Alat Bantu Tunadaksa KKD Digunakan dari Sabang-Merauke

SENIN 9 FEBRUARI 2017

BANDUNG—Mahalnya alat bantu tunadaksa dipasaran, Kelompok Kreatifitas Difabel (KKD) merasa perlu membuat kaki dan tangan palsu yang ramah di kantong. Berawal dari empat orang penyandang disabilitas pada 2009 silam, produk KKD kini mulai dikenali dari Sabang sampai Merauke. 
Anwar Permana dan produknya. 
Ketua KKD, Anwar Permana (41) mengaku dari awal didirikan KKD hanya memiliki modal pas-pasan, yaitu sumbangan dari setiap anggota yang notabene memiliki keterbatasan fisik juga.
“Sekarang Alhamdulillah, dari Sabang sampai Merauke produk kita sudah ada yang tahu. Belum lama ini ada dari Marauke sengaja datang ke sini,” ujar Anwar di bengkel KKD, Jalan Babakan Sari II, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin (9/1/2017).

Kini anggota KKD ada 11 orang, di mana tak melulu berasal dari Kota Bandung. Beberapa di antaranya berasal dari Jawa Tengah. 

Untuk membuat alat bantu tunadaksa ini KKD memanfaatkan barang bekas, seperti engsel dan kayu. Itu untuk mempangkas ongkos produksi juga harga jual. Namun soal kualitas boleh diadu dengan produk dari pabrikan.
“Pembuatannya tergantung permintaan pemesan inginnya yang seperti apa baru kita bikin. Karena kan yang tunadaksa itu berbeda-beda seperti apa keperluanya,” katanya.
Dia sampaikan, untuk harga berkisar antara Rp2 juta hingga Rp6 juta. Namun harga tersebut jauh lebih murah dari yang biasa dijual di Rumah Sakit. Dia mengklaim, untuk alat bantu tunadaksa ini memang cukup mahal. Di pasaran bisa mencapai Rp10 juta hingga Rp20 juta.
KKD sendiri memiliki program subsidi silang. Andikata ada empat alat bantu yang sudah terjual maka ada satu untuk penyandang cacat yang kurang mampu.
“Tapi kendalanya ya banyak yang ngambil subsidinya saja, jadi pengen gratis,” ungkapnya.
Selain alat bantu tunadaksa, KKD juga menjual beras yang 50% hasil penjualan beras akan disumbangkan untuk pembuatan alat bantu.
Kendala lainnya, sejauh ini KKD selalu berpindah-pindah tempat. Sejak 2009 didirikan, sudah empat kali bengkel pembuatan alat bantu tersebut pindah.
“Karena selama ini kami hanya mengontrak,” pungkasnya. 
Suasana workshop.
Jurnalis: Rianto Nudiansyah/Editor: Irvan Sjafari/Foto; Rianto Nudiansyah.
Lihat juga...