Wisata Kuliner Kampung Nelayan Bakauheni Masih Butuh Penataan

SENIN 12 DESEMBER 2016

LAMPUNG—Keberadaan Desa Bakauheni yang merupakan desa paling Selatan di Provinsi Lampung dan Pulau Sumatera menjadikan desa tersebut menjadi istimewa salah satunya dalam pengembangan sektor wisata. Kondisi tersebut dibenarkan oleh tokoh nelayan di Desa Bakauheni, Sadide yang juga merupakan anggota DPRD Lampung Selatan. Sadide mengungkapkan potensi hasil laut yang melimpah dari ratusan nelayan di dermaga pendaratan ikan Muara Piluk menjadi peluang peningkatan perekonomian nelayan setempat dari berjualan ikan tangkap ke sejumlah pasar dan sebagian diolah menjadi ikan asin, teri dan juga dijual dalam bentuk olahan kuliner berbahan dasar ikan laut. Sejumlah tempat bahkan telah menjadi lokasi penyediaan kuliner berbahan dasar ikan laut di antaranya di depan Menara Siger dan beberapa warung apung di dekat Dermaga Muara Piluk.
Menu hasil laut yang disajikan di wisata kuliner Bakauheni.
Sadide mengungkapkan perkembangan sejumlah warung apung atau tepatnya warung yang didirikan di atas air laut terjadi setelah dilakukan pembenahan dermaga. Pembenahan dermaga tersebut membuat ratusan perahu nelayan tertata apik, dermaga yang diperluas, pasar ikan higienis serta pengurukan tanah untuk menambatkan perahu tradisional nelayan berukuran kecil. Setidaknya telah berdiri sejumlah warung kuliner dengan menyajikan olahan hasil laut yang mulai berdiri di dekitar dermaga diantaranya mengolah otak otak, kerupuk ikan laut, bakso ikan, tekwan, pentol ikan, mpek mpek ikan serta olahan ikan yang langsung bisa disantap di warung warung apung.
“Pengunjung banyak datang jelang sore hingga malam hari namun kalau mau datang siang juga sekaligus bisa melihat dari dekat proses nelayan menurunkan ikan dari perahu, melihat transaksi jual beli ikan,”ungkap Sadide saat dikonfirmasi Cendana News, Senin (12/12/2016).
Hal yang paling disukai pengunjung untuk menikmati sajian kuliner di warung apung Bakauheni diantaranya bisa melihat Menara Siger yang menyala pada malam hari,melihat kapal-kapal roll on roll off (Roro) yang lalu lalang di Selat Sunda dan kelap kelip lampu nelayan yang mencari ikan. Selain suasana tersebut pengunjung juga bisa sambil menikmati sajian ikan kakap, tongkol, cumi cumi serta berbagai jenis ikan segar yang baru ditangkap dari laut dengan cara dibakar atau digoreng. Bagi yang menyukai makanan olahan lobster,kepiting bahkan bisa diolah dengan masih dalam kondisi segar dari keramba yang berada di sekitar dermaga.
Pengunjung menikmati hidangan kuliner laut di warung apung Kuliner Bakauheni.
 Sadide yang juga menjadi pembina nelayan setempat mengaku masih akan terus dilakukan penataan di kawasan tersebut karena sesuai dengan arahan dari Dinas Pariwisata Provinsi Lampung, kawasan wisata kuliner di Dermaga Muara Piluk terintegrasi dengan lokasi wisata Menara Siger. Potensi tersebut terus dikembangkan meski sebagian nelayan masih melakukan penataan secara swadaya diantaranya membangun sejumlah warung kuliner dengan sistem penataan swadaya. Ke depan Sadide berharap ada upaya penataan secara khusus agar warung warung kuliner terapung bisa diperbanyak dan ditata sebab nuansa makan yang berbeda menjadi daya tarik bagi pengunjung.
“Sebagian pengunjung senang makan di sini karena tenang, bisa menikmati suasana pantai sambil melihat aktivitas di laut tanpa ada suara bising kendaraan,” ungkap Sadide.
Selain penataan, penyediaan bahan baku untuk mendukung kuliner berbahan ikan di wilayah tersebut juga dilakukan dengan memberdayakan nelayan setempat. Sebagian besar isteri nelayan yang tinggal di wilayah kampung nelayan Muara Piluk sebagian telah mendapatkan pelatihan untuk pengembangan wisata kuliner di antaranya alat pengolah ikan menjadi bakso ikan, alat pemanggang ikan serta berbagai alat yang bisa dipergunakan untuk mendukung sektor wisata kuliner.
Sadide juga menambahkan dalam musim hasil tangkapan ikan yang sulit seperti saat ini ia mendorong kaum perempuan untuk bisa melakukan pengolahan hasil laut menjadi makanan tradisional yang memiliki nilai jual tinggi diantaranya kerupuk ikan serta hasil olahan lain. Penataan dermaga denga menambah tempat tambat ikan semakin memberi ruang bagi masyarakat nelayan untuk meningkatkan perekonomian. Jalan-jalan setapak di kampung nelayan yang selama ini hanya dibikin paving saat ini menurut Sadide bahkan telah dibeton untuk memudahkan masyarakat dan area dermaga yang dekat dengan tempat pelelangan ikan dan pasar ikan higienis bahkan bisa menjadi lokasi parkir yang luas.
“Selain bisa menikmati sajian kuliner di warung warung apung yang berminat untuk mengelilingi pulau pulau kecil di antaranya Kandang Balak, Kandang Lunik, Pulau Rimau juga bisa diantar oleh nelayan,” ungkap Sadide.
Salah satu pemilik warung terapung di dermaga Muara Piluk, Manohara (34) mengaku sangat mengapresiasi perkembangan kawasan kampung nelayan Muara Piluk yang semula kumuh. Selain kumuh penataan yang kurang membuat kesan kampung nelayan tidak bersih. Namun saat Sadide pernah menjabat sebagai kepala Desa Bakauheni hingga menjadi anggota DPRD berbagai penataan termasuk perhatian bagi pedagang kecil seperti dirinya membuat kawasan kampung nelayan tersebut menjadi hidup.
“Sebagian pengunjung memesan ikan bakar, ikan goreng yang masih segar karena lokasi warung berada di dekat tempat pelelangan ikan yang selalu menyiapkan ikan segar,”terang Manohara.
Ia berharap pemerintah desa, kabupaten bisa terus melakukan promosi dan memberi perhatian dalam bentuk penataan tempat yang lebih baik lagi dengan melakukan penambahan tanggul penahan gelombang. Warung-warung yang saat ini masih terbilang sederhana ke depan menurut Manohara akan ditata lebih bagus baik dari segi penampilan maupun fasilitas pendukung yang lain agar pengunjung menjadi lebih nyaman.
Pengembangan wisata kuliner Bakauheni.
 Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto; Henk Widi

Lihat juga...