Semarak Orang Banjar Merayakan Ba’ayun Maulid

SENIN 12 DESEMBER 2016

BANJARMASIN—Lantunan salawat nabi terus berkumandang dari balik corong pengeras suara di pelataran Masjid Sultan Suriansyah, Kelurahan Kuin Utara, Kota Banjarmasin. Di bawah mendung yang masih menggelayut ketika hari mulai beranjak siang, celoteh anak-anak dan ratusan orang dewasa yang meriung di tengah deretan ayunan menambah semarak pelataran masjid, Senin (12/12/2016). 
Suasana perayaan Ba’ayun Maulid di Banjarmasin,
Ratusan ayunan yang dibuat dari kombinasi balutan kain jarik dan kain warna kuning itu berkalang hias dengan aneka untaian pernak-pernik sesajen, seperti jajanan pasar, duit, buah pisang, dan ketan. Di masjid bersejarah itu, warga Banjarmasin sedang merayakan ritual adat menyambut kelahiran Nabi Muhammad yang jatuh pada 12 Desember 2016 atau 12 Rabiul Awal 1438 Hijriah dalam kalender Islam.
Suku Banjar kerap menyebut ritual ini sebagai Ba’ayun Maulid sekaligus merayakan haul Sultan Suriansyah. Puluhan warga pun terus berdatangan mendatangi pusat kegiatan yang rutin digelar setiap tahun tersebut.
Pantaun Cendana News di lokasi, peserta yang terdiri atas balita, anak-anak, dan orang tua, saling berayun-ayun di sela ayunan kain. Banyak pula balita yang merengek
ketika orang tuanya menggerakkan jarit ayunan tersebut. Adapun peserta dari orang lanjut usia sekedar duduk di sela ayunan sambil mengayunkan jarit. Seorang peserta
nenek lanjut usia menolak berkomentar ketika Cendana News menyodorkan pertanyaan. “Enggak,” kata wanita sepuh yang enggan membuka identitasnya itu. Orang tua peserta atas nama Azka Rabbani yang berusia 1 tahun, Ratih Intani, mengatakan baru pertama kali ini mengikutkan anaknya di Ba’ayun Maulid. Melalui perayaan
hari kelahiran Nabi Muhammad, Ratih berharap anaknya mendapat hidayah sekaligus meneladani sikap hidup Rasulullah. “Saya baru pertama ini ikut, agar anak saya mendapatkan hidayah dan berhasil menjalani hidup,” ujarnya.
Ketua panitia Ba’ayun Maulid di Masjid Sultan Suriansyah, M. Noor, mengatakan pagelaran Ba’ayun Maulid tahun 2016 diikuti 507 peserta. Menurut dia, peserta tahun ini
melonjak ketimbang acara serupa di tahun 2015 yang diikuti hampir 300-an peserta, seiring makin antusiasnya masyarakat merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad. “Tahun 2016, peserta termudah berusia 7 hari dan tertua berusia 83 tahun,” kata M. Noor di sela acara Baayun Mulud.
Adapun Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina, mengatakan Ba’ayun Maulid bertujuan melestarikan adat budaya Suku Banjar, selain perayaan hari lahir Nabi Muhammad. Menurut dia, peserta yang hadir di Ba’ayun Maulid menjadi bukti kecintaan terhadap Allah SWT dan Rasulullah.
“Saya harap setiap tahun pesertanya tambah banyak dan meriah, ini sudah tradisi Banjar” kata Ibnu Sina. Selain di Kota Banjarmasin, sejumlah kabupaten/kota ikut merayakan Ba’ayun Maulid, seperti Banjarbaru, Tapin, dan Banjar. Itu sebabnya, ia optimistis Ba’ayun Maulid berpotensi jadi destinasi wisata berbasis religi di Banjarmasin dan sekitarnya.
Mengutip sejumlah sumber literatur budaya Banjar, Ba’ayun Maulid yang semula bernama Ba’ayun Anak, merupakan ritual tradisi budaya orang Suku Banjar yang mendiami Kalimantan Selatan. Jauh sebelum Islam masuk ke daratan Kalimantan, Suku Banjar kerap melakukan ritual Ba’ayun Anak untuk mengenalkan si anak kepada Datu Ujung atau sosok sakti mandraguna yang diyakini Suku Banjar.
Orang Banjar dan sebagian sub Suku Dayak yang mendiami Kalimantan Selatan dulu, meyakini bahwa anak-anaknya bisa mendapat keberkahan hidup, tidak mudah menangis, dan terhindar dari marabahaya ketika merayakan Ba’ayun Anak di hadapan Datu Ujung.
Seiring masuknya agama Islam di tanah Banjar, ritual Ba’ayun Anak pun berakulturasi dengan ajaran Islam. Ritus Ba’ayun Anak akhirnya bersalin menjadi Ba’ayun Maulid yang bertujuan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. “Agar si anak mendapatkan sifat-sifat teladan Nabi Muhammad, dapat berkah, dan dilindungi dari malapetaka,” kata M. Noor.
Jurnalis: Diananta P. Sumedi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Diananta P. Sumedi
Lihat juga...