Besiru, Tradisi Gotong-royong Petani di Lombok yang Masih Lestari Hingga Kini

SABTU, 10 DESEMBER 2016
LOMBOK — Salah satu kelebihan masyarakat pedesaan dibandingkan dengan masyarakat perkotaan adalah sifatnya yang heterogen dan pergaulan serta interaksi sosial yang dibangun di antara sesama masyarakat masih senantiasa memegang teguh prinsip kekeluargaan dan gotong-royong.
Sejumlah petani  sedang besiru menanam padi.
Demikian halnya dengan hampir sebagian besar masyarakat pedesaan di Pulau Lombok. Sifat kekeluargaan dan gotong-royong tersebut tidak saja diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, tapi juga dipraktikkan selama menjalani profesi sebagai petani.
Tradisi besiru (saling bantu) mengolah sawah maupun menanam padi hingga masa panen tiba, adalah tradisi yang masih tetap ada dan diwariskan secara turun-temurun di sebagian masyarakat pedesaan Pulau Lombok hingga sekarang.
Setiap musim tanam padi tiba, petani satu dengan petani lain, tua muda, laki-laki dan perempun, bahu-membahu saling besiru mengerjakan lahan pertanian yang dimiliki dari pagi hingga siang. Bahkan, tidak jarang hingga sore hari.
“Menggarap lahan pertanian dengan sistim besiru memang sudah diajarkan nenek-moyang kami sejak dulu dan diwariskan hingga sekarang,” kata Nuraini, petani Desa Banyu Urip, Kabupaten Lombok Tengah kepada Cendana News, Sabtu (10/12/2016).
Menurutnya, dengan besiru pekerjaan berat bisa jadi lebih ringan. Dalam tradisi besiru biasanya jumlah warga yang ikut besiru bervariasi, mulai belasan hingga puluhan orang, tergantung seberapa besar luas lahan dan beban pekerjaan pengolahan lahan pertanian.
Untuk pekerjaan pengolahan lahan pertanian, seperti mencangkul dan mempertinggi pematang sawah, biasanya lebih banyak melibatkan petani laki-laki. Sementara, bagian menanam biasanya banyak dilakukan kaum perempuan.
Nurhasanah, petani lain mengatakan, apalagi saat musim hujan seperti sekarang, besiru sudah pasti dilakukan warga, supaya pekerjaan di sawah yang dimiliki pada gilirannya bisa lebih ringan dan cepat diselesaikan. Tidak ada warga yang mau diupah, semua warga lebih memilih besiru.
Lebih – lebih saat musim hujan seperti sekarang, kesibukan petani pedesaan demikian tinggi. Berangkat pagi, pulang sore, begitu seterusnya hingga musim panen tiba.
“Karenanya, kalau mau bertamu pada masyarakat pedesaan saat musim hujan dan tanam seperti sekarang, sulit akan ditemukan di rumah pada siang hari, kecuali pada malam hari,” pungkasnya.

Jurnalis : Turmuzi / Editor : Koko Triarko / Foto : Turmuzi

Lihat juga...