SENIN, 5 DESEMBER 2016
JOMBANG—Meski peringatan Hari Guru diperingati setiap tanggal 25 November, ternyata kesejahteraan guru honorer di Indonesia masih jauh dari kata sejahtera. Contohnya, guru honorer di salah satu Taman Kanak-Kanak (TK) di pedesaan di Jombang, Zeni Ningrum (24 yang rela mengabdikan dirinya menjadi guru honorer karena panggilan hati. Alumnus Universitas Brawijaya Malang ini memang sejak awal ingin mengabdikan diri di dunia pendidikan. Akhirnya ada kesempatan di TK dekat rumahnya. Sejak tahun 2014 lalu, Zeni menjadi guru honorer di TK tersebut.
![]() |
| Seorang kelas di sebuah TK di Jombang. |
“Awalnya ingin belajar jadi guru, saya tertarik dengan dunia pendidikan,” jelasnya kepada Cendana News, Senin (5/12/2016).
Ia pun diberi tanggung jawab mengajar satu kelas dengan jumlah murid sebanyak 60 siswa. Zeni tidak sendirian, ia dibantu dengan satu guru honorer lainnya. Keduanya mengajar mulai pukul 07.00-11.00 WIB. Tiap bulan ia hanya digaji Rp 200 ribu. Meski dengan uang tersebut, ia harus ekstra irit, Zeni merasa panggilan hatinya untuk tetap berada di sekolah tersebut.
“Kadang di sela-sela jam istirahat, saya bawa bekal sendiri dari rumah demi bisa irit biaya,” cakapnya.
Menjadi guru TK menurut Zeni harus memiliki kesabaran dan hati yang lapang.
“Saya tidak hanya belajar jadi guru yang baik, tapi juga ibu yang baik,” ujarnya.
Pasalnya, seringkali di tengah-tengah proses belajar mengajar ada salah satu siswa yang ingin buang air besar atau buang air kecil. Tugas Zeni harus mengantar dan ikut membersihkan keperluan siswa tersebut.
“Sudah seperti suster penjaga bayi, ya karena memang beban per kelasnya banyak 60 siswa,” tuturnya.
Ia berharap guru honorer lebih diperhatikan nasibnya, peluang untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) harus diperlebar. Zeni juga mengungkapkan nasibnya lebih bagus daripada salah seorang guru honorer di Malang yang hanya digaji Rp 100 ribu per bulan.
“Minimal ada perhatian sedikit dari pemerintah terkait kesejahteraan guru honorer,” tandasnya.
Selain berharap kesejahteraan guru honorer lebih diperhatikan, Zeni pun juga berharap syarat mengurus akreditasi, Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) dan sertifikasi jangan dipersulit.
“Karena itu mengajarkan korupsi akibat birokrasi yang berbelit-belit,”
Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor: Satmoko / Foto: Charolin Pebrianti