MINGGU, 6 NOVEMBER 2016
PONOROGO — Salah satu hiburan rakyat khas Ponorogo, pertunjukan seni gajah-gajahan menjadi primadona kedua setelah reyog Ponorogo. Gajah-gajahan menawarkan pertunjukan dengan adanya gajah buatan yang didalamnya manusia serta ada seorang penari perempuan yang menaiki punggung gajah.

Selain penari dan gajah, juga terdapat penyanyi atau ‘sinden’ yang bernyanyi sambil berjalan mengelilingi desa diiringi dengan musik yang ditabuh diatas truk. Kali ini kesenian gajah-gajahan digelar di Desa Bancar, Kecamatan Bungkal, Ponorogo.
Salah satu warga, Bima Wibawa Sakti (18 tahun) menjelaskan meski dirinya sering melihat gajah-gajahan, hiburan rakyat ini tetap menarik untuk dilihat.

“Kalau reyog keliling desa kan hanya reog dan musik, kalau gajah-gajahan kan ada sinden, penari sama pengiring jadi ramai,” jelasnya kepada Cendana News, Minggu (6/11/2016).
Yang unik lainnya, juga terdapat sekumpulan bapak-bapak dan ibu-ibu yang menari sepanjang jalan sembari bertegur sapa dengan masyarakat yang melihat di jalan-jalan.
Warga lainnya, Nuraini (25 tahun) dengan semangat mengajak dua buah hatinya untuk melihat kesenian gajah-gajahan. Karena menurutnya, kesenian seperti ini perlu diperkenalkan sejak dini. Mengingat di negara lain tidak ada seni gajah-gajahan.
“Setahu saya ditempat lain tidak ada, asal suami saya dari Tulungagung tidak ada kesenian seperti ini cuma ada di Ponorogo,” cakapnya.

Hiburan rakyat ini berhasil membetot perhatian masyarakat, selain iring-iringan gajah juga beberapa pedagang kaki lima terlihat mendampingi disepanjang jalan.
Meski membuat kemacetan di jalan, pengguna jalan sepertinya memaklumi keadaan ini. Sesekali ada warga yang mengatur arus lalu lintas agar macet tidak terlalu panjang.
Jurnalis : Charolin Pebrianti / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Charolin Pebrianti