Walur dan Talas Tanaman Ketahanan Pangan yang Mulai Ditinggalkan

MINGGU, 6 NOVEMBER 2016

LAMPUNG — Walur atau Amorphophallus paenifolius var.sylvestris merupakan tanaman yang berasal dari marga Amorphophallus yang termasuk dalam suku Araceae (talas talasan). Selain masih dianggap liar tanaman ini masih jarang dibudidayakan masyarakat sebagai tanaman pangan berbeda dengan tanaman jenis talas atau Colocasia esculenta yang masih banyak dibudidayakan masyarakat. Salah satu warga yang masih membudidayakan tanaman pangan tersebut diantaranya Sipon (66) yang menanam tanaman talas dan walur di pekarangan rumahnya. Tanaman talas talasan ini menurut Sipon sudah biasa dibudidayakan oleh keluarganya sebagai tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk ternak dan saat musim paceklik bisa dimakan.
Ia mengaku mengolah umbi walur atau sebagian suweg yang ditanamnya harus melalui penananganan khusus karena bagi yang tak mengetahui akan menyebabkan gatal. Selain dimanfaatkan untuk bahan pangan terkadang Sipon mengolah umbi walur menjadi tepung yang bisa dimanfaatkan untuk pembuatan kue setelah dikeringkan. Sementara saat musim tertentu umbi tanaman tersebut diolah menjadi kolak, bubur atau nasi tiwul dengan cara dikukus setelah dijemur. Sipon bahkan mengaku dari ratusan masyarakat yang ada di kampungnya, hanya dirinya yang membudidayakan tanaman ini meski untuk tanaman talas jenis lainnya banyak warga yang menanam.
“Secara kebetulan memang turun temurun saya diajari sejak kecil menanam tanaman ini ketika di Pulau Jawa dan saat merantau ke Sumatera ternyata banyak tanaman ini dan kami tanam di lahan pekarangan untuk bahan pangan,”ungkap Sipon saat ditemui Cendana News di pekarangan rumahnya, Minggu (6/11/2016).
Proses pemanenan tanaman walur miliknya pun cukup mudah ditandai dengan layu dan keringnya daun setelah berumur 2-3 tahun. Proses pemanenan dilakukan dengan membongkar umbi dari dalam tanah dengan mencabut atau menggunakan cangkul. Pemanenan biasanya dilakukan pada bulan Mei-Juli dan umbi bisa diolah dengan cara diawetkan menjadi irisan tipis yang bisa dimasak menyerupai nasi setelah dikeringkan dan disimpan dalam toples. Selain itu tak jarang ia mengolah umbi tersebut menjadi keripik dan dijadikan tepung yang bisa dijadikan bahan pembuatan kue.
Selain menanam tanaman jnis walur yang berupa umbi, ia mengaku menanam berbagai jenis talas diantaranya colocasia esculenta L.Schoott atau talas Bogor. Bedanya dengan kimpul jenis ini mempunyai daun yang berbentuk hati dengan ujung pelepah daunnya tertancap agak ke tengah helai daun sebelah bawah.  Selain itu ia juga menanam tanaman talas jenis Kimpul atau yang dikenal dengan Talas Belitung. Talas Belitung yang dikenal dengan Xanthosomas sagititifolium ini termasuk famili Areacea dan merupakan tumbuhan menahun yang mempunyai umbi batang maupun batang palsu yang sebenarnya merupakan tangkai daun. 
“Tanaman ini kan subur kala musim penghujan dan saat musim kemarau cenderung tidak muncul meski umbinya berada di dalam tanah dan akan bersemi saat musim hujan sehingga menjadi tabungan pangan saat musim kemarau,”ungkap Sipon yang menanam Talas selain di pekarangan rumah juga di sekitar tanggul sawah.
Selain dua jenis talas yang ia tanam untuk kebutuhan pangan tambahan, ia juga menanam talas padang atau Colocasia gigantea Hook F yang memiliki pohon lebih besar, bahkan bisa mencapai tinggi 2 meter. Sebagian besar dimanfaatkan daunnya untuk pakan ternak sementara umbi yang berukuran besar tidak enak dimakan dan hanya enak dimakan pada bagian umbi anakan (entit) yang sering diambil saat dalam jumlah banyak dan selanjutnya indukan masih bisa ditanam. Talas yang dipanen biasanya diolah dengan cara direbus bersama kacang atau jagung manis sebagai camilan yan dimasak saat sore hari. Jika memiliki waktu dan dalam acara khusus talas yang dipanen dimanfaatkan dalam pembuatan kue diantaranya onde onde dan juga bala bala.
Terkait masih adanya warga yang memanfaatkan pekarangan untuk pemanfaatan tanaman pangan, Kepala Desa Pasuruan, Kartini, mengaku sangat mendukung terutama dalam upaya peningkatan gizi keluarga dan juga sumber bahan pangan. Ia juga tetap menghimbau agar masyarakat tetap memanfaatkan pekarangan yang ada selain sebagai tempat untuk menanam tanaman pangan juga untuk menanam berbagai tanaman obat keluarga (Toga).
“Kita memang selalu sosialisasikan kepada masyarakat untuk tetap memanfaatkan lingkungan rumah bahkan pernah kita berikan bantuan polybag untuk menanam tanaman cabai, bawang dan tanaman sayur sebagai langkah mendukung perbaikan gizi keluarga,”ungkap Kartini.
Ia mengakui sebagian masyarakat sudah jarang membudidayakan tanaman talas, suweg atau walur karena masyarakat masih belum mengetahui manfaat tanaman pangan tersebut. Meski sebagian besar masyarakat telah mengkonsumsi padi, namun jenis tanaman umbi umbian tersebut masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan panganan pengganti atau pelengkap terutama saat musim kekeringan sehingga tanaman tersebut bisa digunakan untuk tanaman ketahanan pangan.


Jurnalis : Henk Widi / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Henk Widi 

Lihat juga...