Bisnis Perlengkapan Alat Berat di Lampung Bergairah

RABU 21 DESEMBER 2016

LAMPUNG—Menggeliatnya berbagai proyek pembangunan infrastruktur jalan, perumahan, irigasi, pembukaan lahan baru serta aktivitas yang menggunakan alat berat berdampak positif bagi pelaku bisnis yang berkaitan dengan alat berat. Ketika dikunjungi Cendana News, salah satu pelaku bisnis yang menekuni usaha tersebut Joni (59)  terlihat energik untuk melayani para pelanggan yang ingin melakukan pembelian alat berat second (bekas) serta mencari onderdil untuk keperluan alat berat seperti excavator, buldozer serta alat berat lain. 
Alat berat bekas yang sedang diperbaiki.
Joni mengakui banyaknya proyek yang ada di Lampung membuat bisnisnya yang ada di seputaran Jalan Sutami, Panjang Bandarlampung ikut menangguk keuntungan. Selain itu banyaknya investor untuk pengembangan pabrik, maupun penggunaan untuk pembangunan jalan masih memerlukan alat berat untuk proses pembukaan lahan, pembersihan lahan (land clearing).
Joni yang mulai melakukan bisnis jual beli alat berat bekas, perantara jual beli alat berat baru tersebut mengaku memulai bisnis tersebut berawal dari dirinya yang pernah menjadi operator alat berat di pembukaan lahan perkebunan sawit di Kalimantan. Ia mengenang kala itu usianya masih 30-an tahun dan mulai menjadi operator alat berat jenis escavator. Sebagai pengemudi mengharuskannya mengetahui seluk beluk alat tersebut bahkan saat mengalami persoalan, rusak serta harus mengganti dengan alat yang baru. Proses penggantian tersebut terkadang harus menunggu lama akibat tidak tersedianya spare part (suku cadang) dan diambil di Jakarta dan kita besar lain dan membutuhkan waktu lama.
“Sepulang dari proyek tersebut saya kembali ke Lampung dan mulai mencoba peruntungan dengan membuka usaha reparasi alat berat, saya beli alat berat bekas lalu saya jual setelah proses rekondisi tentunya dengan performa sempurna sehingga konsumen tidak kecewa,”ungkap Joni saat ditemui Cendana News di tempat usaha yang sekaligus bengkel alat berat miliknya di Panjang, rabu (21/12/2016).
Ia mengaku pilihan menekuni perbaikan, penjualan part alat berat diakuinya mulai kembali menggeliat dalam kurun waktu tiga tahun sejak tahun 2013-2016 sebab di wilayah Lampung mulai banyak proyek pembangunan. Ia menyebut diantaranya proyek reklamasi pantai yang membutuhkan alat berat cukup banyak yang semula dalam kondisi baru diantaranya mengalami kerusakan. Meski sebagian masih bisa dioperasikan namun kebutuhan akan reparasi bisa dikerjakan oleh sekitar 3 karyawan yang memiliki keahlian mekanik dalam perbaikan alat berat. Selain itu ia juga menyediakan part bekas masih layak pakai dengan kondisi prima meski di bengkel yang dimilikinya ia juga menyediakan part alat berat baru.
Infrastrukur dan konstruksi menurut Joni memiliki dampak positif bagi bisnis yang ditekuninya. Selain dalam jangka pendek menyediakan peralatan namun ia juga terkadang membeli alat berat bekas untuk dijual kembali bagi penggunaan skala kecil dengan harga beli yang cukup terjangkau oleh pengusaha kecil. Sebab menurutnya alat berat baru terutama buatan Jepang, Korea, Amerika memiliki harga yang cukup mahal. Alat berat dengan merk terkenal seperti Caterpillar, Komatsu, Hyundai serta merk alat berat lain bahkan bisa dipatok dengan harga kisaran Rp3Milyar. Sementara alat berat yang telah direkondisi dengan harga lebih miring tetap diminati oleh pengusaha atau pemborong yang ingin memiliki alat berat.
“Saat ini banyak pemborong yang menginvestasikan modalnya dengan membeli alat berat karena mereka memiliki hitung hitungan rugi jika menyewa dan dengan alat berat bekas masih bisa digunakan untuk usaha,”terang Joni.
Harga alat berat jenis escavator bekas yang barunya mencapai harga milyaran bahkan dijualnya dengan harga hanya ratusan juta rupiah. Meski menjual dengan cara bekas, namun ia tetap memberi jaminan jika terdapat kerusakan atau masalah dengan menyediakan mekanik mumpuni yang akan datang ke lokasi proyek sehingga konsumen benar benar memiliki kepercayaan kepadanya. Ia bahkan mengaku proyek yang berhasil salah satu faktor pendukungnya adalah kondisi alat berat yang stabil, baik dan tidak mengalami masalah alias prima. Jika alat bekas yang dijualnya dalam kondisi jelek otomatis proyek terhambat, konsumen tak akan kembali membeli kepadanya atau bahkan sama sekali tidak menggunakan jasanya.
Pemborong atau kontraktor biasanya membeli alat berat untuk pengerjaan pembuatan tambak udang, pengerjaan jalan baru serta infrastruktur lain yang banyak terdapat di Lampung. Ia juga mengaku dengan keberadaan proyek pembangunan Jalan Tol trans Sumatera (JTTS) masih tidak memberi dampak signifikan bagi bisnis yang dimilikinya karena proyek JTTS sebagian besar dikerjakan dengan menunjuk sub kontraktor penyedia alat berat dalam jumlah banyak diantaranya escavator,truk serta alat berat lain dalam jumlah banyak.
“Meski demikian kami masih dipakai dengan menyediakan jasa reparasi yang dilakukan oleh mekanik dengan sistem dipanggil untuk perbaikan, untuk pembelian alat berat kami tidak pernah melayani,”ungkap Joni.
Bagian alat berat yang dijualnya dari mulai bagian dalam hingga rangka, termasuk proses pengecatan ulang hingga alat berat bisa dijual menurutnya dipatok dengan harga Rp5 juta ke atas atau alat alat lain dengan harga ratusan ribu. Meski masih bisa digunakan sebagian alat yang terbuat dari besi dan baja tersebut ungkap Joni masih bisa menghasilkan uang dengan menjualnya ke tukang besi dengan sistem borongan yang dijualnya setelah besi terkumpul dalam jumlah banyak mencapai beberapa ton dan bisa memberinya keuntungan hingga puluhan juta rupiah.
Fokus pada penjualan alat berat jenis escavator, Joni mengaku juga membeli barang barang bekas dari perusahaan besar untuk direkondisi di antaranya hydrolik crane, rood mesin, crauler crane serta alat berat lainnya. Pembelian tersebut dilakukan biasanya untuk dimanfaatkan onderdil yang masih bisa dimanfaatkan dan dipadukan dengan mesin lain (kanibal) dengan hasil alat berat yang masih memiliki perfoma cukup bagus. Sisanya menjadi barang rongsokan yang dijual terpisah.
Salah satu konsumen, Ahmad (40) kontraktor yang sering memborong proyek pembuatan jalan di Lampung mengaku sengaja mencari alat untuk proyek pembangunan jalan. Ia mengaku meski dengan harga yang relatif murah dibanding membeli baru namun ia yakin pembelian alat berat sebagai investasi bisa mendukung usahanya dalam proyek pembuatan jalan yang merupakan hasil lelang dari pemerintah.
“Sebagai kontraktor kan kami harus pintar melakukan investasi alat dan mengerjakan proyek tepat waktu, sebetulnya ada beberapa unit alat berat baru, namun alat berat bekas juga perlu sebagai pembuka pengerjaan proyek terutama di medan yang sulit,”ungkap Ahmad.
Membeli alat berat bekas bukan tanpa resiko, namun dengan modal kepercayaan antar penjual dan pembeli dengan jaminan perbaikan sat rusak atau bermasalah membuat hubungan bisnis saling menguntungkan masih bisa berjalan. Ia mengaku hubungan bisnis dengan Joni si pemilik bisnis alat berat bekas sudah berlangsung lama bahkan saat kebutuhan akan alat mendesak dan dirinya belum memiliki uang bisa dicicil.
Joni, Ahmad yang melakukan usaha dan investasi dengan nilai yang tidak kecil tersebut mengaku selama proyek pembangunan masih terus berjalan maka kebutuhan akan alat berat masih akan bergairah.  Beberapa proyek di Lampung untuk pembangunan jalan tol, pelabuhan, jalan serta infrastruktur lain akan memberi penyumbang pemasukan bagi usaha yang ditekuni oleh Joni dalam bidang alat berat. Selain membeli dari perusahaan Joni mengaku untuk memperoleh alat berat bekas kerap mengikuti lelang dari perusahaan atau pemerintah yang hendak menjual aset yang dimilikinya, khususnya alat berat dan setelah diperoleh direkondisi dan dijual kembali untuk memperoleh keuntungan.
Joni (baju putih lengan panjang) mengajak calon pembeli mengecek alat berat yang akan dibeli.
 Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi

Lihat juga...