Atap Genteng Tuntas Diperbaiki, Gereja Tua Sikka Terlihat Lebih Cantik

MINGGU, 8 JANUARI 2017

MAUMERE — Bicara bangunan bersejarah di kabupaten Sikka tentu tak lengkap bila tidak menyebutkan Gereja Tua Sikka. Saban hari, belasan wisatawan lokal bahkan wisatawan asing baik secara perorangan dan rombongan menyambangi gereja tua ini.
Rangka atap bangunan gereja berbahan kayu jati
Berada di desa Sikka, kampung tua dengan rumah yang sudah bergaya modern gereja tua Sikka masih tetap indah dengan perpaduan warna putih dan cokelat. Konstruksi atap dua air bersusun dua dengan menara lonceng di bagian depan memperlihatkan bentuk kuno bangunannya.
Jendelanya terbuat dari kaca-kaca patri berbentuk lonjong berbaris dua tingkat menampakan kesan antik. Yang menarik pula, konstruksi rangka penopang atap di bagian dalam. Kayu-kayu disambung bersilangan dengan tiang-tiang kayu segi empat sebagai penopang.
Perpaduan warna kuning dan cokelat pada kayu-kayunya menambah kesan indah bangunan ini. Di sekeliling dinding bangunan bagian dalam gereja setinggi sekitar 70 sentimeter dilukis dengan motif kain tenun Sikka.
“Semua genteng sudah diganti dan dicat pertengahan tahun 2016 menggunakan dana bantuan seorang donatur dari Belanda yang sangat peduli akan nasib bangunan ini,” sebut Sejarawan dan budayawan Sikka yang akrab disapa Goris yang ditemui Cendana News di rumahnya, Jumat (30/12/2016). 
Tampak depan gereja tua Sikka dengan kapel Senhor dan sumur tua
Goris menambahkan, masih beberapa kaca patri yang belum diganti sebab motifnya juga susah dan harus memesan secara khusus. Namun demikian secara keseluruhan, renovasi bangunan tua ini sudah tuntas termasuk pengecatannya.
Selain itu bebernya, semua bangunan tiang dan kayu di bagian dalam pun sudah selesai di cat termasuk lukisan motif tenun di dinding gereja sesuai warna aslinya. Bangku kayunya pun tetap sama namun dibuat mengkilap.
Bangunan bersejarah ini sebut Orestis Parera, sejarawan budayawan Sikka lainnya yang ditemui Cendana News mengakui, gereja tua ini dibangun tahun 1896 oleh Pater Yohanes Engbers bersama raja Sikka, Andreas Djati da Silva.
Bangunan gereja lanjutnya, dirancang oleh Pater Dijkmans yang juga merancang bangunan gereja Katedral Jakarta dengan arsiteknya Bruder Leuvenberg, yang saat itu bertugas di Larantuka dibantu oleh  Tiburtius Risi Parera selaku tukang batu serta Moat Kensong da Cunha Solapung sebagai tukang kayu.
“Raja Andreas meninggal dunia sekitar tanggal 15 Juni 1898 sehingga kerjasama ini dilanjutkan penggantinya Raja Yosef Mbako Ximenes da Silva hingga rampung dan diresmikan melalui Misa meriah malam Natal, 24 Desember 1899,” terangnya.
Lukisan motif tenun ikat di dinding gereja
Yang menarik tambah Goris, sejak awal dibangun, dinding bangunan dalam gereja dilukis dengan motif tenun ikat Sikka dimana di bagian altar dilukis dengan motif Gabar motif tenunan khusus pakaian raja berbentuk belah ketupat.
Sementara dinding di bagian bawah altar dilukis dengan motif Wenda berbentuk buah kapas, motif tenun ikat yang biasa dipakai masyarakat dalam keseharian tapi tidak dikenakan saat pesta.
Pada bagian depan gereja bagian utara terdapat kapel Senhor. Senhor dalam bahasa Portugis berarti Tuan, patung Tuhan Yesus, patung Sengsara Tuhan Yesus yang selalu diarak saat prosesi Jumat Agung.
“Saat prosesi umat yang memiliki ujud khusus harus berjalan menunduk di bawah usungan keranda Senhor sehingga dinamakan ritual Logu Senhor, ritual warisan Portugis,” sebutnya.
Disaksikan Cendana News, persis di samping pintu depan gereja bagian selatan terdapat sumur tua yang dahulunya dipakai sebagai penampung air. Tulisan di dinding sumur menjelaskan, sumur tua ini selesai dikerjakan tanggal 01 Desember 1969 oleh pater Musinski, Superior General ( Supgen ) Ordo SVD (Serikat Sabda Allah).
Pekuburan umum yang berada di kiri kanan bangunan gereja tua sudah bergaya modern dilengkapi dengan keramik dan bangunan berbentuk masa kini. Namun sayang, lokasi pekuburan ini terkesan tidak terawat dimana rerumputan tumbuh subur bahkan menutupi beberapa kuburan yang ada.
Bangunan pastoran dengan dua buah meriam di depannya
Selain itu berhadapan dengan gereja tua, terdapat gedung pastoran, tempat tinggal pastor yang dibangun menggunakan kayu jati dengan panjang bangunan  20 meter dan lebar  6 meter. Semua kaca jendelanya pun masih asli seperti dulu.
Di bagian sebelah barat bangunan kayu ini terpajang dua meriam peninggalan Portugis berukuran kecil sepanjang sekitar satu meter lengkap dengan kereta roda dua tempat meletakan meriam ini. 
Bila ke kabupaten Sikka tak lengkap rasanya bila tidak menyambangi tempat bersejarah ini. Selain melihat gereja tua, wisatawan pun bisa melihat Lepo Gete, istana raja di sebelah selatannya sekitar 30 meter serta membeli tenun ikat di samping gereja ini.
Kampung Sikka atau Sikka Natar berada sejauh sekitar 30 kilometer arah barat kota Maumere dan bisa dijangkau dengan menumpang angkutan kota dengan biaya sekitar 50 ribu rupiah pulang pergi namun angkutan masih jarang tersedia sehingga membutuhkan waktu untuk menunggu.
Sumur tua yang berada persis di sebelah selatan pintu depan gereja
Wisatawan bisa menumpang ojek sepeda motor dengan biaya sekitar 100 sampai 150 ribu rupiah pulang pergi (tergantung penawaran) atau bila bersama rombongan, sebaiknya mencarter mobil travel dengan harga 300 ribu rupiah sehari.

Jurnalis : Ebed de Rosary / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Ebed de Rosary

Lihat juga...