Berkah di Balik Musibah, Pedagang Es Krim Raup Untung di Lokasi Pengungsian Korban Gempa Aceh

SABTU, 10 DESEMBER 2016
ACEH — Musibah atau bencana, ternyata tak hanya mendatangkan kesedihan atau kepedihan yang mendalam. Tak jarang bagi sebagian orang, bencana menjadi peluang menghadirkan keberkahan dan keuntungan tersendiri. Salah satunya, Ibrahim. Pria ini mendapat berkah dan meraup keuntungan usai musibah gempa melanda kawasan Pidie Jaya, Aceh, pada Rabu lalu, dengan menjajakan es krim tradisional di lokasi pengungsian.
Ibrahim, pedagang es krim raup untung di pengungsian korban gempa di Aceh.
Mengenakan jersey sepak bola berwarna oranye dan topi berwarna hitam bermotif bintang-bintang, Ibrahim cekatan melayani sejumlah warga, mulai dari anak-anak hingga dewasa korban gempa Pidie Jaya, Aceh. Dengan menggunakan sepeda motor, es krim yang dijualnya hanya dalam satu rasa, yaitu rasa durian, namun dengan harga bervariasi.
“Rasa durian, harganya murah, dua-tiga ribu rupiah, yang tiga ribu rupiah ditambahkan roti di es krimnya. Kalau mau beli lebih dari harga itu boleh,” ujar Ibrahim, kepada Cendana News, saat ditemui di Posko Ppengungsian Masjid Al Takarruf, Trienggadeng, Pidie Jaya, Sabtu (10/12/2016).
Ibrahim mengatakan, ia menjajakan es krimnya dari satu lokasi pengungsian ke lokasi pengungsian lainnya di kabupaten yang dilanda gempa 6,5 SR tersebut. Katanya, ia melakukannya sejak Jumat (9/12/2016) atau dua hari setelah gempa terjadi.
Ibrahim sendiri bukan merupakan warga Pidie Jaya. Ia datang dari kabupaten tetangga, yaitu dari Sigli, Kabupaten Pidie. Setiap hari ia menempuh perjalanan sekitar satu jam untuk berjualan di posko-posko pengungsian yang ada di Pidie Jaya tersebut.
Dari penjualan di tempat-tempat pengungsian itu, es krim yang dijual Ibrahim selalu laku habis setiap harinya. Ia pun mengaku memperoleh keuntungan Rp. 200-300.000 lebih banyak dari hari biasanya.
“Alhamdulillah setiap hari (dagangan es krimnya) habis, bisa dapat Rp.700-800.000 sehari, kalau hari biasanya kadang cuma Rp. 500-600.000. Modalnya sekitaran Rp. 400.000,” kata Ibrahim semringah.
Meski memperoleh keberkahan dari hasil dagangannya, pria berusia 27 tahun itu mengaku sama sekali tidak bermaksud mengambil keuntungan dari musibah yang sedang diderita oleh saudaranya itu. Menurutnya, apa yang dilakukannya adalah merupakan bagian dari membantu para pengungsi.
“Es krimnya saya jual lebih murah, hitung-hitung sambil meringankan beban mereka (pengungsi). Lagi pula, setidaknya dengan adanya saya jualan es krim di sini, bisa sedikit menghibur anak-anak biar mereka lupa pada gempanya,” pungkas Ibrahim.

Jurnalis : Zulfikar Husein / Editor : Koko Triarko / Foto : Zulfikar Husein

Lihat juga...