KAMIS, 15 DESEMBER 2016
SURABAYA — Indonesia saat ini tidak mempunyai otoritas maritim yang kuat. Padahal, sebagai negara kepulauan yang sebagian wilayahnya diisi oleh perairan, Indonesia ternyata masih belum memiliki keinginan kuat menjadikan visi poros maritim sesuai apa yang didengungkan oleh Presiden Joko Widodo.
| Rektor ITS Prof Joni Hermana (kanan) didampingi Prof Daniel M Rosyid (dua dari kanan) membuka SENTA |
Hal ini diungkapkan Prof. Daniel Rosyid dalam Seminar on Marine Technology Innovation (SENTA) yang dihelat Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (FTK ITS) Surabaya, Kamis (15/12/2016).
“Lulusan teknologi maritim di Indonesia harus berani mengambil risiko kerja di Indonesia bagian timur,” tegas Daniel yang juga Dekan FTK saat menjadi Keynote Speaker di seminar yang dihelat di ruang BG Munaf FTK.
Daniel menginginkan, SENTA 2016 ini memusatkan pembahasan agar pembangunan di sektor maritim Indonesia merata dari Sabang sampai Merauke.
“Permasalahan saat ini, Indonesia hanya gencar melakukan pembangunan maritim di kota besar, sedangkan daerah pesisir masih diabaikan,” ujar Daniel.
Mengutip ucapan Jokowi, Daniel mengatakan, saat ini Indonesia mempunyai rencana besar membangun industi maritim dari daerah pinggiran terutama pesisir. Kesalahan pola pikir yang terbentuk di masyarakat ialah memusatkan produksi hanya pada daerah barat. Sedangkan, daerah timur yang kaya akan sumber daya alam ditinggalkan.
“Hal ini yang harus diubah,” tegas dosen Teknik Kelautan ini.
Menjawab permasalahan ini, Daniel menyatakan solusi bahwa para mahasiswa lulusan universitas yang berkaitan dengan jurusan maritim agar berani melirik daerah Indonesia timur. Menurutnya, solusi ini dapat menekan kesenjangan pembangunan di Indonesia, para lulusan bisa mengembangkan infrastruktur maritim di daerah timur.
Namun, menurut Daniel, orang lokal yang berada di daerah asal sering kali menolak kehadiran para lulusan yang dianggap asing bagi mereka.
“Padahal, niat awal para lulusan itu adalah membangun peradaban maritim yang lebih maju,” terang Daniel yang juga lulusan doktor dari Newcastle University, Inggris ini.
| Rektor ITS di Dampingi Kajur Perkapalan Meninjau Lokasi Pameran SENTA |
Dosen yang juga aktif sebagai pengamat dunia pendidikan, ini melihat masalah tersebut tidak menjadi permasalahan utama bagi para lulusan yang akan disebar ke berbagai penjuru daerah pesisir di Indonesia. Bahkan, ungkap Daniel, hal ini bisa menjadi peluang baru yang prospektif untuk para lulusan dalam ketatnya persaingan dunia kerja.
“Itu bukan hal yang utama, namun, upaya memberdayakan Indonesia di poros maritim internasional ialah dengan desain berkelas internasional, namun dengan konstruksi dan pengoperasian armada laut nasional,” tutupnya.
Jurnalis : Nanang WP / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Nanang WP