Doa dan Harapan Amin, Pengojek Sepeda Ontel Asemka Untuk Seluruh Warga Jakarta

SABTU, 17 DESEMBER 2016

JAKARTA — Dalam acara makan malam bersama yang diadakan komunitas @berbaginasi regional Jakarta Pusat pada Jumat (16/12/2016), malam, sekitar pukul 22.00 WIB, Cendana News sempat berbincang-bincang dengan Amin, seorang warga kolong Jembatan Layang Asemka, Jalan Pasar Pagi, Jakarta Pusat, yang berprofesi sebagai Tukang Ojek Sepeda Ontel.
Amin, Tukang Ojek Sepeda Ontel di Kawasan Asemka – Kota Tua Jakarta Kota.
Amin menjadi Tukang ojek sepeda ontel, karena dorongan kebutuhan ekonomi. Pendidikan yang kurang memadai semakin membuat hidup Amin kerap tidak dihinggapi pekerjaan menetap. Istri berikut keempat anaknya ia tinggalkan di kawasan Tangerang, untuk kemudian mencari nafkah di Megapolitan Jakarta sebagai tukang ojek sepeda ontel.
“Anak saya sudah empat, yang bungsu masih sekolah dasar, tapi kakak-kakaknya sudah selesai sekolah dasar semua. Mau melanjutkan tidak mencukupi biaya. Sayapun tidak bisa berkembang di Tangerang, lalu saya putuskan ke Jakarta menjadi tukang ojek,” kenang Amin, warga asli Desa Lebak wangi, Tangerang, Banten.
Dalam kurun waktu kurang lebih 5 tahun ini mengojek, banyak suka duka yang dialami Amin. Salah satu duka terberat adalah ia harus bersaing dengan ojek sepeda motor perorangan ditambah lagi ojek-ojek sepeda motor online yang jumlahnya menjamur di Jakarta.
“Uang juga sudah tidak ada harganya lagi sekarang. Jumlah 10 Ribu Rupiah bisa habis dalam hitungan detik di Jakarta. Bahkan kabarnya jutaan rupiah saja bisa habis dalam hitungan menit,” lanjut Amin.
Ojek sepeda ontel merupakan andalan masyarakat Jakarta kelas menengah ke bawah sejak dulu. Pada era 1980-1990an, harga ojek sepeda ontel masih berkisar Rp. 200-500. Namun, seiring perjalanan waktu dan pergantian zaman, harga ojek sepeda ontel per satu kali naik sekarang di Jakarta sudah Rp. 10.000. Jauh maupun dekat harganya sama. Tetapi, jika jaraknya sudah melebihi kadar ‘jauh’ yang dimaksud Amin, harga akan berubah.
“Bisa jadi 15-25 Ribu Rupiah, tergantung sampai sejauh mana permintaan konsumen,” kata Amin melengkapi.
Tempat tidur Amin dan rekan-rekannya sesama pengojek sepeda ontel di kolong Jembatan Layang Asemka, Pasar Pagi, Jakarta.
Pendapatan Amin per hari sebagai tukang ojek biasanya maksimal Rp. 50.000. Namun itu tidak tetap, karena terkadang saat ‘sewa’ sepi, ia harus pasrah menerima penghasilan hanya Rp. 20-30.000 per hari. Bahkan, ia pernah tidak dapat penghasilan sama sekali. Namun begitu, Amin tetap bisa menghidupi keluarganya sekaligus menjadi ayah yang bertanggung jawab bagi istri serta keempat anaknya hingga kini, berapa pun penghasilan yang didapatnya setiap bulan.
“Ya, harus begitu, Mas. Laki-laki, apalagi Kepala Keluarga, harus bertanggung-jawab. Tidak ada alasan untuk lari dari itu,” tegas Amin.
Ketika ditanya mengenai komunitas @berbaginasi, Amin tersenyum. Ada guratan kebahagiaan dan harapan di wajahnya sebelum menjawab pertanyaan Cendana News. Amin mulai bercerita, ia sering melihat kegiatan @berbaginasi di kolong-kolong jembatan sekitar Pasar Pagi hingga wilayah Kota Tua. Pertama kali ia bingung, dan menyangka mereka pendukung partai atau pendukung seseorang yang ingin menjadi pejabat.
Namun, lama-kelamaan, Amin tersadar bahwa komunitas itu hanya sebatas mengajak warga makan bersama, terutama warga kurang mampu yang tinggal di kolong jembatan.
“Anak-anak mahasiswa dari @berbaginasi itu akhirnya sudah seperti keluarga besar bagi warga di sini. Sama seperti saya, yang sudah dianggap keluarga oleh warga. Contohnya, saya tidak sanggup bayar kos, jadi memilih tinggal di bawah kolong Jembatan Asemka ini bersama teman-teman pengojek sepeda ontel berjumlah 10 orang. Dan, kami tidak pernah digusur Kamtib, karena warga sini bilang kami keluarga mereka,” ungkap Amin.
Ketika dilihat KTP, ternyata Amin masih ber-KTP Tangerang, Banten. Tapi, Amin mengatakan, karena ia dikatakan saudara oleh sesama warga kolong jembatan lainnya, ia terhindar dari kejaran petugas Kamtib. Bahkan, teman-temannya sesama pengojek sepeda ontel juga diijinkan tinggal dengan syarat merawat kebersihan sekaligus menjaga keamanan kawasan kolong Jembatan Asemka, Pasar Pagi.
Dengan adanya warga kolong jembatan Layang Asemka ini, tugas Koramil Tambora sebagai penyeimbang keamanan wilayah, yang hanya berjarak 700 meter dari kawasan tersebut, sepertinya ikut terbantu juga.
Buat Amin, kegiatan @berbaginasi yang kerap mengajak warga makan bersama mungkin bagi orang hanya hal biasa, namun bagi orang-orang seperti dirinya sangat berarti. Ia dan rekan-rekan pengojek maupun warga kolong Lembatan Layang Asemka merasa diperhatikan.
“Bukan nasinya yang dilihat, Mas. Tapi, jika ada mereka, saya seperti berada di tengah keluarga di kampung. Rasanya seperti ada keluarga di samping saya,” ujar Amin.
Harapan Amin ke depan, Indonesia, khususnya Jakarta, bisa lebih baik lagi. Dan, Komunitas @berbaginasi bisa terus datang walau hanya sekedar singgah, tanpa membawa nasi. Karena ia dan seluruh warga membutuhkan hal seperti itu. Perhatian yang tulus, tanpa iming-iming kepentingan apa pun.
“Zaman dulu lebih enak, Mas. Di kampung masih bisa menanam singkong dan angon (menggembala -red) ternak walau ternak milik orang. Tapi, begitu lepas kerusuhan Mei 1998, itu semua berubah. Kampung saya sepi, karena orang-orangnya banyak keluar cari penghidupan di Kota. Tapi, suasana kekeluargaan di tempat ini membuat saya lupa, kalau saya menderita selama ini,” tambahnya.
Harapan dan doa Amin, pekerjaan ojek sepeda ontelnya selalu diberkahi Tuhan, agar penghasilannya bisa memadai untuk menghidupi keluarga di kampung. Dan, tentunya teriring doa dari Amin untuk rekan-rekan @berbaginasi yang menurut Amin sudah menjadi keluarga besar bagi warga kolong Jembatan Layang Asemka, Pasar Pagi, Jakarta.
“Semoga semua orang Jakarta banyak rejeki, termasuk Mas juga,” pungkas Amin, sambil tersenyum, lalu menjabat tangan Cendana News.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : Koko Triarko / Foto : Miechell Koagouw

Lihat juga...