Jengkol “Si Ati Maung” Menyegat Tapi Selalu Diburu

SABTU, 03 DESEMBER 2016

BANDUNG — Jengkol atau jering tumbuh subur di Asia Tenggara, begitu pula di Indonesia. Kendati mengeluarkan bau menyengat, tumbuhan yang termasuk suku polong-polongan (Fabaceae) ini cukup favorit untuk dikonsumsi masyarakat di Negeri ini.
Di Jawa Barat, jengkol sering disebut “Ati Maung” alias hati macan. Masyarakat biasa mengolahnya menjadi semur, dimasak kecap, balado, digoreng maupun dimakan mentah.
Ririn Airina (38), penikmat sekaligus penjual olahan jengkol mengatakan, ada banyak cara memasak jengkol agar terasa lezat. Salah satunya dengan direndam dengan minuman bersoda, guna teksturnya lembut.
“Tapi kalau saya masak jengkol enggak pernah pakai minuman bersoda, karena kan itu enggak baik juga. Biasanya ya direndam dulu seharian dalam air sebelum dimasak,” ujar Ririn.
Setelah itu, lantas jengkol digodok sekitar setengah hingga satu jam. Untuk proses ini tidak boleh terlalu sebentar juga terlalu lama.
Ririn juga katakan, cara memilih jengkol yang baik itu tergantung dengan keperluan dan jenis masakan yang akan dibuat. Misalnya saja untuk semur biasanya dipilih yang sudah matang, namun untuk balado justru yang setengah matang.
“Gampang milihnya kalau yang masih muda warna kulitnya hitam dan dalamnya hijau, kalau yang matang sedikit coklat kulitnya dalamnya agak kuning dan empuk kalau dipijit,” tuturnya.
Wanita berdarah Sunda-Padang ini tak menampik harga jengkol cukup fluktuatif. Terkadang mencapai Rp. 85 ribu per kilogram tapi bisa juga hanya Rp. 45 ribu.
Meskipun harga sedang melambung, menurutnya, jengkol tetap dicari oleh masyarakat. Dan Ririn salah satunya. Setelah mengkonsumsi jengkol biasanya urin, feses bahkan keringat menjadi bau sehingga menggangu orang lain yang tidak menyukai makanan ini. Namun dia punya tips untuk mengatasi hal itu.
“Biasanya kalau anak muda setelah makan jengkol minum minuman bersoda, tapi saya punya teman seorang dokter katanya cukup minum vitamin B saja supaya tidak bau,” katanya.
Konon jika memakan jengkol secara berlebihan akan menyebabkan penumpukan kristal di saluran urin. Penyakit ini biasa disebut jengkolan. Itu karena jengkol mengandung asam jengkolat yang tinggi dan sukar larut di air pada pH yang asam.
Hanya saja, jengkol juga dapat mencegah diabetes dan bersifat diuretik juga baik untuk kesehatan jantung. Selain itu pohon jengkol juga memiliki kemampuan menyerap air tanah yang tinggi sehingga bermanfaat dalam konsevasi air.

Jurnalis : Rianto Nudiansyah / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Rianto Nudiansyah

Lihat juga...