Bupati Ponorogo: Tak Ada Satu Jengkal Lahan Tanpa Organik

SENIN, 12 DESEMBER 2016
 
PONOROGO — Kesadaran petani di Ponorogo terkait bahaya menggunakan pupuk kimia berlebih untuk lahannya kini mulai terbentuk. Pasalnya, jika terlalu menggunakan bahan kimia, lahan yang awalnya gembur dan subur berubah menjadi lahan dengan tekstur tanah kasar dan keras.

Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, berjanji segera memberikan bantuan pupuk organik gratis kepada para petani.

Melihat hal ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo berjanji segera memberikan bantuan pupuk organik gratis bagi para petani dimulai Januari 2017 mendatang.

“Saya ingin tidak ada lahan satu jengkal pun tanpa tersentuh pupuk organik,” jelas Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni kepada Cendana News, Senin (12/12/2016).

Mengingat sebanyak 72% masyarakat Ponorogo bergantung pada sektor pertanian. Dukungan Pemkab kepada petani ditonjolkan melalui program pemberian pupuk organik gratis. Usai selama tahun 2016, lahan di Ponorogo ditimpa bencana banjir. Kerugian pun banyak diterima petani terutama petani jagung.

“Petani itu modalnya banyak karena untuk beli pupuk kimia, pestisida, dan lain sebagainya. Kalau perlahan diganti organik, biaya untuk itu semua tidak ada,” ujarnya.

Ipong mencontohkan tanaman padi per hektar menghasilkan 7-9 ton dengan harga jual Rp 4100 per kilogram. Padahal biaya produksi menghabiskan Rp 3200-3800 per kilogram. Dengan hasil seperti itu tentunya petani tidak mendapatkan keuntungan maksimal.

“Dukungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) kepada petani padi salah satunya dengan menolak impor beras masuk ke Jatim,” tuturnya.

Lanjutnya, demi meningkatkan tingkat kesejahteraan petani, Pemkab Ponorogo berinisiatif memberikan pupuk organik gratis kepada petani. Selain untuk menarik minat petani menggunakan pupuk organik juga untuk meningkatkan produksi padi per hektar.

“Selama ini menggunakan pupuk kimia kan merusak unsur hara dalam tanah, juga menghabiskan modal untuk beli pupuk dan pestisida. Jadi saya berharap petani bisa kembali ke organik, tapi secara bertahap,” pungkasnya.

Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor: Satmoko / Foto: Charolin Pebrianti

Lihat juga...