MINGGU, 6 NOVEMBER 2016
KUBU RAYA — Untuk mengenalkan perahu sampan tradisional, masyarakat di Desa Kuala Mandor A, Kecamatan Kuala Mandor B, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, punya cara tersendiri. Caranya adalah, masyarakat desa membawa anak-anaknya ke sebuah parit di depan rumahnya untuk mendayung. Hal itu dilakukan guna generasi baru mengenal sampan tradisional yang terbuat dari kayu.

“Setiap minggu saya bawa anak ke parit untuk mengajari belajar berdayung. Ini sangat berguna jika nanti ada banjir, mereka sudah tahu cara berdayung,” kata warga Desa Kuala Mandor A bernama Nusurulah (38), Minggu, 6 November 2016.
Dikatakan, belajar dayung atau mengayuh sampan tradisional dinilai penting. Mengingat, bencana banjir selalu menghantui desa itu setiap tahunnya. Ia bercerita, bahkan saat ini air sudah mulai menggenangi halaman perkarangan rumah setinggi setengah centi meter.
“Banjir mulai datang. Makanya kita persiapkan. Ini jaga-jaga saja. Jika nanti banjir besar,” ucapnya.
Dijelaskan, memberikan informasi baru pada anak-anak berusia 6 hingga 10 tahun belajar berdayung juga bermanfaat nantinya untuk menjadi atlet dayung. Itu tidak menutup kemungkinan, karena sudah ada beberapa warga yang ikut kejuaran dayung tingkat provinsi.

“Ada beberapa orang yang ikut kejuaran lomba dayung. Sekarang anaknya sudah kuliah di Jawa,” ujarnya.
Selain itu juga, ia melanjutkan mendayung sampan tradisional juga bermanfaat untuk menggerakan anggota badan, yakni tangan. Ia berujar, berdayung sampan juga memiliki nilai sejarah bagi warga desa.
“Dulukan ini sampan digunakan untuk bepergian ke kampung lainnya. Karenakan dulu mana ada jalan. Yang ada kan sungai kecil,” ucapnya.
Sampan tradisional, ia berkata juga digunakan untuk bepergian ke ladang yang jarak tempuhnya berjam-jam.
“Nah, dulu juga digunakan ke ladang. Bisa 4 sampai 6 jam ke ladang. Jarak ladang ke rumah jauh. Makanya sampan jadi andalan sampai sekarang,” ujarnya.
Jurnalis : Aceng Mukaram / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Aceng Mukaram