Komunitas di Bandung Ini Ajak Ibu Rumah Tangga Lebih Produktif

Sabtu, 10 Desember 2016
  
BANDUNG — Sebagai wanita karir sekaligus Ibu Rumah Tangga (IRT), biasanya memiliki kesibukan ekstra. Namun, hal itu bagi lima wanita asal Bandung, Jawa Barat, berikut ini tak menjadi hambatan untuk tetap berkreasi.
Garage Sale atau toko penjualan barang bekas milik ibu-ibu kreatif di Bandung.
Lima wanita itu adalah Airinia, Antjheu Chaizir, Gita Novitadewi, Dewi Angkasa dan Tumaze Rine. Di sela pekerjaan utamanya sebagai arsitek, pengacara, public relation (pr), perias pengatin dan programer IT, kelimanya masih bisa meluangkan waktu untuk melakukan kegiatan positif dengan mendirikan Komunitas Bandrös Markt. 
Komunitas yang digagas sejak Desember 2004 ini memiliki misi membimbing para IRT untuk lebih produktif. Salah-satu kegiatannya adalah membuat garage sale atau toko penjualan barang bekas yang masih bermanfaat dan layak pakai.
“Dari pada beli barang baru, tapi membeli dengan kredit malah jadi hutang. Pokoknya hidup lepas dari stres untuk ibu-ibu yang aktifitasya banyak,” ujar salah satu anggota, Airina kepada Cendana News, Sabtu (10/12/2016).
Menurutnya, di Indonesia garage sale belum dikenal luas. Bahkan, beberapa orang menganggapnya pasar loak. “Padahal, barang-barang kami jarang yang lama di gudang atrau tidak terjual, karena kami punya standar. Harus yang layak pakai dan harganya murah, agar orang beli bisa puas,” katanya.
Tak hanya itu, kelompok ini juga aktif menggelar kegiatan berbagi cerita soal isu anak dan keluarga. Wanita dengan tiga anak ini menambahkan, komunitasnya pun rajin melakukan pelatihan, di antaranya Bahasa Inggris untuk ibu, Yoga serta menjahit untuk anak-anak.
“Salah satu anggota kami, Tumaze Rine, suka sekali mengajar anak-anak menjahit, karena ia berhasil melepaskan ketergantungan anaknya dari gadget. Anaknya saat usia 9 tahun sudah bisa menjahit baju daster, boneka, tas dan lain-lain,” tuturnya.
Disinggung soal nama komunitasnya yang menggunakan istilah Jerman, Airina menjelaskan, jika hal tersebut karena pemakaian kata market sudah berjibun. 
“Supaya tidak kena copyright (plagiat –red) Bandros atau Bandung Tour on The Bus (bus wisata di Kota Bandung -red), maka ditambahkan huruf O-nya pakai ö Bahasa Jerman dan kata market menjadi markt,” jelasnya.

Jurnalis : Rianto Nudiansyah / Editor : Koko Triarko / Foto : Istimewa

Lihat juga...