerusakan tersebut, menurutnya, akibat ketiadaan biaya dan pemahaman pentingnya melestarikan rumah Banjar. Itu sebabnya, Ira mendorong Pemerintah Kota Banjarmasin perlu melakukan pendampingan untuk membantu pendanaan secara berkala. Contoh di beberapa kota, kata Ira, pemerintah membeli aset budaya kota dari pewarisnya, kemudian dijadikan galeri budaya atau museum yang dikelola oleh pemilik rumah atau pewarisnya.
“Contohnya Rumah Bubungan Tinggi di Teluk Selong, Martapura, yang jadi salah-satu kunjungan wisata budaya. Rumah ini dirawat di bawah tanggungan dan bantuan Pemerintah Kota, sehingga dapat menjadi warisan budaya yang terjaga.,” katanya.
Masih menurut Ira, rumah adat Banjar mempunyai keunikan dengan nilai historis dan filosofis yang menggambarkan karakter masyarakatnya. Mengutip sejumlah studi literatur, Ira menuturkan, desain, konstruksi, bahan-baku, dan fungsi ruang utama rumah adat Banjar berakulturasi dengan budaya Melayu. Walaupun sempat muncul pengaruh Kerajaan Demak terhadap Kesultanan Banjar, tapi masyarakat Banjar berkembang di tengah pengaruh budaya melayu yang tinggal di daerah pesisir. 
“Pengaruh budaya Jawa peninggalan Negara Daha nampaknya kurang berkembang selepas Sultan Suriansyah (Pangeran Samudera) memindahkan eks ibukota dan sebagian penduduk Negara Daha ke daerah pesisir,” begitu tertulis dalam buku berjudul Anatomi Rumah Bubungan Tinggi, Fungsi dan Filosofi Rumah Adat Banjar yang juga tertulis dalam buku berjudul Inventarisasi Arsitektur Banjar karya Anhar.
Adapun dalam buku Arsitektur Tradisional Banjar Kalimantan Selatan, Samsiar Seman menuliskan, Rumah Adat Banjar terdiri atas 11 tipe, yaitu Bubungan Tinggi, Gajah Baliku, Balai Laki, Balai Bini, Palimasan, Palimbangan, Gajah Manyusu, Cacak burung, Anjung Surung, Tadah Alas, dan Bangun Gudang. Komunitas Pecinta Rumah Adat Banjar memakai 11 tipe rumah ini untuk mendata rumah adat Banjar di sejumlah titik.
Hasil disertasi pada 2015 lalu, Ira Mentayani menemukan kesimpulan, bahwa rumah lanting bukan tergolong rumah adat Banjar. “Karena fungsinya bukan hunian, melainkan sebagai toko terapung. Selain itu, rumah lanting tidak memiliki hirarki dan filosofi ruang yang biasanya melekat pada sebuah rumah adat,” kata Ira.
Ira mengatakan lagi, Rumah Adat Banjar kebanyakan berdiri menghadap sungai menyesuaikan geografis Banjarmasin. Pemukiman di kota ini lahir dan tumbuh secara linier mengikuti morfologi sungai. Di masa lalu, kata Ira, sungai menjadi urat nadi kehidupan masyarakat di Banjarmasin. Aneka fungsi sungai yang dimaksud Ira seperti sebagai sumber air baku, mata pencaharian, dan jalur transportasi antar kampung lainnya. Fungsi dan makna masyarakat terhadap sungai berupa aspek pengetahuan, kesadaran, dan ketergantungan. 

Jurnalis : Diananta P. Sumedi / Editor: Koko Triarko / Foto : Diananta P. Sumedi

Lihat juga...