SELASA, 27 DESEMBER 2016
SOLO — Peresmian sekaligus peluncuran Terminal Tirtonadi sebagai terminal yang terintegrasi dengan moda transportasi kian memudahkan bagi siapa saja yang ingin singgah di Kota Solo, Jawa Tengah. Selain mempunyai fasilitas yang lengkap dan nyaman, ada beberapa hal yang harus diketahui dari terminal yang diproyeksikan sebagai percontohan nasional tersebut.
![]() |
| Dirjen Perhubungan Darat, Pudji Hartanto, menyatakan, secara keseluruhan desain terminal di Solo menelan anggaran sebesar Rp 186 milliar. |
Dirjen Perhubungan Darat, Pudji Hartanto, menyebutkan, secara keseluruhan desain terminal yang pembangunannya menelan anggaran sebesar Rp 186 milliar itu terbagi menjadi 4 (empat) zona. Di antaranya zona satu, yang disebut sebagai zona yang diperuntukkan bagi penumpang yang sudah memiliki tiket.
“Zona dua adalah zona yang diperuntukkan bagi penumpang yang belum memiliki tiket atau bisa dikatakan sebagai zona campuran. Zona ini sudah kita bedakan dengan zona pertama,” ucapnya di sela-sela peresmian Terminal Tirtonadi, Selasa (27/12/16).
![]() |
| Desain terminal yang menelan anggaran Rp 186 miliar. |
Lebih lanjut Pudji menjelaskan, untuk zona tiga adalah zona perpindahan penumpang. Zona ini merupakan gabungan dari zona kedatangan maupun keberangkatan penumpang. Sedangkan zona ke empat adalah zona pengendapan kendaraan. “Ini sebagai tempat berhentinya bus, baik AKDP maupun AKAP,” terangnya.
Adanya 4 zona dalam Terminal Tirtonadi tersebut merupakan konsep layanan pelanggan seperti yang dilakukan untuk bandara maupun Stasiun Kereta Api. Untuk memudahkan pelayanan, Terminal Tirtonadi juga menerapkan sistem elektronik tiketing (e-tiket). “Di dalam terminal ini ada juga layanan untuk menukarkan uang atau money changer,” ungkapnya.
![]() |
| Sky bridge. |
Di terminal yang berdiri di lahan seluas 5 hektare ini juga memiliki fasilitas ramah bagi penyandang cacat atau difabel. Di setiap sudut ruang di terminal yang satu ini dilengkapi jalur kuning, yang ditujukan untuk akses tuna netra.
![]() |
| Jalur kuning untuk penyandang difabel. |
“Kita juga bangun sky bridge yang menghubungkan dengan Stasiun Solo Balapan. Jadi pengunjung akan semakin dimudahkan jika ingin berlanjut ke kota lain di Jawa Tengah atau Jawa Timur dan Jawa Barat dengan menggunakan kereta api,” pungkasnya.
Jurnalis: Harun Alrosid / Editor: Satmoko / Foto: Harun Alrosid


